Cerita Siswa SMKN 1 Cileungsi Korban Atap Ambruk: Tidur Lihat Atas Jadi Takut

11 September 2025 14:50 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Cerita Siswa SMKN 1 Cileungsi Korban Atap Ambruk: Tidur Lihat Atas Jadi Takut
Meski luka fisik berangsur pulih, para siswa SMKN 1 Cileungsi yang jadi korban mengaku masih dihantui trauma.
kumparanNEWS
Wildan, Ega, dan siswa kelas 12 lainnya yang menjadi korban atap ambruk di SMKN 1 Cileungsi, Kabupaten Bogor, Kamis (11/9/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wildan, Ega, dan siswa kelas 12 lainnya yang menjadi korban atap ambruk di SMKN 1 Cileungsi, Kabupaten Bogor, Kamis (11/9/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Pagi itu, Rabu (10/9), aktivitas belajar di SMKN 1 Cileungsi, Kabupaten Bogor, berjalan normal. Di salah satu ruang kelas lantai atas, siswa kelas 12 tengah mengikuti sosialisasi sertifikasi kerja. Suasana serius berubah menjadi kepanikan dalam hitungan detik.
“Lagi ini, lagi sosialisasi buat sertifikasi kerja gitu. Pas sesi tanya jawab, keluar bunyi gitu. Kayak bunyi ranting retak, tapi kencang,” kenang Wildan, salah satu siswa kelas 12 saat ditemui di sekolahnya, Kamis (11/9).
Tak lama kemudian, atap kelas itu ambruk. Wildan mengaku tak ada kesempatan untuk menyelamatkan diri.
“Nggak sempat (ke luar kelas). Bunyi, langsung jatuh semua,” ujarnya.
Atap kelas yang ambruk di SMKN 1 Cileungsi, Kabupaten Bogor, Kamis (11/9/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Bongkahan genteng menimpa tubuhnya, membuatnya terluka. Sembari bercerita, ia menunjukkan perban yang menutupi lima jahitan di kepalanya.
Di sebelahnya, Ega mengalami kondisi yang tak kalah buruk. Bahunya tertimpa asbes, lalu kepalanya terbentur plafon hingga bocor.
“Kan saya yang ketiban ini dulu (bahu). Pas saya berdiri, baru saya kepentok sama plafon. Jadi (kepala) saya kena, bocor,” ceritanya.
Ega, siswa kelas 12 yang menjadi korban atap ambruk di SMKN 1 Cileungsi, Kabupaten Bogor, Kamis (11/9/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Sama seperti Wildan, Ega juga menunjukkan kepalanya yang kini diperban. Namun, jumlah jahitan di kepalanya lebih sedikit, yakni dua jahitan.
Awalnya Ega memilih pulang ketimbang dibawa ke rumah sakit, namun tubuhnya mendadak lemas setibanya di rumah. Berbeda dengan Wildan yang langsung menuju rumah sakit dengan ambulans.

Kekacauan di Ruang Kelas

Petugas BPBD Kabupaten Bogor menyelamatkan barang siswa yang teringgal di reruntuhan atap bangunan SMKN 1 Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/9/2025). Foto: Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO
Dalam sekejap, ruang kelas yang penuh siswa berubah kacau. Debu mengepul, serpihan material berjatuhan.
Chaos, pokoknya chaos parah. Ada yang suka dan duka. Ada yang teriak-teriak, ada yang nge-vlog. Ada yang TikTokan. Yang nangis banyak banget, ada cewek pada nangis,” ujar Ega.
“Ada yang sesak napas juga mungkin kena debu. Ada cewek kelas 10 yang kejepit ya. Soalnya itu pas jatuh, dibawa ke rumah sakit, kepala saya isinya debu semua di sini, di belakang,” lanjutnya.
Beberapa siswa hanya mengalami lecet ringan atau terkena serpihan debu di mata. Namun ada pula yang luka lebih serius, mulai dari kepala bocor hingga retak tulang rusuk. Seorang siswa bahkan disebut mengalami gegar otak.
“Ini retak tulang rusuk di dada. Ada yang gegar otak juga. Setahu saya itu cewek,” tutur Ega.

