Esai Foto: Armani, Sang Penjaga Lentera Ilmu di Pelosok Pandeglang

29 November 2025 9:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Esai Foto: Armani, Sang Penjaga Lentera Ilmu di Pelosok Pandeglang
Guru berama Armani pantang surut semangatnya menempuh jarak 15 kilometer dari rumahnya menuju sekolah tempat ia mengajar di Kampung Batu Payung, Desa Sorongan, Cibaliung, Pandeglang.
kumparanNEWS
Guru Armani berjalan melintasi sungai Cisuakan menuju sekolah SD Negeri 2 Sorongan kelas jauh Batu Payung sepanjang tiga kilometer. Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Guru Armani berjalan melintasi sungai Cisuakan menuju sekolah SD Negeri 2 Sorongan kelas jauh Batu Payung sepanjang tiga kilometer. Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO
Rintik hujan membersamai pagi di Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten. Namun, semangat seorang guru berama Armani pantang surut, menempuh jarak 15 kilometer dari rumahnya menuju sekolah tempat ia mengajar di Kampung Batu Payung, Desa Sorongan, Cibaliung, Pandeglang.
Siswa terpeleset saat berjalan melintasi hutan untuk pulang. Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Siswa terpeleset saat berjalan melintasi hutan untuk pulang. Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO
Telah 17 tahun sarjana ekonomi salah satu kampus swasta di Jakarta itu menjalani hari sebagai guru di SD Negeri Sorongan 2. Selama 17 tahun itu pula Armani menempuh perjalanan yang tak mudah untuk bisa membimbing anak-anak di pelosok Pandenglang ini untuk meraih ilmu.
Guru Armani (kiri) berbincang dengan orang tua murid saat beristirahat menunggu hujan reda. Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO
Meski hanya berjarak 15 kilometer, butuh waktu satu jam untuk Armani menempuh perjalanan ke sekolah. Medan jalan yang terjal untuk dilalui sepeda motor tuanya, dan jalan setapak yang tidak bisa dilalui kendaraan membuat perjalanan Armani tidak mudah. Apalagi mendekati lokasi sekolah tersebut ada Sungai Cisuakan yang harus diseberangi tanpa jembatan.
Seorang siswa mencium tangan guru Armani yang baru tiba di SD Negeri 2 Sorongan kelas jauh Batu Payung. Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO
“Terkadang saya harus meliburkan sekolah saat arus sungai deras setelah hujan deras,” kata guru yang baru saja diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Penuh Waktu Kabupaten Pandeglang pada 2022 itu.
Guru Armani bercengkrama dengan siswa saat kegiatan belajar mengajar dimulai. Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO
Bagi Armani, mengajar sudah menjadi panggilan Tuhan untuknya. Medan sulit yang tiap hari ia tempuh itu bagi Armani bukan apa-apa dibanding dengan harapan besar 23 anak-anak di Kampung Batu Payung yang membutuhkan ilmu untuk masa depan.
Sejumlah siswa tidak mengenakan sepatu saat kegiatan belajar mengajar. Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO
Kini ada 23 siswa dari kelas satu hingga kelas enam SD yang ia ajar secara bergantian dalam satu ruangan kelas. Dengan keterbatasan fasilitas, mereka harus berbagi ruangan kelas setiap hari belajar.
Gedung sekolah yang kini berdiri adalah saksi bisu transformasi dari masa ke masa. Di bawah naungan gubuk swadaya masyarakat sejak tahun 2008 yang jauh dari kata layak. Barulah pada tahun 2017, pemerintah mendirikan satu ruangan permanen yang menjadi istana ilmu meskipun temboknya hanya berlapis dengan papan kayu saja.
Kondisi di dalam ruang kelas SD Negeri 2 Sorongan kelas jauh Batu Payung saat siswa berdoa untuk mulai pembelajaran. Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO
Namun kini, di tahun 2025, kondisi fisik ruang kelas pun kian memprihatinkan dan tak ada uluran bantuan perbaikan. Lantai yang dulu putih kini telah kehilangan kemilaunya, atap yang bolong-bolong membiarkan air hujan masuk dan dinding berlapis kayu yang sudah lapuk dimakan usia.
Buku dan gambar siswa terpasang di dinding papan kayu ruang kelas SD Negeri 2 Sorongan kelas jauh Batu Payung. Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO
Ketiadaan listrik menambah daftar panjang keterbatasan. Saat mendung tebal menggelayut dan hujan turun deras, ruang kelas berubah menjadi gua. Anak-anak kesulitan membaca tulisan di buku mereka sendiri. Bahkan sebagian siswa terpaksa maju berdesakan ke depan papan tulis hanya untuk menyalin materi pelajaran.
Siswa berjalan di depan bangunan yang menjadi ruang belajar di SD Negeri 2 Sorongan kelas jauh Batu Payung, Pandeglang, Banten. Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO
“Alhamdulillah, 85 persen anak didik saya sudah lancar membaca dan berhitung. Sisanya, satu atau dua anak yang masih terbata-bata, bukan karena malas, melainkan karena kendala kemampuan belajar yang sedikit lambat di sini,” kata Armani.
Dua siswa membawa buku tulis saat berada di luar ruang kelasnya. Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO
Armani berharap perhatian lebih pemerintah dapat hadir ke sekolah dan murid-muridnya. “Alasan saya bisa bertahan selama 17 tahun ini adalah demi anak-anak di pelosok ini bisa membaca, berhitung, dan punya sayap untuk terbang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mengubah nasib mereka dan kampung halamannya,” kata Armani.
Trending Now