Bakti Lingkungan Djarum Foundation

Bahu-membahu Para Penjaga Bumi Lindungi Tanah Kelahiran

25 September 2025 13:19 WIB
·
waktu baca 17 menit
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bahu-membahu Para Penjaga Bumi Lindungi Tanah Kelahiran
Inilah orang-orang "biasa" dengan tekad luar biasa. Ketekunan mereka merawat lingkungan dikombinasikan dengan upaya menjaga perut kenyang terisi. Hasilnya: alam resik, dompet tak kempis. #kumparanplus
kumparanNEWS
Di mana bumi dipijak, di situ alam dijunjung. Ini kisah tentang orang-orang “biasa” dengan tekad luar biasa. Bakti mereka pada negeri mewujud dalam ketekunan merawat lingkungan sekaligus menjaga perut kenyang terisi. Di tanah mereka, alam hijau-resik, dompet tak kempis.
***
Namanya Narko—Wijanarko lengkapnya. Ia anak gunung. Lahir dan besar di Dukuh Semliro, Rahtawu—desa yang terletak di lereng Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah. Tinggal di ketinggian 700–1.627 meter di atas permukaan laut, Narko menjadikan gunung sebagai tempatnya bertumbuh, bermain, sekaligus berkarya. Gunung adalah sumber penghidupannya.
Ia merawat gunung, dan gunung mengembalikan berlimpah padanya. Namun, dulu tak begitu. Kebanggaan sebagai anak gunung tak muncul begitu saja. Tidak pada masa Narko bekerja serabutan tanpa juntrungan—kadang jadi kuli bangunan, kadang jadi tukang ambil batu di kali.
Saking tak jelas hidupnya, Narko sempat berniat mengadu nasib di luar desa, bahkan kalau perlu ke luar negeri, demi meraup cuan. Kebetulan ada agen penyalur tenaga kerja di desanya yang biasa menawari warga bekerja di luar daerah, entah sebagai transmigran di luar pulau atau tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.
“Kerja ini, itu, ini, itu, tapi uangnya habis buat nongkrong. Jadi saya tertarik sama omongan teman-teman untuk cari kerja di luar daerah, luar kota, luar negeri. Apalagi katanya hasilnya menggiurkan,” ujar Narko kepada kumparan di halaman belakang rumahnya yang menghadap bentangan megah Gunung Muria, Minggu (10/8).
Wijanarko, petani kopi Rahtawu, Kudus, di pekarangan belakang rumahnya. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Bimbang, Narko terus menimbang-nimbang. Yang paling memberati pikirannya adalah kondisi kakek dan neneknya yang selama ini hidup bersamanya. Ia tak tega meninggalkan mereka.
“Kalau saya pergi, siapa yang urusi mereka? Waktu itu kakek juga dagang kambing, sapi. Nanti yang ambil rumput siapa [kalau saya nggak ada]? Waduh, kasihan,” tutur Narko yang bapaknya meninggal saat ia masih kecil, dan ibunya menjadi TKW setelahnya.
Keraguan mengental ketika ia melihat teman-temannya pulang dari rantau dengan isi dompet tak setebal yang ia kira. Narko pun berhitung untung-rugi. Jika ia kerja ke luar negeri, ia harus punya modal paling tidak Rp 60–80 juta untuk berangkat ke negara-negara Asia Timur seperti Taiwan dan Jepang.
Kalau tidak punya uang tapi tetap ingin berangkat, jatuhnya bakal berutang. Nantinya, ia punya dua utang yang harus dibayar: 1) utang untuk modal berangkat; dan 2) utang kepada agen penyalur untuk biaya jasa penempatan kerja—yang dibayar lewat potongan gaji tiap bulan.
“Belum lagi biaya kos sebulan bisa sampai Rp 5 juta. Kalau gaji per bulan Rp 12 juta lalu dipotong untuk bayar utang, uang kos, uang makan, lah apa bisa nyisihin [untuk tabungan]?” ucap Narko.
