Demo Gen Z di Peru Berakhir Ricuh, 19 Orang Terluka
29 September 2025 11:44 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Demo Gen Z di Peru Berakhir Ricuh, 19 Orang Terluka
Demo di Peru yang dimotori Gen Z berakhir ricuh. 19 orang dilaporkan terluka.kumparanNEWS

Demo di Peru yang dimotori Gen Z berakhir ricuh. Dikutip dari AFP, Senin (29/9), setidaknya 19 orang terluka termasuk satu petugas polisi dalam demo yang menentang pemerintahan Presiden Peru Dina Boluarte dan Kongres.
Ratusan orang berdemo selama akhir pekan menuju gedung pemerintahan pusat di Lima di bawah pengawalan ketat polisi. Kelompok anak muda melempar batu, bom molotov dan kembang api ke arah polisi, dan polisi merespons dengan menembak gas air mata dan peluru karet.
Koordinator Hak Asasi Manusia Nasional (CNDDHH) melaporkan pada Minggu (28/9) bahwa 18 orang termasuk satu jurnalis terluka selama bentrokan.
"Seorang polisi menderita luka bakar tingkat satu dari bom molotov selama demo yang diselenggarakan berbagai kelompok," kata polisi nasional dalam keterangannya.
Sementara CNDDHH menyalahkan polisi atas demo yang berakhir ricuh dan bentrokan.
"Kami meminta polisi menghormati hak masyarakat untuk demo. Tidak ada pembenaran untuk menembakkan gas air mata dalam jumlah besar, apalagi untuk menembak orang," kata pengacara CNDDHH, Mar Perez.
Dalam demo yang berlangsung Minggu kemarin, ratusan pekerja transportasi dan Gen Z turun ke jalan memprotes dugaan korupsi dan pemerasan. Namun, demo itu dibubarkan oleh polisi lewat tembakan gas air mata.
"Kami berdemo melawan korupsi, untuk seumur hidup dan melawan kejahatan yang membunuh kami setiap hari," kata seorang demonstran, Adrianan Flores.
Demonstrasi meningkat sejak pemerintahan Boluarte mengesahkan UU yang mewajibkan anak muda berkontribusi pada dana pensiun swasta, terlepas dari ketidakpastian pekerjaan dan tingkat pengangguran mencapai lebih dari 70%. UU itu disahkan pada 5 September lalu.
Tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Boluarte pun anjlok di akhir masa jabatannya yang akan berakhir pada 28 Juli 2026.
Situasi yang sama juga dihadapi Kongres yang mayoritas konservatif. Sejumlah jajak pendapat mengungkapkan, tingkat kepuasan terhadap Kongres anjlok karena korupsi.
Aksi demo pun meningkat di Peru selama 6 bulan terakhir menyusul meningkatnya gelombang pemerasan dan pembunuhan oleh kelompok kejahatan terorganisir.
