AS Akan Periksa Lingkar Dekat Obama atas Dugaan Pemalsuan Informasi Intelijen

5 Agustus 2025 10:31 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
AS Akan Periksa Lingkar Dekat Obama atas Dugaan Pemalsuan Informasi Intelijen
Jaksa Agung AS memerintahkan jaksa federal menyelidiki Obama atas tuduhan memalsukan informasi intelijen terkait keterlibatan Rusia dalam pemilu 2016.
kumparanNEWS
Barack Obama dan Joe Biden Foto: Reuters/Jonathan Ernst
zoom-in-whitePerbesar
Barack Obama dan Joe Biden Foto: Reuters/Jonathan Ernst
Jaksa Agung AS Pam Bondi memerintah jaksa federal untuk meluncurkan penyelidikan dewan juri agung atas tuduhan bahwa anggota Partai Demokrat di era pemerintahan Barack Obama memalsukan informasi intelijen terkait keterlibatan Rusia dalam pemilu 2016.
Dikutip dari Reuters, Selasa (5/8), Fox News yang mengutip surat dari Bondi dan seorang sumber melaporkan bahwa Bondi secara pribadi memerintahkan seorang jaksa federal yang tidak disebutkan namanya untuk memulai proses hukum terhadap para lingkar dekat Obama itu.
Jaksa itu diperkirakan akan menyerahkan bukti kepada dewan juri agung sebagai pertimbangan apakah Kementerian Kehakiman dapat melanjutkan pengusutan kasusnya. Namun, Kementerian Kehakiman menolak untuk memberikan komentar.
Terkait langkah ini, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan singkat di Truth Social.
"KEBENARAN akan selalu menang. Ini berita baik," kata Trump.
Trump Obama Foto: Carlos Barria/Reuters
Trump yang tak menyertakan bukti menuduh Obama melakukan pengkhianatan pada bulan lalu.
Ia menuduh Obama memimpin upaya yang mengaitkannya dengan Rusia dan merusak kampanye presidensialnya pada 2016 -- Trump memenangkan pemilu 2016, mengalahkan Hillary Clinton dari Demokrat.
Juru bicara Obama kemudian mengecam klaim Trump itu.
"Tuduhan aneh ini konyol dan merupakan upaya pengalihan perhatian yang lemah," kata juru bicara Obama.
Mantan Presiden Bill Clinton dan mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton tiba menjelang upacara pelantikan Donald Trump menjadi Presiden Amerika ke-47, Senin (20/1/2025). Foto: SHAWN THEW/Pool via REUTERS
Sementara, Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard melakukan deklasifikasi sebuah dokumen dan menyatakan informasi itu menunjukkan konspirasi pengkhianatan yang dilakukan pejabat pemerintahan Obama untuk melemahkan Trump pada pemilu 2016. Demokrat menyebut tuduhan itu palsu dan bermotif politik.
Dalam penilaian yang dilakukan komunitas intelijen AS yang dipublikasikan pada Januari 2017, disimpulkan bahwa Rusia yang menggunakan disinformasi media sosial, melakukan peretasan, hingga beternak akun bot berusaha merusak kampanye capres Hillary Clinton pada 2016 dan mendukung Trump yang pada akhirnya memenangkan pemilu.
Penilaian itu menentukan bahwa dampak aktual kemungkinan terbatas dan tidak menunjukkan bukti bahwa upaya Rusia benar-benar mengubah hasil pemungutan suara pemilu.
Rusia pun membantah berupaya mencampuri pemilu AS.
Trending Now