Respons Cepat dan Penanganan

Kepala Sekolah SMKN 1 Cileungsi, Meisye Yeti, saat ditemui di SMKN 1 Cileungsi, Kabupaten Bogor, Kamis (11/9/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Kepala SMKN 1 Cileungsi, Meisye Yeti, menuturkan seluruh siswa terkejut saat kejadian. Hal itu dikarenakan atap ambruk secara tiba-tiba tanpa tanda-tanda.
“Informasi dari anak-anak yang mengalami kejadian bahwa keadaan batu yang jatuh, satu pluk-pluk, ternyata pas lama-kelamaan langsung ambruk seperti itu. Itu yang menjadikan anak-anak langsung mungkin kaget. Ada yang teriak dan lain-lain,” ujarnya.
Meski begitu, ia bersyukur evakuasi berlangsung dengan cepat.
“Alhamdulillah dengan gercepnya (gerak cepat) dari para guru dan siswa juga, ini saling membantu-bantu, ditambah lagi dengan Kapolsek dan Damkar, Puskesmas juga ada 10 ambulans ke sini, sehingga antisipasi untuk korban yang lainnya. Dan Alhamdulillah korban jiwa tidak ada,” kata Meisye.
Meisye menyebut, seluruh biaya pengobatan para korban juga ditanggung oleh Pemerintah Daerah Jawa Barat.
“Alhamdulillah semua pengobatan dicover oleh pemerintah daerah, sangat luar biasa. PLN juga, takut-takut ada kebakaran dan lain-lain, itu sangat gercep untuk musibah hari kemarin,” tambahnya.

Luka Fisik dan Trauma

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menjenguk siswa SMKN 1 Cileungsi yang menjadi korban insiden atap ambruk di Radjak Hospital Cileungsi, Kamis (11/9). Dok. Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Meski luka fisiknya berangsur pulih, Ega mengaku dirinya masih dihantui trauma.
“Kalau di rumah tidur, menghadap ke atas, jadi takut. Jadi kan tidur miring kanan saya juga, lurus enggak bisa. Ya gitu, trauma dikit kalau lihat ke atas,” ucapnya.
Perasaan itu berbeda dengan Wildan yang merasa baik-baik saja.
“Kalau aku sih enggak (trauma) sih,” katanya singkat.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menjenguk siswa SMKN 1 Cileungsi yang menjadi korban insiden atap ambruk di Radjak Hospital Cileungsi, Kamis (11/9). Dok. Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Namun, keduanya sama-sama berharap perbaikan gedung segera dilakukan agar proses belajar kembali normal.
“Harapannya yang sakit cepat sembuh. Terus cepat diperbaiki juga gedungnya,” ujar Wildan.
Untuk sementara, kegiatan belajar di SMKN 1 Cileungsi pun dialihkan menjadi daring hingga hari Jumat. Mulai Senin, mereka berencana akan kembali belajar di sekolah walau bergiliran.
“Untuk kegiatan belajar mengajar hari ini, hari Kamis dan hari Jumat full daring. Insyaallah untuk hari Senin kita akan bergilir. Ada yang daring, ada yang luring. Khususnya untuk pembelajaran produktif itu tidak bisa secara daring. Harus memang betul-betul anak-anak melaksanakan kegiatan praktik di sekolah,” jelas Meisye.
Bagi siswa kelas 12 yang sedang praktik kerja lapangan (PKL), sekolah juga memberikan dispensasi untuk siswa yang terdampak.
“Yang terdampak diliburkan dulu. Dari sekolah ngasih surat (ke perusahaan tempat PKL),” kata Wildan.
Petugas BPBD Kabupaten Bogor menyelamatkan barang siswa yang teringgal di reruntuhan atap bangunan SMKN 1 Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/9/2025). Foto: Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO
Atap ruangan kelas di SMKN 1 Cileungsi, Kabupaten Bogor, tiba-tiba ambruk saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, pada Rabu (10/9) pukul 10.00 WIB.
Peristiwa itu mengakibatkan 31 korban luka-luka. Sebanyak 21 orang dirawat di Rumah Sakit Thamrin dan 5 orang di Rumah Sakit Merry telah selesai penanganan dan diperbolehkan pulang.
Saat ini, 5 orang lainnya masih menerima perawatan di Rumah Sakit Thamrin. Penyebab ambruknya atap juga belum diketahui dan masih diinvestigasi.
Trending Now