Di Balik Cairan Merah Pohon Randu Alas di Borobudur
15 Januari 2026 7:43 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
Di Balik Cairan Merah Pohon Randu Alas di Borobudur
Sebuah pohon randu alas yang diyakini berusia ratusan tahun di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. kumparanNEWS

Sebuah pohon randu alas yang diyakini berusia ratusan tahun di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ramai di perbincangkan di media sosial. Pohon itu semula akan ditebang, namun akhirnya penebangan diurungkan.
Rabu (14/1), kumparan mengunjungi pohon randu alas itu. Tinggi pohon 30 meter lebih. Sementara diameternya, delapan orang dewasa memeluknya pun tampaknya tak cukup mencangkup tubuh pohon. Kondisi pohon tampak mengering.
Beberapa ranting dari pohon randu alas ini telah dipangkas pada Senin (12/1) lalu. Ranting-ranting pohon tampak berserakan di samping pohon yang masih berdiri gagah.
Sebelumnya warga telah bersepakat menebang pohon karena kondisinya yang sudah tampak mati mengering. Ini dinilai berbahaya karena kondisi pohon berada di samping jalan raya dan lapangan.
Selain itu sebagai desa wisata, Tuksongo selalu dihadiri wisatawan. Jika sampai pohon tumbang dikhawatirkan menimbulkan korban.
"Dulu-dulunya simbah-simbah saya itu, ini kan tanah pribadi kemudian yang sebelahnya tanah bengkok. Ini ditanami randu ini untuk batas tanah, zaman dulu," kata warga yang rumahnya tak jauh dari randu alas, Haji Ashari Munhajir (53).
Tak ada yang tahu pasti usia randu alas ini. Namun diperkirakan usianya 200 sampai 300 tahun. Ashari mengatakan ketika dia kecil, randu alas ini juga sudah seperti ini.
"Saya sudah nalar (besar) pohonnya sudah besar seperti ini," katanya.
Pada tahun 1990-an, pohon randu diwakafkan ke masjid. Oleh pengurus masjid dijual ke perorangan seharga Rp 900 ribu. Namun oleh sebagian masyarakat dicegah agar tidak ditebang karena untuk simbol atau ikon desa.
"Kemudian gagal (dijual). Terus sampai sekarang yang mempunyai masyarakat. Tapi posisi tanahnya ada separuh di tempat pribadi ada yang di tanah milik desa," bebernya.
Getah Berwarna Merah
Saat ranting ditebang, Ashari menyampaikan muncul ulat dari dalam ranting pohon.
Di media sosial juga ramai pohon mengeluarkan cairan merah serupa darah.
"Getah itu kalau randu merah memang getahnya pohon merah. Ini jenisnya merah. Bukan terus darah," tegasnya.
Ashari mengatakan saat ini pihaknya masih tunggu hasil kajian dari Pemkab Magelang. Tapi yang utama dari warga adalah segi keamanan masyarakat.
"(Pemkab kalau menyatakan) bisa dirawat, tapi ada solusinya, rantingnya, atau nanti mungkin ada kompensasi apabila ada kerusakan atau kecelakaan lain-lainnya," kata Ashari.
Pohon randu ini menurut Ashari, warga memperbolehkan tetap berdiri asal ada jaminan keamanan.
"Kalau bangunan bisa dianu (perbaiki), kalau nyawa kan...," katanya.
Penasaran, Warga Kunjungi Pohon Randu Alas Raksasa Borobudur
Sejak viral di media sosial, pohon randu alas raksasa yang diduga berusia ratusan tahun di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang ramai dikunjungi masyarakat. Pohon ini viral di media sosial, karena rencananya akan ditebang tapi batal.
"Yang pertama (ke sini) karena viral. Yang kedua kami sering memantau yang rodo (agak) ada sakralnya," kata Alamtaro pengunjung dari Kabupaten Sleman, Rabu (14/1).
Dia mengaku kaget mendengar kabar pohon ini akan ditebang. Menurutnya pohon randu alas sudah jadi ikon Tuksongo.
"Ikon wisata kebanggaan Tuksongo. Saya sering ke sini," katanya.
Alamtoro meyakini, pohon ini memiliki unsur mistis. Tapi, ia tetap melihat hal positif dari pohon ini.
"Mengganggu tidak. Ada energi. Energinya positif," katanya.
Menanti Nasib Pohon Randu Alas Raksasa di Borobudur, Magelang
Pohon randu alas raksasa di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang jadi polemik antara dipertahankan tetap berdiri atau ditebang.
Warga sepakat menebang pohon karena pohon dinilai telah mati dan membahayakan mengingat berada di pinggir jalan raya dan lapangan.
Sementara ada pihak yang ingin pohon tersebut dipertahankan. Alhasil pohon ditunda ditebang atas arahan dari Pemkab Magelang.
Soal nasib pohon ini, Kepala Desa Tuksongo M Abdul Karim mengatakan pihaknya menunggu hasil kajian dari Pemkab Magelang.
"Harapan kami pohon tersebut kalau bisa diselamatkan. Tapi misalkan sudah tidak bisa ya kita harus segera ambil sikap. Karena kita utamakan keselamatan lingkungan, keamanan lingkungan," kata Karim ditemui di kantornya, Rabu (14/1).
Jangan sampai menurut Karim ketika sayang pada sesuatu tapi berdampak tak baik. Apalagi Tuksongo sering dikunjungi wisatawan.
"Kok terjadi hal yang tidak diinginkan otomatis kan tetap beban ke desa lagi. Ada kejadian kalau orang luar kan hanya menyalahkan," katanya.
Karim mengaku dilema di satu sisi pohon randu sebagai ikon desanya. Namun di sisi lain keselamatan warga juga jadi yang utama.
Pakar UGM Bicara Pohon Randu Alas: Ciri-Ciri Mati-Getah Mirip Darah
Pohon randu alas raksasa di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, jadi pro kontra antara dipertahankan atau ditebang. Pohon direncanakan ditebang karena dinilai sudah mati, ranting pohon pun kerap jatuh.
Dosen Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada (UGM), Hatma Suryatmojo, mengatakan randu alam merupakan pohon perindang. Fungsinya untuk menaungi karena tajuknya cukup tebal.
"Kalau menyimpan air, jelas. Cuma salah satu ciri dari pohon Randu itu, iya, dia memiliki percabangan yang cukup kuat, sehingga dia, itu kalau masih hidup, itu sangat jarang untuk ranting ataupun cabangnya itu patah. Jadi itu termasuk pohon yang kuat," kata Hatma saat dihubungi, Rabu (14/1).
Lantaran pohon yang kuat maka randu alas bisa berumur panjang hingga ratusan tahun. Termasuk seperti yang di Borobudur.
"Kalau secara alaminya itu rata-rata pertumbuhan diameter pohon itu ya sekitar 2 cm per tahun. Jadi dilihat saja itu nanti umurnya berapa bisa dihitung dari, dari situ," katanya.
Soal getah menyerupai darah ketika pemangkasan ranting pohon randu alas raksasa ini Hatma memberikan penjelasan. Getah ini tak bisa dikaitkan dengan hal-hal lain seperti soal mistis.
"Iya beberapa jenis itu kan memang getahnya macam-macam. Ya, ada yang berwarna ya. Ada yang putih, kemudian ada yang merah juga. Mungkin itu termasuk randu yang dia getahnya merah. Jadi ya itu alamiahnya saja," katanya.