Ia pun memutuskan, “Mending saya kerja di sini, nggak usah keluar desa.”
Menjemur biji kopi di Desa Rahtawu. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Dari Bencana Jadi Berkah Berkat Kopi Rahtawu

Narko memutar otak. Ia bertekad mengikuti jejak keluarganya: bertani. Ia mencari tanaman yang nilai ekonominya cukup tinggi untuk menopang hidupnya. Sebetulnya, sejak di bangku sekolah, Narko sudah familier dengan kegiatan bertani dan berkebun.
“Saya ikut menanam bersama kakek. Saya kan punya lahan sendiri dari orang tua, jadi digarap dan diolah sendiri pas lulus sekolah, sekitar tahun 2008. Setelah itu, dari tahun ke tahun ada pendapatan dari kebun sendiri. Dan waktu ada warga lain jual tanah, saya beli untuk tambah investasi,” kata Narko.
Ia punya lahan di lima titik, dengan luas masing-masing sekitar 2.000–5.000 meter persegi. Narko lalu mencoba bertanam kopi; berbeda dengan kebanyakan petani Semliro yang menanam jagung dan padi. Kala itu, kopi bukan pilihan karena teknologi tanamnya belum mereka kuasai.
Petani Semliro dulu belum mengenal sistem stek atau sambung pucuk. Stek adalah teknik memperbanyak tanaman dengan menumbuhkan akar pada bagian tanaman yang dipotong. Sementara sambung pucuk ialah teknik menggabungkan batang atas dan batang bawah dari tanaman yang berbeda untuk menciptakan tanaman baru dengan sifat gabungan dari kedua tanaman sebelumnya.
Tanpa sistem tersebut, tanaman kopi tumbuh terlalu tinggi sehingga sulit dipanen. Untuk memetik buah kopi, petani harus memanjat batangnya lebih dulu. Alhasil, ujar Narko, “Satu hari hanya dapat satu karung [buah kopi].” Pendapatan petani kopi pun seret.
Bertani kopi di Rahtawu. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Dengan kondisi tersebut, rata-rata petani Rahtawu pada masa itu memilih bertanam jagung dan padi yang lebih cepat menghasilkan.
“Padi dan jagung itu jarak beberapa bulan sudah panen, sedangkan kopi setelah satu tahun baru panen. Tentu mereka cari yang lebih cepat panen untuk mendapatkan uang,” jelas Narko.
Masalahnya, bertanam jagung mendatangkan risiko besar bagi desa. Musababnya, jagung harus mendapat sinar matahari berlimpah untuk tumbuh. Alhasil, pohon-pohon lain ditebang agar tak menghalangi sinar matahari. Akibatnya, lahan sangat kering karena pohon-pohon tinggi habis semua.
“Setiap tahun, waktu musim hujan, pasti ada bencana—longsor, banjir bandang. Waktu musim kemarau, sungai hampir kering. Akan begitu terus kalau tetap tanam jagung,” ujar Narko.
Maret 2006, misalnya, banjir bandang dari luapan Kali Gelis yang membelah Desa Rahtawu menyebabkan Dukuh Semliro terisolasi. Kemudian pertengahan Februari 2014, banjir dan longsor melanda desa-desa di lereng Gunung Muria.
Longsor di Desa Rahtawu. Foto: ANTARA/HO-BPBD Kudus
Bencana demi bencana meresahkan warga desa. Mereka memikirkan cara menghindari bencana. Pada saat yang sama, mereka juga memerlukan pendapatan lebih besar. Saat itulah paman Narko, Wahyu Ribowo, belajar teknologi stek dari desa-desa tetangga sampai ke Pati di timur Rahtawu. Ia lalu menerapkan stek ke tanaman kopi. Hasilnya bagus dan mudah dipanen.
