BEM KM UGM Keluar dari Aliansi BEM SI Kerakyatan

21 Juli 2025 13:22 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
BEM KM UGM Keluar dari Aliansi BEM SI Kerakyatan
"Ini tanda bahaya. Tanda bahwa forum mahasiswa sedang dirangkul kekuasaan untuk dijinakkan," kata Ketua BEM KM UGM, Tiyo Ardianto.
kumparanNEWS
Ketua BEM KM UGM, Tiyo Ardianto, membentangkan poster #BebaskanKawanKami di hadapan Kapolda DIY dan anggota Komisi III DPR RI di Polda DIY, Rabu (2/7/2025). Foto: Dok. BEM KM UGM
zoom-in-whitePerbesar
Ketua BEM KM UGM, Tiyo Ardianto, membentangkan poster #BebaskanKawanKami di hadapan Kapolda DIY dan anggota Komisi III DPR RI di Polda DIY, Rabu (2/7/2025). Foto: Dok. BEM KM UGM
Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) menyatakan keluar dari Aliansi BEM Seluruh Indonesia (SI) Kerakyatan usai Musyawarah Nasional XVIII BEM Seluruh Indonesia Kerakyatan yang diselenggarakan pada 13-19 Juli 2025 di Kota Padang.
Ketua BEM KM UGM, Tiyo Ardianto, mengatakan munas seharusnya jadi ruang strategis merumuskan arah gerak mahasiswa dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.
"Namun realitas yang kami saksikan di lapangan jauh dari harapan. Karena itu, dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab moral, BEM KM UGM menyatakan menarik diri dari Aliansi BEM SI Kerakyatan," kata Tiyo, Senin (21/7).
Tiyo menjelaskan BEM KM UGM datang ke munas tidak untuk berebut jabatan tetapi semangat membangun gerakan bersama. Akan tetapi ternyata forum penuh dengan manuver politik internal.

Kehadiran Elite Politik

Forum menurut Tiyo jadi arena tempat penguasa mencari muka. Pihaknya pun mempertanyakan kehadiran para elite politik di Munas.
Tiyo menuturkan di depan ruang sidang bahkan ada karangan bunga bertuliskan "Selamat dan Sukses" dari Kepala BIN Daerah Sumbar.
"Ini tanda bahaya. Tanda bahwa forum mahasiswa sedang dirangkul kekuasaan untuk dijinakkan," kata Tiyo.

Kericuhan

Dalam munas, menurut Tiyo juga sempat terjadi ricuh yang sebabkan dua rekannya terluka. Forum dinilai tak mempersatukan tetapi jadi medan perpecahan lantaran ambisi kekuasaan.
"Pertikaian yang terjadi bukan soal ide, tapi rebutan posisi. Gerakan kehilangan substansi saat yang diperebutkan bukan agenda rakyat, melainkan jabatan struktural yang tak lebih dari simbol kosong," katanya.
"Fakta yang kami saksikan hanya puncak gunung es. Banyak hal yang tidak kami ungkap demi menjaga etika kolektif, tapi cukup menjadi alasan kuat bagi kami untuk menarik diri," ujarnya.

Tetap Bersama Rakyat

Suasana diskusi publik bertajuk "Bulaksumur Menegur: Gerakan Rakyat dan Represivitas Aparat" yang digelar BEM KM UGM di Boulevard UGM, Kabupaten Sleman, DIY, Sabtu (21/6/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
BEM KM UGM resmi menarik diri dari BEM SI Kerakyatan 18 Juli atau sehari sebelum penutupan munas.
"Sikap ini kami ambil bukan karena kecewa, melainkan karena kami enggan menjadi bagian dari kemunduran gerakan," ujarnya.
Di sisi lain, BEM KM UGM berkomitmen tetap berdiri bersama rakyat.
"Kami tidak akan menjadi bagian dari aliansi nasional mana pun, apalagi yang tunduk pada kepentingan elite. Kami memilih jalan yang lebih sunyi tapi terang. Bergerak bersama rakyat, bukan bersama kekuasaan," ujar Tiyo.
Hingga berita ini dimuat belum ada keterangan dari BEM SI.
Trending Now