
Densus 88 Beberkan Indoktrinasi Anak Melalui Online Game
24 November 2025 19:32 WIB
Β·
waktu baca 8 menit
Densus 88 Beberkan Indoktrinasi Anak Melalui Online Game
Densus 88 menyebut game online menjadi medium baru penyebaran paham radikalisme. Kelompok teror diduga merekrut anak ke dalam jaringan terorisme melalui game dan medsos #kumparanNewskumparanNEWS
Berawal main bareng (mabar) game online, berakhir jadi korban paparan paham radikalisme. Gim online disebut menjadi medium baru kelompok terorisme merekrut dan menyebar paham kekerasan kepada anak.
Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) mengidentifikasi tahun ini ada sekitar 110 dari 23 provinsi terpapar paham radikalisme. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan temuan tahun 2011-2017 yang hanya sekitar 17 anak teridentifikasi terpapar jaringan terorisme.
Ratusan anak ini disebut korban perekrutan kelompok terorisme melalui media sosial dan gim online. Tingkat keterpaparan mereka beragam, ada yang sekadar berpartisipasi aktif dalam grup, ada yang ikut menyebarkan konten, hingga anak yang berencana melakukan aksi pengeboman.
Identifikasi dini cepat tersebut dilakukan Densus 88 pasca peristiwa di SMAN 72 Jakarta Utara. Peledakan bom oleh siswa tersebut menjadi sinyal kerentanan anak terpapar kekerasan.
Anak usia sekolah yang notabene sebagai pengguna gim online menjadi target empuk propaganda dan ajaran-ajaran radikal. Pertanyaannya, bagaimana kelompok teror mencoba merekrut atau menanamkan paham radikal kepada anak melalui gim online?
Guna memperoleh gambaran utuh, kumparan berbincang langsung dengan Jubir Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana:
Seperti apa pola kelompok yang diduga kelompok kekerasan tersebut menyebarkan paham dan merekrut anak melalui gim online?
Jadi, berawal dari game online mereka melakukan aktivitas: main bersama atau mabar di beberapa fitur atau platform game online yang menyediakan fitur komunikasi. Jadi mereka bisa melakukan interaksi secara chating-an, kemudian diskusi. Tentunya itu memerlukan waktu yang tidak sebentar, continue, dan memiliki komunitas permainan yang sama. Sehingga ada waktu mereka saling mengenal.
Terkait dengan pola rekrutmen yang terjadi di dalam penyelidikan Densus 88, itu mereka [kelompok teror] bisa memitigasi akun-akun yang memang di belakangnya itu ada operator-operator yang potensial dan bisa direkrut secara ideologis. Di sana mulai mereka memetakan, kemudian menawarkan beberapa permainan yang memang makin menjurus kepada tindak-tindak kekerasan atau aksi-aksi heroik terlebih dahulu, dibangun dari narasi kepahlawanan. Kemudian setelah terpilih gitu, mereka mulai memasukkan dengan keyakinan-keyakinan untuk membentuk yang namanya virtual belief, virtual community belief yang pengikutnya tidak saling kenal sebelumnya.
Setelah terbentuk itu, maka akan ada kesamaan visi, kesamaan gagasan, cita-cita, bahkan fantasi anak-anak juga dibawa kepada sebuah cita-cita utopia. Dari sana mereka [korban anak] akan dibawa lagi ke dalam grup yang lebih terenkripsi, juga mereka tawarkan beberapa grup komunitas yang terbuka, seperti menyediakan open channel, tidak perlu admin invite, itu mereka bisa masuk. Ada juga yang memang admin ini sengaja meng-invite. Beberapa anak-anak yang mungkin selektif, mereka keluar. Ada juga yang pasif, tetap ada di dalam grup itu, sambil melihat-lihat, tidak berinteraksi, tidak merespons, tetapi cukup dia lihat saja gitu.
Ini bisa kita katakan terpapar juga daripada kontennya. Ada juga yang merespons gitu dengan mengomentari beberapa insiden atau mungkin pancingan-pancingan yang sengaja dilempar oleh admin. Dan ada yang sangat terpapar aktif dengan indikator mereka melakukan share kembali kepada teman-temannya atau mungkin dia menarik temannya untuk masuk bergabung.
