Cerita Penjaga Palang Kereta Stasiun Tebet: Bertaruh Nyawa demi Penyeberang
4 Januari 2026 13:52 WIB
·
waktu baca 4 menit
Cerita Penjaga Palang Kereta Stasiun Tebet: Bertaruh Nyawa demi Penyeberang
Setiap hari Minggu hingga Selasa, Indra (55) berdiri di sisi perlintasan kereta api di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Titik ia bersiaga diapit dua stasiun, yakni Stasiun Tebet dan Stasiun Cawang.kumparanNEWS

Setiap hari Minggu hingga Selasa, Indra (55) berdiri di sisi perlintasan kereta api di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Titik ia bersiaga diapit dua stasiun, yakni Stasiun Tebet dan Stasiun Cawang.
Dengan mata yang selalu waspada, ia mengawasi rel dan lalu lintas kendaraan yang melintas. Sejak pandemi Covid-19 pada 2020, ia memilih menjaga palang kereta secara swadaya.
“Dari Covid, 2020. Udah karatan saya di sini,” ujar Indra di sela ia bekerja, Minggu (4/1) siang.
Pekerjaan ini ia lakoni setelah berhenti menjadi sopir angkot. “Udah pas enggak bawa mobil aja. Pas berhenti dari angkot, langsung saya lari ke mari,” katanya pada kumparan.
Penglihatan Jadi Andalan
Sebagai penjaga palang, Indra mengandalkan penglihatan langsung untuk mengetahui kedatangan kereta.
“Iya, kelihatan. Harus mata tajam. Kalau enggak tajam, repot,” katanya.
Ia menyebut bahaya mengintai jika lengah sedikit saja. “Waduh, bahaya kalau lagi meleng, tau-tau (kereta) udah sampai situ,” kata Indra seraya menunjuk titik yang berjarak sekitar 100 meter.
Risiko bukan hanya datang dari kereta, tetapi juga dari pengendara yang nekat menerobos. Indra mengaku kerap memarahi mereka.
“Wah, saya sering ngomelin orang. Udah tahu ditutup, masih mau dibuka aja,” ujarnya.
Bahkan, ia tak segan menantang demi menghentikan pelanggaran. “‘Lo daripada mati sama kereta, mendingan sama gue.’ Saya gituin,” katanya.
Biasanya, sambung dia, pengendara langsung terdiam karena sadar bersalah.
Menjaga palang merupakan pekerjaan yang berangkat dari inisiatif.
“Inisiatif,” tegas Indra.
20 Penjaga Palang Kereta
Perlintasan ini, kata Indra, dijaga selama 24 jam oleh sekitar 20 orang, seluruhnya warga sekitar Tebet, dengan sistem giliran.
Jam jaga terbagi dalam beberapa sif. Hari ini, Indra kebagian bersiaga dari jam 09:00 hingga 12:00 WIB.
“Saya dari jam 9 sampai jam 12. (Penjaga lainnya) dari jam 12 sampai jam 3. Jam 3 sampai jam 6, Maghrib,” tuturnya.
Hingga kini, ia mengaku belum pernah ditawari bekerja oleh PT KAI. Indra mengungkapkan, pernah sekali mendapatkan pesan dari petugas yang tengah memeriksa rel.
“Paling dia cuma komen, ‘Hati-hati ya, jaga keselamatan.’ Iya, gitu doang,” ucapnya menirukan petugas.
Indra menyebut pernah ada kecelakaan di titik lain akibat pengendara yang nekat membuka palang. Menurutnya, tak ada korban selamat.
“Di ujung sana (di titik lain), itu pernah kejadian motor, abis pulang pacaran. Udah tau (palang) ditutup kan, dia main buka aja,” katanya.
Peristiwa itu terjadi sekitar dua bulan lalu dan berujung penutupan perlintasan oleh PT KAI.
Kumpulkan Uang Kas
Untuk operasional, para penjaga mengumpulkan uang kas. Dari uang yang terkumpul, penjaga bergotong-royong memperbaiki fasilitas penunjang di perlintasan.
“Buat rapihin jalanan, palang kalau patah, saung (tempat berjaga) juga,” ujar Indra.
Setiap penjaga menyetor Rp 7 ribu. Rp 5 ribu untuk operasional dan Rp 2 ribu untuk penjaga sif malam.
“Pokoknya setiap yang jaga harus ngasih, kecuali Idul Fitri. Lebaran sama kalau lagi libur enggak ngasih. Kalau ada lebihnya, sebelum Lebaran dibagi-bagi,” katanya.
Pendapatan Per Hari
Pendapatan dari menjaga palang tidak menentu.
“Kadang kalau jaga berdua, Rp 60 ribu. Pahit-pahit bisa Rp 25 ribu masing-masing,” ujar Indra.
Sesekali bisa mencapai Rp 100 ribu, meski jarang. Saat Lebaran, ia mengaku penghasilan meningkat.
“Bukan mewah lagi. Orang lewat ada yang ngasih duit (dengan nominal) lebih besar,” katanya dengan menggebu.
Berbeda dengan kondisi di kala hujan.
“Kalau lagi hukan, sepi. Boro-boro buat ngerogoh kantong, susah. Yang lewat sih banyak, yang ngasih kagak,” ungkap Indra.
Di luar menjaga palang, Indra juga bekerja sebagai pengemudi ojek online.
“Tadinya sopir angkot. Sekarang begini sama ojek online,” ujarnya.
Indra kini tinggal bersama anak bungsunya. Penghasilan hariannya sekitar Rp 100 ribu ia gunakan untuk kebutuhan bersama.
“Hari ini dapat Rp 100 ribu lebih. Rp 100 ribu sehari buat berdua atau kadang buat anak yang ketiga juga. Cukup buat makan sama rokok doang,” ujarnya.
Kadang, uang itu juga ia pakai untuk memberi makan kucing liar di sekitar perlintasan.
“Kadang ngumpanin kucing. Kan enggak tega,” katanya lirih.
