Cerita Masinton tentang Perbukitan di Tapteng yang Ditanami Sawit
10 Desember 2025 14:47 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Cerita Masinton tentang Perbukitan di Tapteng yang Ditanami Sawit
Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) menceritakan bagaimana pohon-pohon di perbukitan di wilayahnya ditebang dan ditanami sawit. Dia juga melihat pohon hasil penebangan ditumpuk di atas bukit.kumparanNEWS

Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) menceritakan bagaimana pohon-pohon di perbukitan di wilayahnya ditebang dan ditanami sawit. Dia juga melihat pohon hasil penebangan ditumpuk di atas bukit.
Masinton menyampaikan, selama 9 bulan menjabat dia berkeliling ke sejumlah wilayah di Tapteng. Dan fenomena pepohonan di perbukitan ditebang untuk ditanam sawit dia lihat sendiri.
"Saya datang itu ke wilayah perbukitan saya lihat tuh banyak yang dikeruk, terus saya lihat beralih fungsi. Ya kan. Nah di situ tuh saya datangin itu. Ke lokasi-lokasinya langsung. Supaya perbukitan itu tidak ditanami sawit," jelas Masinton, Rabu (10/12).
Masinton melanjutkan, di setiap kecamatan di Tapteng, fenomena pohon di perbukitan ditebang, dan ditanami sawit terjadi.
"Dan kemudian, beberapa di kawasan hutan itu kayunya dipotongin, disenso tuh. Disenso, terus kemudian kayunya diambilin atau ditinggal di stok di sana di atas itu, terus lahannya di perbukitan itu tanami sawit. Nah ini fenomenanya di Tapanuli Tengah itulah yang terjadi bahkan tuh ada ada hampir semua kecamatan tuh," beber dia.
Bahkan, katanya, berdasarkan data dari BPS memang terjadi penggundulan hutan yang masif.
"Statistik BPS saya lihat itu dari 2023 ke 2024 terjadi deforestasi yang sangat masif. Dari 16.000, 16.000 sekian lah itu ya lebih kurang 16.000 hektare lebih, menjadi 40.800-an kalau enggak salah 40.800 hektare itu.Dalam satu tahun," urai dia.
Masinton lalu menuturkan, saat banjir bandang dan longsor melanda Tapteng, potongan kayu yang hanyut ikut menambah parah kerusakan.
Masinton Jalan Kaki 11 Jam
Masinton lalu menuturkan pengalaman dia akhir November lalu, ketika bencana terjadi. Dia sampai jalan kaki 11 jam, saat itu dia baru saja pulang dari perjalanan dari Medan, menuju ke Tapteng. Masinton baru menghadiri RUPS Bank Sumut.
"Jalan kaki. Dari arah Tarutung itu sampai ke Adian Koting mau ke perbatasan Tapanuli Tengah, tapi enggak bisa saya tembus juga karena tebal longsoran, titik longsornya sangat banyak, dan sangat tebal-tebal. Jadi itu titik longsorannya itu ratusan," jelasnya.
Bahkan kata dia, dalam perjalanan, salah satu mobil rombongannya sempat terperosok karena lumpur yang tebal.
"Terjebak satu. Kan kami iring-iringan tuh malam. Ya kan. Nah karena longsor longsor terus. Apa, kita putar balik. Nah satu mobil enggak sempat putar balik, apa tuh rodanya apa tuh rodanya terpater gitulah apa tuh. Terpater gitulah. Ya udah kita tinggal. Nah kebetulan tuh mobil dinasnya Pak Wakil kan," jelas dia.
Malam itu mobil yang terperosok ditinggal di lokasi, perjalanan tetap dilanjutkan. Hingga akhirnya, karena kondisi lapangan tidak memungkinkan untuk dilanjutkan. Masinton dan rombongannya bermalam di salah satu warung.
Kemudian, keesokan harinya karena medan yang berat, dilanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
"Saya tanya-tanya itu ke orang tua yang saya lintasi waktu jalan kaki di Tapanuli Utara itu. Saya mampir di warung. Terus saya tanya, ada bercerita sama orang tua udah usianya 80 berapa, 80 berapa, 84 tahun lah. Dia cerita seumur hidup beliau enggak pernah tuh Longsoran banyak begini dia bilang. Disertai dengan banjir bandang enggak pernah tuh. Longsoran kayu-kayu terus ini titiknya banyak sekali," urai Masinton menceritakan pengalamannya.
