Cara Environment Chef Rawat Lingkungan dari Meja Makan
22 September 2025 16:08 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Cara Environment Chef Rawat Lingkungan dari Meja Makan
Mengolah sampah tak cuma sekadar memilah plastik bekas, tapi bisa juga dimulai dari dapur. kumparanNEWS

Konsep manajemen sampah dan pelestarian lingkungan, Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) rupanya tak cuma diterapkan dalam mengelola waste yang sudah masuk ke tempat sampah saja.
Konsep ini ternyata bisa juga dimulai dari hal sederhana: makanan, seperti yang digaungkan oleh influencer Kudus Asik sekaligus environment chef, Isman Ridhwansah.
βDi konten-konten saya di Kudus Asik, Kudus Apik Resik, itu kita mengunggah beberapa sisa bahan masakan yang masih bisa diolah,β ucap Isman sambil memamerkan garam lancin yang dibuat dari campuran kulit bawang dan kulit kepala udang saat kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (18/9).
Isman menjelaskan, garam tersebut ia buat dengan mencampur kulit bawang dan kepala udang yang biasanya dibuang saat memasak. Bahan-bahan itu lalu dicampur dan diblender untuk diolah lagi menjadi penyedap rasa asin.
βHal-hal kecil seperti ini juga bisa mengurangi kandungan sampah organik. Di dalam dapur. Bukannya kalau 50 persen sama organiknya sudah terolah di dapur, kita sudah menang pertarungan untuk 50 persen yang akan dibawa ke TPA,β ucap Isman.
Selain garam, Isman juga menunjukkan minyak yang dibuat dari sisa olahan bawang dan cabai. Minyak tersebut bisa digunakan untuk berbagai macam masakan lainnya, misalnya saja kudapan mi.
βIni mi saya berjudul resustainable eating. Ini berkelanjutan. Kenapa? Jadi mi ini bahannya terbuat dari beberapa [bahan]. Awalnya itu saya menemukan sisa-sisa bahan yang potongan-potongan, lalu saya buat dulu infuse minyaknya. Bahan-bahan yang sudah di-infuse minyak, kita haluskan jadi bumbu lalu ditambah garam,β ucap peserta MasterChef Indonesia season 7 itu.
Menurut Isman, cara semacam ini bukan hal yang sulit dan bisa dilakukan di rumah masing-masing. Dari sisa bahan masakan yang biasanya tak terpakai dan hanya dibuang, rupanya bisa diolah menjadi sesuatu yang punya nilai.
βSaya ingin selanjutnya sering mengajak teman-teman mungkin, yang suka-suka atau mama yang ada di sini, kakak-kakak semua, adik-adik, bisa lho dari bahan-bahan yang kayaknya sisa jadi sesuatu yang bermakna,β tuturnya.
Peduli Lingkungan dari Dapur
Menjadi praktisi kuliner tak menghalangi Isman untuk terus peduli dengan masalah lingkungan. Sebagai seorang chef, kata Isman, ia berusaha untuk memasak sesuatu yang bersifat berkelanjutan.
Ia bercerita awalnya ia tidak tergerak untuk memilah-milah sampah dapur setiap kali memasak. Sampai satu saat, ia menyadari ada sisa-sisa bahan masakan seperti daun pandan hingga bawang.
βItu sayang. Eman-eman kalau orang Jawa bilangnya. Nah kebetulan, asalkan barang ini tidak terkontaminasi silang dengan daging atau yang sudah busuk, ini masih bisa dipakai. Jadi bukan berarti yang sudah busuk atau sudah abis dipakai,β ucapnya.
Sisa-sisa itulah yang akhirnya ia coba gabungkan dan ia inovasikan. Misalnya saja kulit jeruk yang diolah menjadi manisan hingga cokelat aroma.
β[Pesannya, semoga]bisa menerapkan selain pilah sampah. Ingat dari 3R, recycle itu hal yang paling simpel yang harus kita lakukan dari dalam rumah lebih dulu sebelum sampai ke stakeholder atau yang lain,β tutupnya.
