Bos Judol She Zhijiang Diekstradisi ke China Usai Ditahan 3 Tahun di Thailand

13 November 2025 14:49 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bos Judol She Zhijiang Diekstradisi ke China Usai Ditahan 3 Tahun di Thailand
Thailand mengekstradisi bos judol, She Zhijiang, ke China. Ia ditahan sejak 2022 di Thailand berdasarkan surat perintah penangkapan internasional dan red notice Interpol.
kumparanNEWS
She Zhijiang, 43, gembong judi berkebangsaan China yang ditangkap oleh polisi Thailand pada Agustus 2022 dikawal oleh polisi menjelang proses ekstradisi ke China, di Bandara Suvarnabhumi Bangkok, di Samut Prakan, Thailand, Rabu (12/11/2025). Foto: THANAPHON WUTTISON/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
She Zhijiang, 43, gembong judi berkebangsaan China yang ditangkap oleh polisi Thailand pada Agustus 2022 dikawal oleh polisi menjelang proses ekstradisi ke China, di Bandara Suvarnabhumi Bangkok, di Samut Prakan, Thailand, Rabu (12/11/2025). Foto: THANAPHON WUTTISON/REUTERS
Kepolisian Thailand mengekstradisi warga negara China yang merupakan tersangka judi online transnasional. Tersangka atas nama She Zhijiang (43) itu diduga menjalankan lebih dari 200 operasi online ilegal.
Dikutip dari The Guardian, Kamis (13/11), She merupakan tokoh paling terkenal di antara para tersangka operator kejahatan siber yang ditangkap di Asia.
Dia adalah warga negara China yang juga memiliki paspor Kamboja. Dia ditangkap kepolisian Thailand pada Agustus 2022 berdasarkan surat perintah penangkapan internasional dan red notice Interpol yang diminta China.
Pengadilan Thailand pada Mei lalu memerintahkan agar She diekstradisi. Pengadilan baru-baru ini menegaskan She tetap harus diekstradisi usai upaya banding yang diajukan tim pengacaranya gagal.
"China telah meminta tersangka yang menjadi prioritas bagi China," kata asisten komisaris jenderal kepolisian Thailand, Jirabhop Bhuridej.
She akan diesktradisi ke China untuk diadili atas tuduhan mengoperasikan kasino ilegal dan situs judi, dan juga karena menggunakan Myanmar sebagai markas operasi ilegal tersebut dan untuk cuci uang.
Pengacara She, Sanya Eadjongdee, mengatakan proses yang tengah dijalani kliennya tidak lazim tanpa menjelaskan lebih lanjut. Dia mengatakan, kliennya terus membantah melakukan kesalahan.
She memimpin kerajaan judi yang mencakup kasino senilai USD 15 miliar, kompleks hiburan dan wisata yang dinamakan Shwe Kokko di perbatasan Thailand-Myanmar.
Kementerian Keuangan AS pada September lalu menjatuhkan sanksi kepada 9 perusahaan dan individu yang terkait dengan Shwe Kokko atas hubungan mereka dengan jaringan penipuan dan perdagangan manusia regional.
Perbatasan antara Thailand, Myanmar, Laos, dan Kamboja, menjadi pusat penipuan daring sejak pandemi COVID-19. PBB mengatakan miliaran dolar diperoleh dari ratusan ribu orang yang jadi korban perdagangan manusia dan dipaksa bekerja di kompleks itu.
Ratusan ribu orang itu jadi korban perdagangan manusia kelompok kriminal di sepanjang Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir dan dipaksa bekerja di pusat penipuan. Banyak di antaranya yang berlokasi di Myanmar.
Pada Rabu (12/11) kemarin, AS menjatuhkan sanksi keuangan terhadap kelompok milisi Myanmar karena mendukung operasi penipuan daring yang menargetkan warga AS.
"Jaringan kriminal yang beroperasi dari Myanmar mencuri miliaran dolar dari warga Amerika yang bekerja keras lewat penipuan daring," kata Wakil Menteri untuk Terorisme dan Intelijen Keuangan, John Hurley.
"Jaringan yang sama ini memperdagangkan manusia dan turut memicu perang saudara yang brutal di Myanmar. Pemerintah (Trump) akan menggunakan segala cara yang dimiliki untuk mengejar penjahat ini, di mana pun mereka beroperasi, dan untuk melindungi keluarga Amerika dari eksploitasi mereka," pungkasnya.
Trending Now