Bertahan Hidup di Bantaran Ciliwung dengan Berkebun

1 November 2025 19:31 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bertahan Hidup di Bantaran Ciliwung dengan Berkebun
Berkebun di bantaran Kali Ciliwung menjadi cara Pak Jangkung untuk bertahan hidup. Seperti apa ceritanya?
kumparanNEWS
Lahan bayam di perkebunan Bantaran Ciliwung yang dikelola Jahri pada Sabtu (1/11/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Lahan bayam di perkebunan Bantaran Ciliwung yang dikelola Jahri pada Sabtu (1/11/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
Persis di tepi Kali Ciliwung kawasan Jakarta Pusat, seorang pria kurus tinggi tampak mencangkul lahan bayamnya. Namanya Jahri, tapi warga di sekitar lebih sering memanggilnya Pak Jangkung—sapaan yang melekat karena tubuhnya yang semampai.
Di usianya yang sudah 64 tahun, ia masih getol mencangkul tanah, menanam bibit, dan memanen sayur dari lahan bantaran kali yang ia garap sejak dua dekade silam.
“Namanya orang susah, enggak punya kerjaan, ya lumayan lah begini,” katanya seraya tertawa saat ditemui kumparan, Sabtu (1/11).
Jahri, warga Bantaran Ciliwung yang mengubah lahan kosong menjadi perkebunan, Sabtu (1/11/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
Jahri merantau dari Cirebon ke Jakarta sejak akhir 1990-an. Awalnya, ia berdagang di Pasar Tanah Abang, menjadi buruh di los-los grosir. Namun, setelah dua tahun, ia memilih mengadu nasib di bantaran Ciliwung.
Saat itu, kawasan ini masih sepi dan rawan. “Banyak begal. Dulu, pagi dan sore aja orang enggak ada yang lewat,” kenangnya.
Lahan bayam di perkebunan Bantaran Ciliwung yang dikelola Jahri pada Sabtu (1/11/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
Sekitar tahun 2002, Jahri ikut program pemberdayaan warga. Dalam prosesnya, kata Jahri, ada yang disebut sebagai ketua kelompok. Lahan-lahan kosong di pinggir kali terbagi menjadi sejumlah area dan berada di bawah pengawasan mereka, untuk kemudian digarap.
Menurut Jahri, ketua kelompok akan mengajukan rencana penanaman kepada kecamatan. Kemudian, mereka akan didanai.
“Namanya tanah pemerintah. Dikasih pupuk, bibit, diesel, sama dana. Dari kecamatan, siapa yang mau nanam apa, dikasih modal,” ujar Jahri.
Lahan bayam di perkebunan Bantaran Ciliwung yang dikelola Jahri pada Sabtu (1/11/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
Jahri menambahkan, “berhubung sekarang udah enggak ada ketua kelompok, jadi masing-masing pribadi gitu.”
Dari situlah, kehidupannya berubah. Awalnya, ia menyadari ada peluang. “Pertamanya itu, kok sepetak itu tiga hari enggak bisa habis-habis kangkung? lumayan. Nah itu lah,” kata Jahri. Kemudian, ia mulai belajar mencangkul dan menanam dari teman-temannya.
Suasana di lahan perkebunan Bantaran Ciliwung yang dikelola Jahri pada Sabtu (1/11/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
Lama-lama, ia paham ritme tanam-panen dan mulai mengelola lahan hampir satu hektare. Kini, di tanah yang dulu hanya semak dan rumput, tumbuh berbagai tanaman: kangkung, bayam, kemangi, dan kenikir.
Setiap pagi hingga sore, ia bekerja sendirian di kebunnya. Mulai dari membeli bibit di pasar, mencangkul, menanam, menyiram, hingga mengangkut hasil panen ke pasar.
Jahri biasa memasok bibitnya dari pasar di daerah Tangerang, Klender, dan Meruya.
“Enggak ada yang bantu. Enggak ada motor jadi naik ojek atau kereta, beli bibit di pasar. Kadang anak juga bantu antar hasil panen ke pasar,” ucapnya.
