Di Antara Desakan dan Deru Rel: Potret Kehidupan Pengguna KRL di Jam Sibuk
5 November 2025 21:15 WIB
·
waktu baca 2 menit
Di Antara Desakan dan Deru Rel: Potret Kehidupan Pengguna KRL di Jam Sibuk
Matahari boleh saja tenggelam, tapi denyut Stasiun Tanah Abang belum ikut mereda. Sore berganti malam tanpa mengubah riuh langkah manusia yang berjejal di peron menanti KRL.kumparanNEWS

Matahari boleh saja tenggelam, tapi denyut Stasiun Tanah Abang belum ikut mereda. Sore berganti malam tanpa mengubah riuh langkah manusia yang berjejalan di peron.
Rabu (5/11) malam, antrean penumpang mengular dari ujung ke ujung peron arah Rangkasbitung. Tubuh-tubuh berimpitan, gerak pun terbatas—seolah seluruh energi kota yang sibuk menumpuk di satu titik kecil bernama Tanah Abang.
Wajah-wajah lelah namun tampak terbiasa memenuhi peron, sebagian membawa tas kerja, sebagian lagi memanggul dagangan. Mereka sama-sama menempuh rutinitas yang padat di atas rel, menembus kepadatan demi mencari nafkah.
Ari (22) adalah salah satunya. Karyawan kantoran ini setiap hari menempuh perjalanan dari rumahnya di Maja menuju kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan.
"Kalau dari daerah rumah itu satu-satunya (transportasi) ya KRL," katanya yang tampak lelah saat bercerita kepada kumparan.
Dari Maja, Ari naik KRL hingga Tanah Abang, lalu transit ke arah Sudirman. Setiap pagi, jam 6 hingga 8, menjadi waktu paling padat baginya.
"Kalau untuk berangkat di rush hour lumayan padat sih. Mungkin sampai kejepit atau terdorong-dorong di dalam gerbong,” ujarnya.
Meski begitu, ia mengaku sudah terbiasa dengan suasana sesak macam itu.
"Kalau untuk pribadi sih fine-fine aja," katanya.
Menurut Ari, kepadatan di pagi hari jauh lebih tinggi dibanding waktu pulang kerja.
"Kalau pulang agak sedikit senggang. Biasanya jam tujuh malam baru balik," ujarnya.
Cerita serupa datang dari Harwadi (50) seorang pedagang tape uli, lepet, dan asinan yang biasa berjualan di kawasan Kelapa Gading.
Setiap hari ia berangkat dari Sudimara menuju Kemayoran, transit di Tanah Abang. “Padatnya setiap Senin sampai Jumat lah. Macet di dalam keretanya. Mobil juga macet,” tuturnya.
Harwadi membawa dagangan dalam perjalanan, dan harus pintar-pintar memilih waktu naik. “Biasa nunggu yang longgar dulu. Selalu berdiri naik keretanya. Jarang duduk, kecuali Sabtu-Minggu,” katanya.
Di akhir pekan, suasana sedikit lebih lega. “Lebih mending, longgar,” tambahnya.
Baginya, arah mana pun sama saja. “Arah Bekasi juga padat. Saya suka naik hari Sabtu, jualan juga. Tanah Abang sama Bekasi hampir sama,” katanya.
