Cerita Kantin AA di Bandung Jadi Favorit Mahasiswa: Harga Murah, Porsi Melimpah
14 Januari 2026 13:30 WIB
·
waktu baca 3 menit
Cerita Kantin AA di Bandung Jadi Favorit Mahasiswa: Harga Murah, Porsi Melimpah
Warung makan sederhana ini telah menemani generasi demi generasi perantau yang mencari makanan murah dan mengenyangkan perut yang lapar.kumparanNEWS

Di tengah deretan rumah dan kos mahasiswa di kawasan Tubagus Ismail, Bandung, Kantin AA berdiri sebagai saksi perjalanan panjang kehidupan mahasiswa sejak akhir 1990-an.
Warung makan sederhana ini telah menemani generasi demi generasi perantau yang mencari makanan murah dan mengenyangkan perut yang lapar.
Ranto, pengelola Kantin AA sekaligus adik dari pemilik usaha, mengingat betul awal mula kantin tersebut dirintis oleh keluarganya. Ia bercerita, keluarganya berasal dari Solo dan merintis usaha ini dengan modal dari sang kakak.
“Aslinya yang merintis ibu saya, modalnya dari kakak. Saya pulang ke Bandung tahun 1999 akhir dan diminta bantu-bantu di sini,” ujar Ranto saat ditemui kumparan di warungnya, Rabu (14/1).
Sebelum memegang kendali pengelolaan kantin, Ranto sempat menjalani kehidupan yang jauh berbeda. Ia menghabiskan sembilan tahun kuliah di Universitas Cendrawasih sekaligus bekerja di Papua. Latar belakang pendidik pun melekat pada dirinya.
“Aku dulu guru kontrak. Gajinya lumayan, tapi tidak mengejar PNS,” katanya.
Ranto menyebut awal tahun 2000-an sebagai masa keemasan Kantin AA. Saat itu, aktivitas mahasiswa Universitas Padjadjaran masih terpusat di kampus Dipati Ukur. Kantin kerap dipadati pelanggan, terutama pada jam makan siang.
“Dulu sampai ngantre, beneran. Pas jam makan siang itu penuh,” ucapnya.
Namun, kejayaan itu perlahan meredup. Perpindahan sebagian besar kegiatan akademik Unpad ke Jatinangor menjadi titik awal berkurangnya pelanggan. Kondisi semakin berat ketika pandemi Covid-19 melanda.
“Corona bikin hancur sehancur-hancurnya. Tapi alhamdulillah masih bisa bertahan,” kata Ranto.
Meski dihantam berbagai perubahan, Kantin AA tetap mempertahankan ciri khasnya: harga yang ramah mahasiswa dan porsi yang melimpah, apalagi bisa ambil sendiri atau prasmanan.
Ranto mengaku sengaja menahan kenaikan harga demi menjaga kantin tetap terjangkau bagi mahasiswa yang punya uang saku terbatas.
“Es teh manis sudah 12 tahun harganya tetap Rp 3.500. Buat mahasiswa kan harus terjangkau,” ujarnya.
Dulu, Kantin AA sempat berkembang hingga memiliki dua lokasi, yakni di Tubagus Ismail dan Jatinangor. Kini, hanya satu kantin yang masih bertahan.
“Sekarang sudah enggak ada cabang,” ucap Ranto.
Penurunan jumlah pelanggan sangat terasa dalam operasional harian. Jika dulu konsumsi beras bisa mencapai 50 kilogram per hari, kini angka tersebut jauh berkurang.
“Sekarang paling 15 kilogram sehari, itu pun sudah bagus,” ungkapnya.
Meski pendapatan tidak lagi seperti dulu, Ranto memilih menjalani usaha ini dengan penuh keikhlasan.
“Yang penting bisa buat makan. Disyukuri saja,” tuturnya.
Pilihan Favorit Mahasiswa
Bagi sebagian mahasiswa, Kantin AA tetap menjadi pilihan. Yudha, mahasiswa Universitas Komputer Indonesia (Unikom) yang pernah tinggal di sekitar Sekeloa, mengaku cukup sering makan di Kantin AA.
“Saya dulu lumayan sering makan di sini, karena sempat kos di daerah sini. Jadi kalau mau makan ya ke sini,” kata Yudha.
Sedangkan Raihan, mahasiswa Unikom, mengaku baru pertama datang ke Kantin AA. Dia tahu dari temannya.
“Kalau saya pribadi baru pertama kali, karena dapat rekomendasi dari teman saya,” ujarnya.
Keduanya sepakat bahwa kelengkapan menu dan harga murah menjadi alasan utama memilih Kantin AA.
“Menunya banyak dan bisa ambil sendiri. Kalau di tempat lain porsinya kadang kurang buat saya,” ujar Yudha.
“Menurut saya ini sudah cukup murah buat mahasiswa. Contohnya mi instan paket komplit cuma Rp 9.000, murah banget,” tambah Raihan.
Kehadiran mahasiswa seperti Raihan dan Yudha menjadi bukti bahwa Kantin AA masih memiliki tempat tersendiri di hati para perantau muda, sebagai ruang makan sederhana yang menawarkan menu lengkap, harga bersahabat, dan jejak kenangan nostalgia kehidupan mahasiswa Bandung.