Stek kopi mengubah Rahtawu. Banyak penduduk desa yang semula merantau, lantas pulang kampung dan bertani kopi. Narko pun makin mantap bertanam kopi. Ia belajar dari para petani Sumatera yang panennya melimpah.
“Saya gabung ke grup WA orang Sumatera. Di situ ada dosen yang ngajari. Saya simak terus sambil praktik di kebun. Kalau nggak coba, nggak akan tahu hasilnya. Awalnya saya terapkan di sebagian lahan, nggak langsung semua. Kemudian hasil panennya saya bandingkan antara yang lama dan baru. Ternyata hasilnya bagus banget. Ya sudah, saya lanjutkan di semua lahan,” cerita Narko antusias.
Kini, Narko seperti mendapat bonus kombo: keuntungan lebih besar dan lingkungan lebih hijau.
Memeriksa kualitas buah kopi yang hendak dipanen. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Narko dan para petani Rahtawu menanam kopi sekaligus melakukan konservasi—merawat alam untuk mencegah kerusakan lingkungan. Narko menjelaskan, akar kopi sangat kuat untuk menahan tanah. Kopi juga tumbuh optimal bila memiliki tanaman peneduh di sekitarnya seperti pohon alpukat, durian, jeruk, petai, dan lain-lain.
Itu sebabnya Narko menggunakan sistem tumpang sari—menanam sejumlah tanaman berbeda secara bersamaan di lahannya. Selain sebagai pohon peneduh kopi, tanaman-tanaman itu punya masa panen berbeda-beda sehingga lahannya produktif, hasil panennya lebih banyak, dan pendapatannya meningkat. Tak kalah penting, semua pohon itu menghijaukan lahan.
Sekarang, 90% penduduk Desa Rahtawu bertani kopi. Malahan, 100% warga Dukuh Semliro memiliki kebun kopi. Mereka yang dulunya bertani jagung telah sepenuhnya beralih ke kopi. Hutan di Rahtawu pun tak ada yang terlihat gundul seperti dahulu.
Hutan di lereng Gunung Muria, Kudus. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
“Sekarang petani sangat untung. Dulu harga kopi cuma beberapa ribu per kg, sekarang puluhan ribu. Pengeluaran [untuk bertani kopi] hanya 15–20% dari pendapatan [hasil panen]. Jadi masih untung banyak. Beda dengan dulu pas tani jagung, kadang lebih banyak pengeluaran daripada pemasukan,” hitung Narko.
Kini, pria 33 tahun itu bisa menepuk dada. Ia dengan bangga berkata kepada kawan-kawannya di kota, “Kerjaan saya sehari-hari ngarit di kebun.”
Sambil tertawa lebar, Narko berujar, “Kalau ada teman pulang dari luar kota atau luar negeri dan ngajak nongkrong, ayo; saya siap karena sudah punya penghasilan sendiri.”
Narko menunjukkan buah kopi yang ia petik. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Narko tak banting tulang sendiri dalam bertani kopi dan menghijaukan lahan desanya. Ia dan para petani desanya mendapat bantuan bibit kopi, tanaman buah, dan kompos dari Djarum Foundation—yayasan nirlaba yang salah satu misi pentingnya melestarikan lingkungan.
Bakti Lingkungan Djarum Foundation—yang menggalakkan Konservasi Gunung Muria sejak 2006—mendistribusikan jenis-jenis tanaman yang dapat merehabilitasi hutan sekaligus mendatangkan kesejahteraan bagi warga. Bibit-bibit pohon yang dipilih adalah unggulan lokal yang memiliki nilai ekonomis bagi penduduk setempat.
Para petani mendapat bibit dan kompos itu secara cuma-cuma, sebanyak yang mereka butuhkan. Mereka bersama BLDF juga menjaga sumber mata air dengan menanam karet kebo—pohon dengan akar kuat dan daun rimbun yang mampu menyerap dan menahan air hujan, serta meningkatkan kualitas air sekaligus mencegah erosi di sekitar mata air.