Apa saja jenis gimnya?
Gimnya, tentunya [yang - red] membutuhkan peserta yang banyak bisa terlibat di sana, kemudian terjadi interaksi, dan rivalitas [sejenis gim battle arena - red].
Di dalam temuan Densus 88, memang battle arena-nya ini betul-betul diset seperti kejadian di Timur Tengah. Seperti kejadian peperangan di Suriah, di Irak, dengan menggunakan logo-logo yang custom seperti bendera ISIS, [pake] ikat kepala. Kemudian seragam-seragam militer yang memang identik dengan pergerakan kelompok ISIS yang sudah dijadikan sebagai kelompok teroris internasional.
Jadi, itu mereka custom sendiri, mereka melakukan latihan secara virtual di beberapa game online.
ISIS yang dimaksud adalah: Islamic State of Iraq and Syria.
Bagaimana cara komunitas kekerasan ini mendekati anak-anak dalam gim online?
Jadi setelah mereka beradaptasi, saling mengenal, membangun kepercayaan, tidak langsung diajak bicara tentang terorisme. Tetapi diberikan sesuatu yang menurut anak-anak ini menarik. Itu dulu: membangun ketertarikan, kemudian terjadi rasa nyaman oleh si anak, dan mereka [kelompok teror] lama-lama berpikir bahwa ini sudah satu visi dengan kami. Mulailah ditawarkan gagasan-gagasan. Karena ini bermainnya di wilayah pemikiran [doktrinasi - red].
Kelompok anak seperti apa yang mereka target?
Anak-anak yang termarjinalkan. Anak-anak yang hidup di dalam situasi tidak normal di dalam sebuah keluarga, yang komunikasinya kurang dan sebagainya. Itu kami menemui banyak di antara 110 anak yang teridentifikasi. Juga anak-anak yang menjadi korban bully.
Mengapa anak-anak tertarik menyambut komunikasi atau grup yang disediakan kelompok tersebut?
Banyak indikator kerentanan mereka tertarik.
Dan secara aktualisasi diri juga, mereka [korban anak] butuh ruang untuk mengaktualisasikan dirinya. Ketika dia tidak dapat, βApa nih kemampuan saya? Apa prestasi saya?β, maka komunitas [kekerasan] ini menawarkan itu: βKamu akan jadi seseorang yang heroik, kamu akan jadi seorang yang idealisβ dan sebagainya yang ditawarkan; bahwa kamu beda dengan yang lain.
Ini yang membuat beberapa orang tertarik gitu. Itu propagandanya.
Mengapa anak menjadi target?
Anak jadi target karena mereka awam. Mereka tidak ngerti hukum. Mereka memiliki banyak kelonggaran. Kelonggaran secara hukum, kelonggaran secara perlakuan dan sebagainya. Mereka menjadi investasi jangka panjang bagi kelompok teror untuk melestarikan ideologi.
Mungkin kita ingat kasus bom di Surabaya. Pelakunya itu satu keluarga; dia kenanya [terpapar radikalisme] dari sekolah. Dan proses itu begitu lama, dia sudah berkeluarga, punya anak, punya istri, baru melakukan aksi. Rentang berapa lama itu?
Jadi, ketika kita tarik mundur dengan apa yang terjadi sekarang, kita bayangkan betapa mengerikannya ketika hal ini dibiarkan. Makanya harus segera dihentikan.
Densus 88 melakukan deteksi dini dengan mengamankan 110 anak dari 23 provinsi yang disebut terpapar paham radikal. Mereka akan dibina dan dilakukan deradikalisasi.
Anak tentunya yang paling rentan. Yang paling rentan ini yang seperti apa? Yang mungkin dia punya keterbatasan-keterbatasan akses di dalam membandingkan informasi yang diterima. Dia tidak ada tempat untuk bertanya ini benar atau tidak. Dia tidak mendapatkan tempat untuk meng-cross check kembali, mendapatkan second opinion.
Seberapa jauh keterpaparan dari 110 anak yang sudah teridentifikasi itu?
Kita menangani beberapa anak, dan psikolog bilang ini terpapar 80%. Bisa jadi ada yang di atas itu. 80% itu hal yang bukan main-main. Artinya, perlu pendekatan yang sangat intens untuk melakukan deradikalisasi.
