Bacaan Favorit yang Menginspirasi Pangeran Diponegoro
28 Juli 2025 11:49 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Bacaan Favorit yang Menginspirasi Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro bukan hanya seorang yang ahli perang. Bahkan menurut sang keturunan ke-7, Roni Sadewo, sang pangeran tak kuat melihat darah.kumparanNEWS

Pangeran Diponegoro bukan hanya seorang yang ahli perang. Bahkan menurut keturunan ke-7, Roni Sadewo, sang pangeran tak kuat melihat darah.
"Pangeran Diponegoro itu tak kuat melihat darah. Kalau bisa sesuatu tak ditempuh dengan cara perang. Dia seorang sufi yang ingin selalu menyelesaikan sesuatu dengan cara bermartabat," kata Roni dalam diskusi di Perpusnas, dikutip Senin (28/7).
Pangeran Diponegoro, sebelum perang Jawa pecah pada 1825, lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai pemimpin buat warganya. Berkeliling melihat kesulitan petani, membantu yang kelaparan.
Sisanya, Pangeran Diponegoro lebih banyak menghabiskan waktu di kamar sendirian. Membaca sejumlah bacaan favoritnya.
Salah satu yang menjadi favorit Pangeran Diponegoro adalah Tuhfat Al Mursala.
Karena salah satu literatur yang menjadi bacaan favorit Sang Pangeran dan membentuk karakter beliau itu.
"Satu buah karya yang berjudul Tufat Al Mursala karangan seorang sufi besar dari Gujarat Al Burhan Puri. Wafatnya 1620. Dan isi ajarannya adalah ini martabat," kata Pakar Filologi UIN Jakarta Prof Oman Faturrahman.
Ia menambahkan, untuk mereka yang tidak pernah di pesantren, teks Tuhfah ini meski tipis, tetapi banyak istilah teknis yang sulit dipahami. Ilmu yang diajarkannya adalah soal tasawuf.
"Bahkan mereka yang belajar ilmu tasawuf, bila tidak membaca pengetahuan yang dituangkan Ibnu Arobi dalam al-FutuhΓ’tul Makkiyah, atau pemikiran murid-muridnya, akan kesulitan memahami istilah-istilah teknis itu."
Diponegoro juga mempelajari al-Muharrar-nya Imam Ar-Rafiβi dan Lubab al-Fiqh karya al-Mahamili (w. 415 H/1024 M).
Ketika pada akhirnya bergerilya, Diponegoro mengajarkan Taqrib dan juga kitab politik At-Tibr al-Masbuk fi Nasihatil al-Muluk karya Imam al-Ghazali, kepada para bangsawan pendukungnya.
Hal itulah yang kemudian membuat Pangeran Diponegoro menjadi sosok yang kuat. Dalam pemikiran, lobi, hingga perang terukur melawan Belanda.
"Hal lain yang penting refleksi 200 tahun ini adalah bahwasanya benar di dalam perang Jawa ini mungkin pihak kolonial menang secara militer tetapi bangsa Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro menang secara prinsip," tutur Oman.