Penggiat konservasi Muria menanam bibit-bibit pohon di Hutan Laren, Gunung Muria. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Mangga dan Warisan Purbakala, Masa Depan di Lereng Patiayam

Bibit-bibit pohon juga didistribusikan BLDF untuk Penggiat Konservasi Muria (Peka Muria) yang bermarkas di Desa Colo, Kecamatan Dawe; dan Kelompok Tani Wonorejo di Desa Gondoharum, Kecamatan Jekulo. Seluruhnya, termasuk Desa Rahtawu di Kecamatan Gebog, berlokasi di Kabupaten Kudus.
“Kami bekerja sama dengan Djarum Foundation. Kami diberi lebih dari lima varietas, antara lain mangga, petai, alpukat, jeruk, dan durian. Yang paling cocok dan produktif di sini adalah mangga. Maka, untuk mempercepat penghijauan dan meningkatkan penghasilan, kami putuskan untuk bertani mangga. Jadi 60% mangga, 40% pohon buah lain,” kata Mashuri, Ketua Kelompok Tani Wonorejo dengan 337 anggota dan 300 hektare lahan untuk ditanami.
Mashuri menunjukkan pohon mangga yang mulai berbuah di Perbukitan Patiayam. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Mangga jadi simbol harapan baru Mashuri, kelompok taninya, dan warga desanya di lereng Perbukitan Patiayam yang sebelumnya gundul karena pembalakan besar-besaran. Padahal, pada masa Orde Baru, Patiayam masih berupa hutan belantara yang dihuni banyak binatang.
“Tapi lalu dijarah, diduduki, dijadikan lahan pertanian jagung, sehingga tahun 2000 sudah gundul. Mungkin sekitar 15 tahun gundul. Tanaman tegakan (kumpulan pohon) tinggal 5%,” terang Mashuri yang penduduk asli setempat.
Gundulnya Patiayam berdampak langsung pada masyarakat sekitar. Pada musim kemarau, hawa terasa sangat panas dan mata air nyaris kering. Padahal, dulu warga setempat bisa menggunakan sumber air dari perbukitan untuk mengairi tanaman di desa bawahnya.
Bukit Patiayam saat masih gundul. Foto: Dok. BLDF
Melihat lahan kritis di depan mata, Mashuri mengajak kawan-kawan terdekatnya untuk bergerak: menghijaukan kembali lahan yang gundul. Terlebih, tanpa pepohonan, mustahil mata air bisa mengalir lagi.
“Kami 90% bergantung pada mata air itu. Kami butuh air itu untuk minum, untuk hidup,” ujar Mashuri di lahan garapannya di Patiayam, Selasa (12/8).
Diawali dengan swadaya kelompok tahun 2019, gerakan itu membesar ketika kelompok tani Mashuri bergandeng tangan dengan BLDF pada 2020 untuk menggencarkan rehabilitasi di Perbukitan Patiayam. Tahun itu, mereka menanam 2.000 bibit di Patiayam.
Ada tiga hal yang Mashuri coba tanamkan di benak kelompok tani dan warga sekitarnya tentang pentingnya penghijauan: 1) Menanam pohon buah adalah tabungan hari tua karena semakin lebat buah, semakin bertambah penghasilan petani; 2) Bukit gundul rawan bencana karena mudah longsor; 3) Menanam pohon dapat mengembalikan mata air yang kering.
Penanaman mangga untuk merehabilitasi Bukit Patiayam. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Terbukti, kini sistem tumpang sari antara pohon mangga dan jagung membuat pendapatan petani meningkat, dan air tanah kembali mengalir meski belum sepenuhnya stabil.
Mashuri pun menyimpulkan: penghijauan bernilai ekonomi yang kini mereka lakukan perlu diterapkan berkelanjutan agar manfaatnya terus terasa.
