Dari Panen ke Edukasi: Ladang Farm Cilandak Jadi Destinasi Agrowisata di Jakarta

25 Oktober 2025 13:57 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dari Panen ke Edukasi: Ladang Farm Cilandak Jadi Destinasi Agrowisata di Jakarta
Ladang Farm Cilandak kini menjadi destinasi agrowisata dan edukasi baru di Jakarta. Apa saja keistimewaannya?
kumparanNEWS
Pengunjung memetik sayuran hidroponik di Ladang Farm, Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (25/10/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung memetik sayuran hidroponik di Ladang Farm, Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (25/10/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Tangan-tangan pengunjung tampak sibuk menanam bibit selada di rak-rak putih yang bertingkat. Perbincangan mereka berbaur dengan suara mesin air yang menambah hidup suasana.
Mereka belajar bercocok tanam hidroponik di Ladang Farm Cilandak, pertanian vertikal setinggi 18 meter yang kini menjadi destinasi agrowisata dan edukasi baru di Jakarta.
Ladang Farm awalnya bukanlah tempat wisata. Sejak dibangun tahun 2022 dan beroperasi pada tahun 2024, fokus utamanya adalah produksi pangan segar yang dijual ke sektor hotel, restoran, kafe hingga marketplace. Namun seiring waktu, pamornya justru berkembang di luar dugaan.
“Kalau edukasi dan agrowisata itu terbentuk saat kita muncul di sosial media. Jadi kita, kan, operasional di tahun 2024. Kita baru bisa ke luar ke masyarakat atau ke sosial media itu baru kurang lebih 6 bulan yang lalu. Jadi terbentuknya edukasi dan orang berkunjung itu baru sekitaran 4 bulan,” ujar General Manager Ladang Farm Teknologi Nova Riswanto, saat ditemui di Ladang Farm, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (25/10).

Dari Panen ke Pengalaman

Pekerja menyiram sayuran hidroponik di Ladang Farm, Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (25/10/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Awalnya Ladang Farm hanya berfokus pada panen dan distribusi hasil tanam. Namun sejak viral di media sosial, masyarakat mulai datang. Bukan hanya untuk membeli sayur, tapi juga ingin tahu cara menanamnya.
“Iya, karena, ya, permintaan dari masyarakat lah,” kata Nova.
Menjawab antusiasme itu, Ladang Farm kini membuka dua jenis program. Pertama, program kunjungan atau visit dengan biaya registrasi Rp 50 ribu. Pengunjung bisa membawa pulang satu tanaman dari lima jenis komoditas yang ditanam di sana.
“Jadi nanti itu kalau program visit atau kunjungan itu bisa panen sendiri,” jelas Nova.
Kedua, program edukasi hidroponik yang dibagi menjadi dua paket. Paket pertama seharga Rp 100 ribu mencakup pembelajaran dari persemaian hingga panen. Sedangkan paket kedua, dengan biaya Rp 150.000, dilengkapi peralatan sederhana berupa sistem wick agar peserta bisa praktik di rumah.
Untuk umum, kegiatan ini digelar setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu, dengan dua sesi: pagi dan siang. Namun, pelajar atau komunitas juga bisa menjadwalkan sesi khusus di hari kerja.

Mengajarkan Bertani di Tengah Kota

General Manager Ladang Farm Teknologi Nova Riswanto saat ditemui di Ladang Farm, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (25/10/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Menurut Nova, program edukasi ini membawa manfaat nyata bagi masyarakat perkotaan.
“Manfaatnya bisa agar masyarakat Jakarta atau Jabodetabek yang ingin belajar edukasi di Ladang Farm itu jadi bisa membuat di rumah dengan sistem yang sederhana, sistem pertanian di hidroponik,” ujar Nova.
“Apalagi di perkotaan, karena, kan, di perkotaan, kan, tidak bisa bertani kecuali dengan sistem hidroponik,” lanjutnya.
Ia menilai, hidroponik bisa menjadi solusi ketahanan pangan rumah tangga. Masyarakat bisa menanam untuk konsumsi pribadi, bahkan berbagi hasil panen dengan tetangga.
Menurutnya, sejak dikenal publik, dukungan masyarakat pun deras mengalir.
“Semenjak kita keluar, muncul di masyarakat, di sosial media, dukungannya sangat bagus. Kayak contohnya di lingkungan kelurahan itu sangat bagus. Karena, ya, bisa mengajarkan masyarakat untuk bisa bertani di perkotaan,” tambah Nova.
Bagi pengunjung, pengalaman di Ladang Farm menawarkan sesuatu yang berbeda dari wisata kota pada umumnya. Albert (30), salah satu pengunjung, datang bersama ibunya setelah melihat konten Ladang Farm di media sosial.
Albert (30), pengunjung yang mengikuti edukasi hidroponik di Ladang Farm Teknologi, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (25/10/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
“Yang pertama tahunya dari sosial media, tahunya dari TikTok dan terus kebetulan ke sini juga ngajak ibu, soalnya beliau suka nanam-nanam hidroponik,” kata Albert.
“Cukup menarik juga, ya, untuk sesuatu jadi tempat wisata edukasi yang ada di Jakarta, ya,” sambungnya.
Ia mengaku ikut menikmati pengalaman menanam dan panen sayuran secara langsung.
“Kalau saya belajar nanam dari beliau, belajar nanam dari beliau, tapi untuk saya kerjaannya enggak ke arah sana. Tapi kalau lagi iseng-iseng, ya, di rumah nanam-nanam cabai, nanam-nanam selada bareng beliau juga,” tuturnya sambil tersenyum.
Bagi Albert, konsep pertanian vertikal di Ladang Farm adalah bentuk inovasi yang tepat untuk kota sepadat Jakarta.
“Yang pertama ini inovatif banget. Apalagi tadi sudah dijelasin kenapa dibikin vertical farming, karena enggak ada lahan lagi, ya, untuk tanam-tanam. Kedua, kenapa hidroponik, ya, banyak faktornya, faktor cuaca, faktor lain-lain,” ujar Albert.
“Jadi kalau adanya vertical farming ini ya inovatif banget, apalagi bisa dijadiin sebagai wisata edukasi juga buat masyarakat Jakarta dan sekitarnya,” ujarnya.

Alternatif Wisata Baru di Jakarta

Selain menambah wawasan, Albert merasa kegiatan di Ladang Farm juga memberi pengalaman berharga bagi warga kota yang terbiasa dengan rutinitas mal atau kafe.
“Menurut saya pribadi sebagai warga Jakarta, kayaknya kalau misalnya bosen ke mal atau tempat-tempat nongkrong yang lain, mungkin bisa ke sini ke vertical farming,” kata Albert.
“Di sini kita bisa belajar banyak tahu atau buat yang enggak tahu, mungkin bisa jadi ilmu baru buat warga Jakarta dan sekitarnya. Karena kembali lagi ini wisata edukasi yang benar-benar edukasi yang ada di Jakarta,” pungkasnya.
Trending Now