Cerita Para Guru yang Terima Pencairan Tunjangan Langsung
3 November 2025 15:21 WIB
·
waktu baca 6 menit
Cerita Para Guru yang Terima Pencairan Tunjangan Langsung
Kini, kesejahteraan guru tak lagi sekadar wacana. Mekanisme penyaluran tunjangan yang dilakukan pemerintah pusat melalui Kemendikdasmen benar-benar terasa dampaknya.kumparanNEWS

Kini, kesejahteraan guru tak lagi sekadar wacana. Mekanisme penyaluran tunjangan yang dilakukan pemerintah pusat melalui Kemendikdasmen benar-benar terasa dampaknya.
Perubahan besar terjadi pada awal 2025 ketika Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menerapkan kebijakan penyaluran langsung tunjangan guru ke rekening masing-masing penerima.
Sebelumnya, penyaluran tunjangan profesi guru (TPG) melalui Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) kerap terlambat diterima oleh guru karena proses birokrasi.
Kini, alur yang lebih ringkas membuat para guru di seluruh Indonesia dapat menerima hak mereka lebih cepat, akurat, dan transparan.
Perubahan mekanisme penyaluran itu terasa nyata di lapangan dan dialami oleh seorang guru SMP Negeri Kembu, Papua Pegunungan, bernama Refol Malingkuh. Ia akhirnya bisa membeli buku ajar baru untuk siswanya tanpa harus menunggu pencairan tunjangan berbulan-bulan.
Di Samarinda, guru SMAN 16 Abdul Rozak Fahrudin memanfaatkan tunjangan profesinya untuk melanjutkan studi doktoral. Sementara di Bogor, guru SMAN 1 Parung Helga Dwi Maryanti menabung dari tunjangannya untuk mencetak alat peraga Matematika berbentuk ular tangga.
Begitu juga bagi Agus Joyo Sutono, guru P3K di SD 2 Jati Kulon, Kudus, Jawa Tengah. Kebijakan baru ini seperti udara segar setelah bertahun-tahun menanti pencairan dengan sabar.
“Dengan format bayar transfer pusat langsung ke rekening guru-guru penerima, kami apresiasikan sangat bagus sekali. Baru tahun ini proses penyaluran TPG sangat cepat, akurat, akuntabel, dan transparan,” ujarnya.
Agus telah mengajar sejak 2004, dan sejak menerima tunjangan profesi tahun 2011, ia tak hanya menggunakan dana itu untuk keluarga, tetapi juga untuk kuliah S1 di Universitas Terbuka serta membantu rekan-rekannya yang masih berstatus guru tidak tetap.
Kegembiraan serupa juga dirasakan Agus Wumu, guru IPA di SMP Negeri 1 Kwandang, Gorontalo Utara. Menurutnya, kecepatan pencairan tunjangan kali ini benar-benar membantu para guru di daerah.
“Kebijakan yang diluncurkan oleh Kemendikdasmen pada awal Maret 2025 ini berdampak pada akselerasi percepatan penerimaan tunjangan oleh guru penerima. Tentunya percepatan ini harus didukung dengan pemutakhiran data guru di Dapodik,” katanya.
Agus memanfaatkan TPG untuk membeli alat peraga pembelajaran, mengikuti pelatihan AI, hingga membiayai kuliah strata dua.
“Harapan saya, program tunjangan profesi ini tidak dihapuskan oleh pemerintah dan kebijakan penyaluran langsung ke rekening masing-masing guru tetap dipertahankan,” ujarnya penuh harap.
Dari Papua: Tunjangan yang Menembus Jarak dan Biaya Hidup
Bagi guru di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), tunjangan ini bukan sekadar tambahan pendapatan, melainkan penopang keberlangsungan hidup.
Refol Malingkuh, guru di SMP Negeri Kembu, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, mengaku tunjangan profesi menjadi penyelamat di tengah tingginya biaya hidup di pedalaman.
“Tunjangan profesi guru sangatlah membantu saya sebagai guru yang ada di pedalaman Papua. Apalagi kami dengan biaya hidup yang serba mahal,” kata Refol.
“Selain untuk kebutuhan harian kami, kami guru-guru yang telah menerima manfaat tunjangan profesi guru juga memanfaatkan untuk peningkatan kinerja kami seperti mengikuti bimtek, workshop, dan lain sebagainya,” lanjutnya.
