Bawa Panci hingga Kuali, Emak-emak Gelar Aksi MBG Berkeadilan di Monas

1 Oktober 2025 12:31 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bawa Panci hingga Kuali, Emak-emak Gelar Aksi MBG Berkeadilan di Monas
Sejumlah perempuan yang didominasi oleh ibu-ibu, menggelar aksi di kawasan Monas, Jakarta Pusat, pada Rabu (1/10). Mereka menyoal kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG)
kumparanNEWS
Perempuan yang didominasi kaum ibu menggelar aksi di dekat IRTI Monas, Jakarta Pusat, pada Rabu (1/10/2025). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan yang didominasi kaum ibu menggelar aksi di dekat IRTI Monas, Jakarta Pusat, pada Rabu (1/10/2025). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
Sejumlah perempuan yang didominasi oleh ibu-ibu, menggelar aksi di kawasan Monas, Jakarta Pusat, pada Rabu (1/10). Mereka menyoal kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari pantauan di lokasi, terlihat mereka berkumpul sambil membawa beberapa alat masak seperti kuali, nampan, hingga panci. Mereka juga terlihat membawa poster yang menyinggung insiden pelajar yang keracunan usai menyantap MBG.
Perempuan yang didominasi kaum ibu menggelar aksi di dekat IRTI Monas, Jakarta Pusat, pada Rabu (1/10/2025). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
Mulanya, aksi itu bakal digelar tepat di depan Istana Negara. Namun, karena ada rangkaian kegiatan HUT TNI, massa bergeser ke kawasan IRTI Monas.
"Pangan adalah hak," demikian bunyi poster itu sebagaimana dilihat.
Salah seorang peserta aksi dari Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat, Yuli Supriati, menilai program MBG mesti dievaluasi. Sebab, pelaksanaan program itu dinilai terlalu terburu-buru sehingga belum berkeadilan.
Perempuan yang didominasi kaum ibu menggelar aksi di dekat IRTI Monas, Jakarta Pusat, pada Rabu (1/10/2025). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
Alangkah lebih baik, sambung Yuli, pemerintah terlebih dahulu menyasar wilayah tertinggal. Apabila MBG di wilayah tertinggal sudah berjalan lancar, baru lah pemerintah menyelenggarakannya di perkotaan.
"Dicari daerah mana yang anak-anaknya butuh. Ketika sudah bagus baru seluruh Indonesia," ucap dia.
Selain itu, Yuli mengatakan, pemerintah juga mesti melakukan penelitian dan survei secara mendalam. Jangan sampai, makanan yang diberikan ke pelajar di pedesaan disamakan dengan makanan yang diberikan ke pelajar di perkotaan.
Perempuan yang didominasi kaum ibu menggelar aksi di dekat IRTI Monas, Jakarta Pusat, pada Rabu (1/10/2025). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
"Alerginya apa dan apa nih maunya. Makanan di daerah Maluku gak sama dong dengan makanan di Jakarta," ujar dia.
"Jadi jangan disamaratakan. Jadi program ini harus melalui penelitian dulu, disurvei dulu supaya tepat sasaran," lanjut dia.
Hal senada dikatakan oleh Rusmani Rusli dari Srikandi Indonesia. Dia mengaku mendukung program MBG yang dicanangkan oleh Presiden, Prabowo Subianto. Namun, evaluasi secara menyeluruh perlu dilakukan terhadap penyelenggaraan program tersebut.
"Dilibatkan juga ahli gizi yang memang kompeten," kata dia.
Perempuan yang didominasi kaum ibu menggelar aksi di dekat IRTI Monas, Jakarta Pusat, pada Rabu (1/10/2025). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
Berikut ini poin tuntutan yang disampaikan oleh massa dalam demo tersebut:
1. Evaluasi total program MBG karena pada akhirnya, yang paling penting bukan sekadar angka, melainkan kualitas dan tanggung jawab nyata pemerintah;
2. Penyaluran MBG dilakukan secara bertahap, dimulai dari keluarga kelas bawah dan menengah;
3. Prioritas diberikan kepada kepada keluarga di desa-desa dan kawasan miskin perkotaan yang paling rentan terhadap krisis pangan dan gizi;
4. Mekanisme penyaluran tunai kepada orang tua dilakukan dengan transparan dan akuntabel dengan melibatkan komunitas, organisasi perempuan, dan masyarakat sipil sebagai pengawas independen;
5. Tinjau ulang aspek konstitusi dan HAM anak bukannya berbasis proyek.
Trending Now