Pada 2024, empat tahun sejak penanaman besar-besaran di 2020, Perbukitan Patiayam mulai terlihat hijau meski belum penuh. Upaya penghijauan akan berlanjut dalam jangka panjang.
“Kami merawat pohon-pohon mangga ini dengan sungguh-sungguh. Kami pupuk rutin 2–3 kali per tahun agar cepat berbuah. Kalau tidak serius, mungkin sekarang belum sebesar ini. Kami juga genjot sosialisasi sampai akhirnya 100% [anggota Kelompok Tani Wonorejo] mau menanam mangga, mempercepat penghijauan,” tutur Mashuri.
Kini ia memasang target baru bagi kelompok taninya: menjadi penghasil mangga terbesar di Jawa Tengah.
Petani mangga mengecek kesehatan pohonnya di Bukit Patiayam. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Dalam lima tahun terakhir, bibit pohon dari BLDF yang ditanam di Gunung Muria dan Perbukitan Patiayam mencapai lebih dari 350.000 bibit, mencakup kopi, mangga, alpukat, durian, jeruk bali, jambu air, cengkih, petai, fikus, dan bambu.
Ke depannya, penghijauan di Patiayam juga akan ditujukan untuk kelestarian situs, sebab perbukitan ini merupakan daerah temuan fosil dan benda-benda purbakala.
Perbukitan Patiayam, seperti Sangiran, dahulu merupakan laut pada periode pliosen akhir awal (sekitar 2 juta tahun lalu). Kala itu, laut di Patiayam dan sekitarnya memisahkan Gunung Muria—di utara Kudus—dengan Pulau Jawa. Itu sebabnya selain fosil gajah purba (stegodon), ditemukan pula fosil gigi hiu, kepiting, penyu, dan kerang di Patiayam.
Rehabilitasi lingkungan di Patiayam bertujuan untuk melindungi pelbagai fosil dan artefak di dalamnya dari kerusakan akibat faktor alam (seperti perubahan cuaca, erosi, dan banjir) atau aktivitas manusia (seperti penambangan dan pembalakan).
Gading gajah purba (stegodon) di Museum Situs Purbakala Patiayam. Foto: Anggi Kusumadewi/kumparan

Bakti Lingkungan, Aksi Berkesinambungan dari Rumah Sendiri

BLDF memilih Perbukitan Patiayam dan Gunung Muria sebagai target penghijauan bukannya tanpa alasan. Kedua area ini bak pekarangan rumah warga Kudus—kabupaten di Jawa Tengah yang menjadi ‘rumah’ dan tempat bertumbuh Djarum Foundation.
Konsep penghijauan BLDF adalah memulai dari rumah sendiri. Terlebih, dahulu Kudus memang gersang. Oleh karena itu Djarum Foundation menggandeng masyarakat dan pemerintah daerah untuk menghijaukannya bersama.
“Kami mulai tahun 1979 dengan yang simpel, yaitu menanam pohon di rumah sendiri: Kudus. Dari aksi sederhana itu kami belajar, kemudian menanam lebih banyak pohon sampai ke luar Kudus,” kata Program Director BLDF Jemmy Chayadi dalam diskusi panel kumparan Green Initiative Conference di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis (18/9).
Program Director BLDF Jemmy Chayadi. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Sebelum meluncurkan program-program lingkungannya, Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam menyusun roadmap agar aksi berjalan berkesinambungan.
BLDF juga memiliki Pusat Pembibitan Tanaman (PPT) seluas 4 hektare yang berfungsi sebagai ‘pabrik’ tanaman untuk kontinuitas program penghijauan. Di lahan pembibitan ini, ragam benih tanaman disemai, ditanam, dan dirawat untuk mendapatkan bibit berkualitas.
Pusat pembibitan itu berlokasi di kompleks Djarum Oasis Kretek Factory yang 80% dari total lahannya difungsikan untuk penghijauan.
