Cerita Keluarga Kenang Sosok Tenaga Kesehatan yang Gugur Saat COVID-19
18 November 2025 12:05 WIB
·
waktu baca 4 menit
Cerita Keluarga Kenang Sosok Tenaga Kesehatan yang Gugur Saat COVID-19
egiatan tabur bunga yang digelar di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, menjadi ruang hening untuk kembali mengingat mereka yang pernah berada di garda terdepan saat pandemi COVID-19 melanda.kumparanNEWS

Derai bunga mawar jatuh perlahan di atas pusara. Satu per satu keluarga tenaga kesehatan tampak menunduk dan memanjatkan doa.
Kegiatan tabur bunga yang digelar Kementerian Kesehatan di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, menjadi ruang hening untuk kembali mengingat mereka yang pernah berada di garda terdepan saat pandemi COVID-19 melanda.
Di antara kerumunan yang datang, salah satunya ada Engky Ahmadi (52), suami dari almarhumah Nani Suhartini yang merupakan tenaga kesehatan.
Nani merupakan tenaga medical check up di Rumah Sakit Sukmul Sismamedika, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ia telah mengabdi sejak 2010.
Ketika pandemi COVID-19 melanda, pekerjaan Nani makin berat. Engky sempat mengingatkan istrinya soal risiko terpapar, terlebih karena banyak pasien dari luar negeri yang datang untuk pemeriksaan kesehatan. Namun keduanya tetap menjalani tugas, sebagai sesama tenaga kesehatan.
“Awal-awalnya istri saya panas. Dia rasa udah nggak ada penghisapan. Lalu saya bawa ke Sukmul, diperiksa ternyata belum naik, masih negatif lah belum positif. Terus panas, sakit tiga hari, saya bawa ke Sukmul lagi,” tutur Engky saat ditemui di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Selasa (18/11).
“Setelah di Sukmul sampai 5 hari, dirujuk sama dokter spesialisnya ke Rumah Sakit Sulianti Saroso. Baru ditanganin di sono sampai 5 hari, sampai meninggalnya gitu, sampai enggak ada, tanggal 4 Mei 2020 di jam 11.30 WIB,” lanjutnya.
Nani dirawat total selama sepuluh hari. Selama masa perawatan, Engky mengaku hanya bisa melihat dari video call.
“Mendengar wafat ya sedih juga, saya lagi bekerja waktu di sono kan enggak nungguin. Kan kalau di Rumah Sakit Sulianti Saroso nggak boleh ditungguin. Paling dilihatin dari video aja,” jelas Engky.
“Diisolasi, paling lihat video call aja nih, dikabarin sama dokter ininya,” sambung dia.
Meski kehilangan, pesan almarhumah tetap dijaga. Tiga anak mereka berhasil menyelesaikan pendidikan, salah satunya mengikuti jejak sang ibu.
“Ya saya anjurin sih, dek kalau bisa ikutin Mama satu, gitu ya. Biar jadi ada untuk ingat Mama lah, jadi perawat gitu. Kalau kakaknya sih farmasi, kalau yang bontotnya saya masukkin jadi guru,” tutur Engky.
“Kan dulu pesan almarhum juga, ‘Tolong jaga anak-anak sampai selesai sekolah’ gitu,” tambahnya.
Engky berharap peringatan seperti tabur bunga ini tak hanya berhenti sebagai seremoni. “Ya kalau untuk hari ulang tahun kesehatan, kalau bisa ya tiap tahun lah kita diadain untuk mengenang gitu ya, untuk para nakes, gitu,” kata dia.
Sementara itu, drg. Lusia Iriani Purba (61) membawa cerita lain tentang suaminya, dr. Laurentius Panggabean, mantan Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.
Lusia menyebut, suaminya meninggal di awal pandemi COVID-19, sebelum aturan menggunakan masker diwajibkan.
“Jadi itu kan masih awal-awal ya. Nah, dari pemerintah juga belum ada ketentuan apa pun kan. Nah, pada waktu itu belum ada, keputusan harus memakai masker kan. Jadi masih banyak orang tidak memakai masker, termasuk suami saya. Jadi dia pergi-pergi itu tidak memakai masker,” tutur Lusia mengenang suaminya.
“Nah terus dia itu sebelum peristiwa itu juga ke luar kota, dinas ke Surabaya. Nah, tapi itu karena tidak pakai masker ya saya rasa, dan juga Bapak itu punya komorbid. Dia itu punya darah tinggi, punya diabetes, dua penyakit itu,” lanjutnya.
Laurentius sempat keluar-masuk rumah sakit karena gejala flu ringan. Namun dalam hitungan hari, kondisinya berubah cepat hingga akhirnya wafat pada 12 Maret 2020.
“Nah, pada waktu Bapak kena itu, memang saya di rumah itu dia tidak bilang demam, batuk-batuk atau apa. Cuma seperti orang demam flu lah. Enggak ada batuk sama sekali. Terus waktu dia sudah tidak bisa makan, dan waktu itu saya juga belum tahu ya gejala COVID apa aja, kan masih awal. Jadi saya bawa ke rumah sakit,” jelas Lusia.
“Kalau enggak salah, 3 hari dirawat dia tidak keluar batuk. Pada hari terakhir, malam tuh dia batuk dan sudah batuk darah. Besoknya udah mulai sesak napas cepat. Jam 11.30 itu stafnya dari rumah sakit masih datang, nah jam 12, mereka belum sampai di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan, Bapak udah pergi. Dan itu cepat dia perubahan dari yang tadi normal sampai sesak napasnya itu cepat banget,” sambungnya.
Lusia menggambarkan suaminya sebagai sosok disiplin dan tegak pada prinsip. “Dia itu disiplin. Jadi mungkin kalau orang lain berangkat itu bisa mepet, dia mesti duluan sampai di kantor. Terus dia itu kalau pekerjaan atau yang berhubungan dengan uang ya, tidak. Jadi dia memang orangnya tipenya begitu,” ujar Lusia.
“Terus, dia selalu membela stafnya lah ya, yang di bawah ya. Jadi misalnya apa yang bisa dia bantu, dia akan bantu,” lanjut dia.
Meski kehilangan, ia tidak merasa adanya ketakutan saat anak bungsunya juga memilih menjadi dokter. Ia justru memberikan dukungan penuh untuk sang anak.
“Yang bontot aja yang dokter. Oh, enggak (ada rasa ketakutan). Ya karena saya juga dokter gigi kan. Jadi saya enggak ada trauma apa-apa kok,” tandasnya.