Semuanya kita bisa katakan terpapar. Karena dia di-invite di grup, dia menerima konten-konten. Ketika kita lihat informasi konten saja, berapa orang yang melakukan, membaca dan melihat. Itu sudah kategori terpapar.
Jadi, artinya kalau bicara eksposur, hampir semua yang di dalam grup itu terpapar. Hanya tingkat keterpaparan tadi kan ada ada kategori aktif, ada pasif, ada betul-betul silent reader, ada yang beberapa kali ingin keluar dari grup itu tapi di-invite lagi, keluar lagi, di-invite lagi.
Bagaimana cara Densus 88 melakukan deradikalisasi terhadap anak yang teridentifikasi terpapar paham radikal itu?
Kami menggunakan soft approach dan soul approach. Pendekatan yang sangat lembut, pendekatan humanis. Pendekatan yang memang berorientasi kepada masa depan anak. Pendekatan yang paling aman untuk privasi anak ini. Menjauhkan anak-anak ini dari stigma. Dan edukasi yang nomor satu.
Jadi, bukan penegakan hukum. Visi kita dalam menangani anak ini adalah menghindarkan generasi muda dari segala hal-hal yang negatif termasuk radikalisme dan terorisme. Anak-anak ini aset bangsa, masa depan bangsa yang harus dijaga. Mereka punya masa depan yang masih sangat panjang.
Adanya peristiwa ini, kita berharap mereka sadar bahwa ini hal yang tidak baik, sehingga segera diputus ya proses rekrutmen ini.
Beberapa diundang di dalam semacam rumah aman, dinas sosial. Ada yang tokoh agama datang untuk visit. Bahkan beberapa orang yang pernah terpapar dan dia tersadar pun kita sampaikan ke mereka bahwa testimoninya mereka berharga. Jadi, bahkan mantan teroris yang sudah sadar kita ajak juga untuk melakukan deradikalisasi kepada anak-anak ini.
Jenis kekerasan dan paham radikal apa saja yang memapar anak-anak ini?
Densus menemukan banyak varian. Termasuk di dalam penyelidikan SMA 72 kemarin: [paham neo-Nazi dan white supremacy]. Kalau seperti neo-Nazi sudah jelas itu pergerakan politik. Kemudian white supremacy itu keunggulan ras.
Ada juga beberapa aliran seperti naturalis. Naturalis itu kemarin kan breakdown daripada teori Charles Darwin; bahwa yang mampu berevolusi itu yang paling kuat. Jadi, itu juga mereka pakai. Artinya beberapa varian inspirasi ini tidak ada kaitannya dengan agama sama sekali gitu.
Inspirasi kekerasan yang diperoleh anak beragam. Bukan hanya terkait yang bermotif jihad agama.
Apa rekomendasi Densus 88 kepada orang tua dan sekolah terkait adanya indoktrinasi gaya baru ini: melalui gim dan media sosial?
Orang tua yang memiliki anak-anak pastinya bisa memahami apakah anak saya ini perilakunya berubah di dalam penggunaan device, gadget dan lain-lain. Beberapa orang tua dari 110 anak lebih ini, mereka merasakan anak-anak mereka berubah. Indikatornya, mereka makin menyendiri, makin mengunci diri. Kemudian eksklusif.
Kalau memang keterpaparan yang tinggi di dalam paham-paham eksklusif ini, mereka akan cenderung menyalah-nyalahkan ritual keagamaan, komunitas sosial. Itu sudah menjadi jembatan menuju pemikiran teror. Ketika orang sudah menganggap dirinya benar dan yang lain ini salah semua, otomatis sifat kekejiannya akan masuk. Sama di beberapa aliran terorisme atau mungkin aliran pergerakan atau aliran kekerasan rasis yang lain juga, mereka tega untuk menyakiti orang lain karena mereka merasa yang paling superior.
Orang tua bisa merasakan itu tentunya.
Gerbang pertama kali yang bisa mencegah ini orang tua. Karena orang tua punya otoritas membatasi penggunaan gawai, memastikan device yang anak gunakan memang untuk kegiatan pendidikannya dan sebagainya. Selain itu, orang tua wajib mempertanyakan, ke mana saja anak saya berselancar di media sosial gitu atau di internet.