Babad Diponegoro, Perang Jawa, dan Ketulusan Sang Pangeran

28 Juli 2025 12:43 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Babad Diponegoro, Perang Jawa, dan Ketulusan Sang Pangeran
Salah satu momen paling ikonik dari Perang Jawa adalah saat penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda. Yang teragung, ia juga dimonumentalkan dalam sebuah lukisan karya Raden Saleh.
kumparanNEWS
Peter Carey. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Peter Carey. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Salah satu momen paling ikonik dari Perang Jawa adalah saat penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda. Yang teragung, ia juga dimonumentalkan dalam sebuah lukisan karya Raden Saleh.
Soal ini, lengkap diceritakan di Babda Diponeegoro.
"Kami menceritakan Babat Diponegoro di depan pelukis kemudian masing masing pelukis menangkap satu momen kemudian dituangkan di atas kanvas," kata keturunan ke-7 Pangeran Diponegoro, Roni Sadewo, dalam diskusi di Perpustakaan Nasional, dikutip Senin (28/7).
Para pelukis itu dibebaskan untuk membuat karyanya. Namun digambarkan, Pangeran Diponegoro adalah sosok yang tulus dalam membela kebenaran.
"Saya bisa menyimpulkan bahwa Pangeran Diponegoro itu orang yang teguh memegang prinsip kejujuran. Tegas, berani, bijaksana," kata Roni.
Sementara itu sejarawan asal Inggris, Peter Carey, yang menyunting Babad Diponegoro dan sketsa perang Jawa mengatakan, Babad Diponegoro berisi pengetahuan yang ditulis khusus oleh Sang Pangeran.
Itu ditulis untuk keturunannya yang lahir selama masa pengasingan di Manado dan Makassar.
"Semua pengetahuan yang dimiliki Diponegoro mengenai legenda, sejarah, warisan, dan spiritual dari Jawa diejawantahkan di dalam buku yang tebal ini," kata Peter Carey.
"Dalam terbitan buku yang terdiri dari 1.400 halaman dan dalam tulisan 1.151 halaman folio, semua ditulis sendiri oleh Sang Pangeran selama sembilan bulan antara Mei 1831 sampai Februari 1832," tutur Peter yang juga menulis 'Kuasa Ramalan' itu.
Ilustrasi Pangeran Diponegoro. Foto: Shutterstock
Perjuangan Diponegoro dikisahkan sebagai pemimpin yang bukan cuma melawan Belanda pimpinan Jenderal De Cock. Ia juga merakyat, membantu ibu hamil, warga kelaparan, dan petani kesulitan.
"Ketika Pangeran Diponegoro itu ditawari kalau kamu hanya ingin menjadi raja, silakan pilih tapi jangan Solo jangan Jogja karena sudah ada yang punya. Masih ada Karang Kobar, masih ada Karimun, masih ada Surabaya. Kamu tinggal pilih mau yang mana kemudian," kata Prof. Dr. Oman Fathurahman, pakar filologi UIN Jakarta.
"Pangeran Diponegoro menjawab, saya hanya ingin membantu rakyat yang kesulitan," sambungnya.
Sementara itu Sekretaris Utama Perpusnas Joko Santoso di Jakarta, Rabu, menyampaikan bahwa Babad Diponegoro tidak hanya sekadar catatan sejarah di masa lalu, tetapi sebuah karya yang mencerminkan pemikiran, pandangan dunia.
"Babad Diponegoro mengisahkan asal-usul Sang Pangeran, latar belakang keluarga, serta peristiwa-peristiwa penting yang membentuk kehidupannya, termasuk ketidakpuasannya terhadap pemerintahan kolonial Belanda dan keputusan untuk melancarkan perlawanan," kata Joko.
Diskusi 200 Perang Jawa di Perpusnas. Foto: Wisnu Prasetiyo/kumparan
Trending Now