Cegah Bullying, Disdik Karawang Minta Wali Kelas-Guru BK Lebih Perhatikan Siswa
27 November 2025 15:33 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Cegah Bullying, Disdik Karawang Minta Wali Kelas-Guru BK Lebih Perhatikan Siswa
Sederet langkah disiapkan Disdikpora Karawang untuk menekan angka bullying.kumparanNEWS

Kasus bullying menimpa siswi SD negeri di Karawang hingga membuat tangannya patah. Menanggapi kasus tersebut Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Karawang meminta wali kelas dan guru bimbingan konseling (BK) lebih memperhatikan siswanya.
Permintaan itu disampaikan Kepala Disdikpora Karawang, Wawan Setiawan, saat menjabarkan langkah pencegahan bullying yang terjadi di wilayahnya. Wawan menegaskan guru harus lebih peka terhadap kondisi anak didik, termasuk persoalan pribadi yang dapat berpotensi memicu perundungan.
βKami minta wali kelas dan guru BK lebih seksama memperhatikan siswanya. Mereka yang paling dekat dan paling tahu perubahan perilaku anak-anak,β kata Wawan.
Permintaan itu termasuk dalam langkah internal pencegahan bullying di Karawang. Dalam langkah itu Disdikpora juga menyiapkan deklarasi anti-perundungan yang akan dibacakan setiap apel Senin.
Pesan anti-bullying dalam isi deklarasi ini diharap dapat tertanam secara psikologis dalam benak siswa.
Langkah eksternal juga akan dijalankan untuk pencegahan bullying. Bentuknya, dengan sosialisasi anti-perundungan dengan mengundang sebanyak 100 kepala sekolah jenjang SD dan SMP.
βKami akan menghadirkan narasumber dari dinas, Kejaksaan, juga dari Sat Binmas dan Unit PPA Polres Karawang. Ini bentuk penguatan pemahaman bersama supaya pencegahan bullying bisa dilakukan dari hulu,β ujarnya.
Perkuat Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK)
Disdikpora juga memperkuat kembali kerja Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di setiap sekolah dengan melibatkan perangkat desa, komite, Bhabinkamtibmas, dan unsur terkait lainnya. Setiap kasus perundungan diwajibkan dicatat dan dilaporkan secara berkala.
βSelama ini kita kesulitan data. Dengan pelaporan rutin, minimal sebulan sekali, kita bisa memetakan kasus dan menindaklanjuti sampai tuntas,β tegas Wawan.
Selain itu, sekolah juga diwajibkan menerapkan reward and punishment untuk kelas dan siswa sebagai upaya membangun budaya positif.
βSetiap akhir semester atau akhir tahun akan ada penilaian kelas paling ramah dan siswa paling peduli. Ini apresiasi untuk menumbuhkan budaya anti-perundungan,β jelasnya.
Wawan menekankan, pencegahan anti bullying ini dalam dunia pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah. Orang tua juga, kata dia, harus terlibat agar pencegahan bullying bisa berjalan efektif.
"Kami ingin upaya ini betul-betul berdampak dan mampu memperbaiki lingkungan sekolah agar lebih aman dan ramah bagi anak,β pungkasnya.