Lahan pembibitan di kompleks Djarum Oasis Kretek Factory. Foto: Anggi Kusumadewi/kumparan
Pembibitan tanaman ini adalah bagian dari Djarum Trees for Life, program yang menggencarkan penanaman pohon di berbagai wilayah. Ada lebih dari 2,3 juta pohon yang ditanam di seluruh Indonesia; dan lebih dari 1,1 juta mangrove di pantai utara Jawa Tengah.
Djarum Trees for Life juga menanam lebih dari 203 ribu trembesi di jalan utama Jawa, Madura, Lombok, Sumatera sepanjang 3.361 km; lebih dari 45 ribu pohon dan tanaman berbunga di kompleks candi-candi di Jawa dan Sumatera; serta lebih dari 209 ribu tanaman di Gunung Muria dan Perbukitan Patiayam.
Melengkapi itu semua, Djarum Foundation menggaet anak-anak muda untuk bergabung dalam gerakan sadar lingkungan (Siap Darling), serta menginisiasi program pemilahan dan pengolahan sampah organik. BLDF membangun Pusat Pengolahan Organik (PPO) di Kudus pada 2018 untuk mendaur ulang sampah organik menjadi pupuk organik.
Sampah organik tersebut berasal dari rumah makan, pasar tradisional, warung, hotel, sampai warga desa yang berdomisili di Kudus. Total hampir 400 mitra yang mengumpulkan sampah organik mereka di PPO. Lewat PPO, BLDF mengubah pandangan tentang sampah organik.
Pusat pengolahan sampah organik di kompleks Djarum Oasis Kretek Factory. Foto: Anggi Kusumadewi/kumparan
“Biasanya sampah organik nggak ada yang mau sentuh karena basah, bau, dan nggak bernilai uang. Tapi sebetulnya tidak seperti itu. Ada nilainya, cuma harus dikelola dulu,” kata Jemmy.
Setelah diolah menjadi pupuk organik seperti kompos, pupuk-pupuk itu lantas didistribusikan untuk menyokong program penghijauan di Kudus dan sekitarnya.
Edukasi memilah sampah di kalangan anak muda juga didorong lewat gerakan berbasis digital ‘Kudus Asik (Apik, Resik)’ yang diluncurkan tahun 2022. Kampanye lingkungan ini hasil sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Kudus.
“Kita kan ingin melihat rumah sendiri lebih apik dan resik—bersih dan rapi. Salah satu caranya ya lewat pengelolaan sampah. Apalagi kami lihat memang ada urgensi, karena TPA (tempat pembuangan akhir) mulai overcapacity,” ucap Jemmy.
Bila kondisi tersebut dibiarkan, timbunan sampah itu bakal menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan pun, sebab pembusukan sampah organik menghasilkan gas metana yang mudah meledak bila terkena percikan api atau berada dalam ruang tertutup.
Oleh sebab itu, penting untuk mengolah sampah organik yang umumnya mengambil porsi terbanyak di TPA (55–60% dari total sampah).
“Kalau kami bantu pengolahan sampah organik, secara tidak langsung membantu mengurangi porsi terbesar sampah yang biasa dibuang ke TPA,” jelas Jemmy.
Timbunan sampah di TPA Tanjungrejo, Kudus. Foto: ANTARA/Yusuf Nugroho
Tak cuma penghijauan dan pemilahan sampah, konservasi satwa liar juga menjadi perhatian BLDF. Sejak 2018, Djarum Foundation bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melakukan penelitian di Gunung Muria untuk menentukan strategi konservasi yang tepat. Tak disangka dari hasil penelitian tersebut ditemukan keberadaan macan tutul jawa (Panthera pardus melas)—spesies yang terancam punah akibat pembalakan, perambahan, dan perburuan liar.
“Ternyata ada macan tutul jawa di Gunung Muria, dan kita (manusia) hidup berdampingan dengan wildlife species sudah beratus-ratus tahun. Untuk menjaga ekosistem Gunung Muria, kita perlu melindungi macan tutul. Kami lalu mulai menghitung populasi mereka,” papar Jemmy.
