Densus 88 Ungkap Pengakuan 70 Anak Terpapar Radikalisme: Buat Bom-Ledakkan Kelas

7 Januari 2026 15:27 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Densus 88 Ungkap Pengakuan 70 Anak Terpapar Radikalisme: Buat Bom-Ledakkan Kelas
Densus 88 Antiteror Polri mengungkap terdapat 70 anak di bawah umur yang terpapar radikalisme serta paham Neo-Nazi dan white supremacy.
kumparanNEWS
Konpers Penanganan Anak Terpapar Konten Kekerasan di Ruang Digital oleh Polri bersama BNPT dan KPAI di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu (7/1/2026). Foto: Abid Raihan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konpers Penanganan Anak Terpapar Konten Kekerasan di Ruang Digital oleh Polri bersama BNPT dan KPAI di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu (7/1/2026). Foto: Abid Raihan/kumparan
Densus 88 Antiteror Polri mengungkap terdapat 70 anak di bawah umur yang terpapar radikalisme serta paham Neo-Nazi dan white supremacy. Mereka tersebar di 19 provinsi dan memiliki grup media sosial, salah satunya bernama True Crime Community.
Juru Bicara Densus 88, AKBP Myandra Eka Wardhana, mengatakan berdasarkan hasil wawancara terhadap anak-anak tersebut, ditemukan adanya motif untuk melakukan aksi kekerasan di sekolah.
β€œDari wawancara yang dilakukan oleh penyelidik, kami menemukan bahwa anak-anak ini, di wilayah yang berbeda-beda, berencana melakukan bunuh diri setelah meledakkan beberapa kelas,” kata Eka di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (7/1).
Tangkapan layar Kasubdit Kontra Naratif Direktorat Pencegahan Densus 88 Anti Teror Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana dalam acara Diskusi Global Terrorism Index 2025, yang dipantau secara daring di Jakarta, Kamis (10/4/2025). Foto: YouTube/BNPT
β€œDi sini disebutkan kelas 7, kelas 8, kelas 9. Lalu membantai guru serta mensabotase CCTV. Sasaran aksinya adalah teman sekolah dan guru,” sambungnya.
Eka menuturkan, rencana aksi kekerasan tersebut mendapat dorongan dari grup yang mereka ikuti. Para anggota grup bahkan saling mendukung.
β€œMereka mengajarkan kepada para anggota grup cara membuat bom, salah satunya bom pipa. Mengajarkan kepada anggota grup cara membuat peluru, serta ikut serta dalam pembicaraan tentang bagaimana membuat pipa menjadi barang yang berbahaya dan mematikan,” jelas Eka.

Punya Atribut Neo-Nazi dan White Supremacy

Selain itu, para anggota grup tersebut, kata Eka, juga memiliki atribut sebagai simbol kelompok mereka.
β€œJuga atribut-atribut yang ber-genre kekerasan seperti Neo-Nazi, white supremacy, dan lain-lain,” ungkapnya.
Eka mengungkapkan, niat melakukan kekerasan ini juga muncul dari pengaruh game bergenre kekerasan.
β€œSelain itu, ada keterkaitan dengan inspirasi dari beberapa game bergenre kekerasan. Di mana kita ketahui, dari beberapa informasi terakhir yang kami dapatkan, juga terjadi kekerasan serupa yang menimpa keluarga dan sebagainya. Namun, dalam kasus ini sasarannya adalah sekolah,” tandasnya.
Trending Now