Sebelumnya, ia harus menunggu lama karena tunjangan masih melewati birokrasi daerah. Kini, pencairan lebih cepat dan transparan.
Dari Bogor hingga Gorontalo: Tunjangan yang Mengubah Cara Mengajar
Bagi Helga Dwi Maryanti, guru Matematika di SMA Negeri 1 Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tunjangan profesi bukan hanya soal kesejahteraan, tapi juga ruang untuk berinovasi.
Ia memanfaatkan tunjangannya untuk membeli laptop dan bahan ajar kreatif, bahkan mencetak banner ular tangga Matematika untuk membantu siswa belajar dengan cara yang menyenangkan.
“TPG ini sangat berdampak pada peningkatan kinerja saya dalam pengajaran dan pengembangan diri. Dengan adanya tunjangan ini, maka peluang saya mengembangkan kompetensi diri saya menjadi sangat terbuka,” ujarnya.
Dari Gorontalo, Rachmad Hamzah, guru Informatika di SMA Negeri 1 Gorontalo, merasakan hal serupa. TPG memungkinkan ia mengikuti berbagai workshop.
“Tahun ini lebih efektif, efisien, dan tidak melalui proses rumit birokrasi. Proses saat ini lebih melatih guru untuk memantau data pribadi mereka masing-masing,” katanya.
Dari Samarinda: Tunjangan yang Jadi Jalan Menuju Gelar Doktor
Di Samarinda, Abdul Rozak Fahrudin, guru senior di SMA Negeri 16, menggunakan tunjangannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S3.
“Tunjangan profesi guru yang kami terima, salah satunya adalah kami gunakan untuk peningkatan kompetensi saya sebagai guru. Salah satunya adalah penggunaan dana tersebut kami gunakan untuk studi lanjut S3 di perguruan tinggi,” tuturnya.
Bagi Abdul Rozak, tunjangan bukan sekadar penghargaan, tapi bentuk kepercayaan negara terhadap dedikasi guru.
Pemenuhan Aneka Tunjangan Guru Non ASN
Aneka Tunjangan Guru Non ASN diberikan sebagai penghargaan kepada guru/pengajar non ASN (sebagai tenaga profesional) dalam menjalankan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan data dari Kemendikdasmen per 22 Oktober 2025, berikut datanya:
Penyaluran Aneka Tunjangan Guru Non ASN
Tunjangan Profesi Guru (TPG)
Tunjangan Khusus Guru (TKG)
Bantuan Insentif
Bantuan Bantuan Subsidi Upah
Penyaluran Aneka Tunjangan ASN Daerah
Tunjangan Profesi Guru (TPG)
Tunjangan Khusus Guru (TKG)
Dana Tambahan Penghasilan (DTP)
Kebijakan salur langsung ini menjadi jawaban atas permasalahan klasik keterlambatan pencairan yang kerap terjadi saat dana masih melalui pemerintah daerah.
Bagi para guru, tunjangan profesi bukan hanya tambahan gaji, tetapi bukti penghargaan atas dedikasi, seperti yang diungkapkan Ratni Husnita, guru SD Negeri 8 Padang Panjang Barat, Sumatra Barat, yang telah mengajar lebih dari tiga dekade.
“Secara profesional, memberikan dampak pada peningkatan kinerja dan pengembangan diri. Sebagian tunjangan profesi saya gunakan untuk mendukung kegiatan mengajar, seperti membeli laptop, perangkat lunak, buku penunjang, hingga mengikuti pelatihan,” katanya.
Ratni berharap sistem pembayaran langsung ke rekening guru tetap dipertahankan.
“Harapan ke depannya adalah pembayaran tunjangan profesi tetap melalui rekening masing-masing guru guna menghindari hambatan dan birokrasi,” tuturnya.
Perubahan sistem tunjangan bukan hanya soal efisiensi administrasi, tapi juga soal kepercayaan: bahwa negara benar-benar melihat guru sebagai ujung tombak masa depan bangsa.
Dari Jawa hingga Papua, dari ruang kelas yang berdinding papan hingga laboratorium komputer di kota, semangat para guru kini tumbuh bersama kesejahteraan yang lebih layak.
Karena di balik setiap tunjangan yang cair tepat waktu, ada harapan yang kembali menyala, bahwa mendidik kini tak lagi harus berjuang sendirian.