Hasil temuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan survei populasi macan jawa di Gunung Muria yang dilakukan Djarum Foundation bekerja sama dengan Yayasan SINTAS (Save Indonesian Nature and Threatened Species) dan Yayasan Penggiat Konservasi Muria (Peka Muria). Hasil survei menemukan bahwa di Gunung Muria masih ada populasi macan tutul jawa.
Hasil penelitian di Gunung Muria yang berhasil memetakan populasi macan jawa kemudian menjadi acuan pelbagai pihak untuk melakukan survei lebih luas ke berbagai wilayah.
Pada 2024, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyambut baik upaya tersebut dengan meluncurkan Survei Nasional Macan Tutul Jawa atau Jawa-Wide Leopard Survey (JWLS) bekerja sama dengan Yayasan SINTAS dan perusahaan-perusahaan swasta yang peduli pada kelestarian macan tutul jawa.
Hutan di Gunung Muria juga menjadi rumah bagi macan tutul jawa. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Keberadaan spesies liar sangat penting bagi keseimbangan dan kelestarian ekosistem karena mereka memiliki beragam peran ekologis seperti menjaga rantai makanan, mengendalikan populasi hama, menyebar benih tanaman, menjaga keanekaragaman hayati, mendukung siklus air, menjaga kesuburan tanah, dan lain-lain.
Tahun 2023, BLDF juga berkolaborasi dengan Burung Indonesia, afiliasi BirdLife International yang mempromosikan pelestarian burung dan habitatnya, untuk melakukan asesmen terhadap keanekaragaman spesies burung di Kudus.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Widi Hartanto menilai, upaya kolaborasi dalam perlindungan lingkungan memang perlu dilakukan.
“Di Jawa Tengah, ada Djarum Foundation yang mendukung rehabilitasi hutan dan lahan. Pada prinsipnya, kami mengajak pelaku usaha dan industri untuk bersama-sama berkontribusi dalam perbaikan lingkungan, khususnya rehabilitasi hutan dan lahan, sebab hutan yang baik dapat mereduksi emisi karbon,” ujar Widi, Jumat (15/8).

Menyangga Gunung, Memagari Lautan

Konservasi hutan, terutama di Gunung Muria yang dianggap sebagai halaman belakang Kudus, selalu menjadi prioritas Djarum Foundation. Gunung Muria yang membentang di tiga kabupaten (Kudus, Jepara, Pati) punya peran vital bagi mereka, salah satunya sebagai daerah tangkapan air (water catchment) dan suplai air bagi Kudus.
Selain itu, Gunung Muria merupakan bagian dari cagar biosfer Karimunjawa-Jepara-Muria yang pengelolaannya diharapkan UNESCO dapat mengintegrasikan konservasi ekosistem dan sumber daya alam hayati dengan pembangunan sosial ekonomi berkelanjutan untuk warganya.
Konservasi berkesinambungan di Muria juga menjadi tujuan Peka Muria, yayasan pelestarian alam yang berdiri pada 2023. Anggota mereka rutin berpatroli untuk menjaga hutan dan mata air—yang debitnya menyusut 50%—di lereng Gunung Muria.
Aliran air di Gunung Muria. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Untuk memulihkan habitat Muria, Peka Muria bekerja sama dengan BLDF menanam beringin, pohon yang dapat menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mencegah erosi. Sementara untuk memperkuat mata air, mereka menanam bambu yang akarnya mampu menyerap air dan menahan tanah.
Tahun 2025 ini, total beringin dan bambu yang hendak mereka tanam di lereng Muria berjumlah seribu bibit.