Muniroh (45) memilah sayuran yang telah panen di kawasan tepi Banjir Kanal Barat, Jakarta Pusat, Kamis (30/10/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Sesekali, sang istri, Muniroh, ikut membantu, tapi lebih banyak mengurus rumah tangga. Dari enam anaknya, dua sudah bekerja, dua masih duduk di bangku SMP dan SMA, sedangkan dua bungsunya masih berumur 5 dan 2 tahun.
Meski sederhana, sistem tanamnya terukur. Kangkung dan bayam, ia panen setiap 25 hari, kemangi dan kenikir sekitar sebulan. “Itu kayak kerja bulanan aja,” katanya.
Sekali panen, hasilnya bisa mencapai Rp 7-8 juta, jika semua petak ditanami. Bila mengandalkan sekitar tujuh petak, hasilnya hanya sekitar Rp 3-4 juta.
Tak jarang, ia hanya mengandalkan sebagian kecil lahan karena kekurangan modal. Modal berasal dari kantongnya sendiri. “Modalnya paling sejuta setengah. Itu buat pupuk, bibit, bensin buat diesel. Tapi yang berat itu (operasional) sehari-harinya,” ujarnya.
Cuaca menjadi tantangan terbesarnya. Banjir bisa menghapus seluruh hasil kerja kerasnya. “Tahun kemarin, kemangi dua belas petak kena lumpur semua. Baru dapat Rp 200 ribu, itu pun buat bibit lagi,” katanya pelan.
Lahan bayam di perkebunan Bantaran Ciliwung yang dikelola Jahri pada Sabtu (1/11/2025). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
Ia mengaku lebih memilih panas terik daripada hujan deras. “Nomor satu untuk tani kan air. Di sini kita enggak kekurangan. Musim kemarau juga bisa kita nyawah, asal kuat dananya. Cuman kalau kena banjir, udah," ucapnya.
Setiap kali panen, Pak Jahri menjual hasil kebunnya ke pasar-pasar sekitar: Pasar Jati, Pasar Gili, Pintu Air, hingga Impres. Dulu ia punya pengepul, tapi sekarang memilih menjual langsung. “Saya ngeteng sendiri. Sekali bawa bisa 200 ikat kangkung, 80 bayam, 300 kemangi, dan 40 kenikir,” tuturnya.
Harga per ikat kecil hanya sekitar Rp 2 ribu. Keuntungannya tipis, tapi cukup untuk bertahan. Untuk tambahan, di pinggir kebunnya, ia menanam pisang. Ada sekitar 40 pohon. “Kalau panen lumayan, satu tandan 40 ribu, kadang 50 ribu,” ujarnya.
Muniroh (45) memilah sayuran yang telah panen di kawasan tepi Banjir Kanal Barat, Jakarta Pusat, Kamis (30/10/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Dari situlah ia bisa menambal kebutuhan harian, mulai dari makan, kopi, sampai uang jajan anak. “Rata-rata pengeluaran sehari 150 ribu,” katanya sambil tersenyum getir.
Ia juga mengaku, sebelumnya pihak kodim dan Polsek Tanah Abang menyelenggarakan kegiatan di sekitar lahan itu. Kemudian, mereka memberikannya kambing dan 2 kwintal pupuk.
Meski hidup di lahan milik pemerintah, Pak Jahri tak pernah merasa terusik. Ia bahkan mengenal para petugas irigasi dan aparat yang sesekali datang memantau wilayah. “Enggak pernah ada yang larang. Sekarang malah disuruh garap aja, asal enggak membangun bangunan tanpa izin” katanya.
Rumah warisan orang tuanya di Cirebon masih kosong. Namun, ia memilih bertahan di bantaran Ciliwung. “Namanya udah telanjur kerja di sini. Di kampung enak, tapi enggak betah,” ujarnya.
Bagi Jahri, kebun di pinggir kali bukan sekadar tempat mencari nafkah. Di tanah yang sering tergenang banjir itu, ia tak hanya menanam sayur, tapi juga harapan untuk tetap hidup mandiri di tengah kerasnya kota.
Jahri mengaku sangat lelah menggarap lahan sendiri. “Bukan capek lagi namanya,” katanya.
Jahri mengungkapkan keinginannya untuk pensiun. “Berhubung kita beban banyak, udah enggak pantas juga sebenarnya. Kalau ada modal, saya udah pensiun. Malas macul,” pungkasnya
Trending Now