Titik koordinat dari bibit-bibit pohon yang ditanam di jalur mata air di lereng Gunung Muria dicatat dalam aplikasi agar pertumbuhan dan kondisi tanaman dapat dilacak dan dipantau. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Selain menjaga ekosistem gunung, wilayah pesisir pun tak luput dari perhatian Djarum Foundation. Sejak 2008, Djarum Foundation bekerja sama dengan berbagai pihak dalam penanaman mangrove, misalnya di daerah Mangkang, Semarang, juga di utara Jakarta dan Bali. Hal itu untuk menjaga ketahanan pesisir, meningkatkan penyerapan karbon, dan memitigasi dampak perubahan iklim.
Djarum Foundation bersama IKAMat, organisasi nirlaba dengan misi memperbaiki ekosistem mangrove, juga melakukan asesmen mangrove untuk menentukan strategi paling efektif dalam menanam mangrove di sepanjang pantai utara Jawa Tengah yang terancam—dan sudah mengalami—abrasi.
Upaya tersebut juga didukung oleh Wetlands International, NGO internasional yang fokus pada konservasi dan restorasi lahan basah, serta Earth Security, platform yang menghubungkan investor global dengan upaya konservasi bumi.
Permukiman penduduk yang terdampak abrasi di Pekalongan, Jawa Tengah. Foto: Harviyan Perdana Putra/Antara
Abrasi di pantai utara Jawa Tengah terhitung parah dan telah terjadi sejak 1990-an. Abrasi itu menyebabkan ribuan hektare lahan terendam, permukiman warga tenggelam, dan garis pantai di Demak, Semarang, serta Brebes bergeser mundur ke daratan yang lebih tinggi.
Oleh sebab itu IKAMat dan Djarum Foundation merancang peta kesesuaian lokasi konservasi dan rehabilitasi mangrove dengan rencana pola ruang pesisir Jawa Tengah.
Hasil asesmen IKAMaT tersebut kemudian juga diadopsi Pemprov Jateng sebagai baseline sehingga dapat menjadi basis data bagi berbagai perusahaan yang ingin berkolaborasi menanam mangrove.
Hutan Mangrove Sriwulan Terboyo di Semarang. Foto: Makna Zaezar/ANTARA
“Penting untuk menjaga coastal line, dan di pantai utara Jawa itu banyak mangrove mulai terkikis. Itu sebabnya Bakti Lingkungan Djarum Foundation ikut membantu menanam mangrove,” ujar Jemmy.
Aksi ini selaras dengan program Pemprov Jateng, Mageri Segoro, yang melakukan penanaman mangrove secara masif di wilayah pesisir dengan melibatkan perangkat pemerintah, organisasi masyarakat, serta berbagai perusahaan.
“Bukan hanya rumah yang dipagari, laut juga. Kita jaga garis pantai dengan menanam mangrove. Kalau kita bersama-sama memelihara, abrasi bisa kita kendalikan,” kata Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Kamis (5/6).
Penanaman ribuan bibit mangrove oleh Djarum Foundation. Foto: Rian Ramadhan/kumparan
“Masalah lingkungan itu pelik dan interconnected (saling terhubung). Kami memulainya dari menanam pohon, tapi tidak stop di situ. Kami tetap belajar, terus berkembang, dan selalu improve (memperbaiki prosesnya). Kita harus melihat isu-isu lingkungan secara holistik, dan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan,” tutur Jemmy.
Memagari lautan dengan penanaman mangrove, menyangga gunung dengan penghijauan intensif, melindungi warisan purbakala dengan konservasi, dan menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya memilah sampah dan menjaga kelestarian alam, adalah wujud nyata dari rasa cinta terhadap tanah air dan darma bakti pada negeri.
Kolaborasi hangat antara masyarakat, pelaku industri, dan pemerintah daerah di Kudus diharapkan dapat meluas ke daerah-daerah lain sehingga dalam jangka panjang mampu menciptakan lingkungan hijau lestari demi kualitas hidup rakyat yang lebih baik menuju Indonesia digdaya seutuhnya.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Trending Now