Esai Foto: Suara Kecil Tentang Kebaikan
13 November 2025 12:56 WIB
·
waktu baca 3 menit
Esai Foto: Suara Kecil Tentang Kebaikan
Potret ini adalah upaya sederhana untuk melihat bagaimana mereka memahami makna “teman” dan “kebaikan”, dengan bahasa mereka sendiri.kumparanNEWS

Anak-anak itu berdiri di depan dinding yang penuh cap tangan berwarna merah dan biru. Siswa-siswi SDN Pejaten Barat 01 membawa papan tulis kecil, bertuliskan kalimat sederhana, pesan dari hati mereka sendiri tentang kebaikan, tentang teman, tentang rasa diterima.
Beberapa waktu terakhir, berita tentang perundungan kembali mencuat. Mulai dari kasus tragis pembakaran di sebuah pesantren di Aceh Besar, hingga aksi kekerasan di SMA 72 Jakarta yang menjadi perbincangan.
Hingga November 2025, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 25 kasus bunuh diri anak yang terkait dengan bullying. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga mencatat 2.621 kasus bullying di kalangan peserta program pendidikan dokter spesialis (PPDS) selama tahun 2025.
Perundungan seolah menjadi cermin getir bahwa sekolah, tempat anak-anak seharusnya merasa aman, justru kadang menjadi ruang yang menakutkan.
Bukan lewat wawancara panjang, tapi melalui senyum dan tulisan mereka di papan putih kecil. Potret ini adalah upaya sederhana untuk melihat bagaimana mereka memahami makna “teman” dan “kebaikan”, dengan bahasa mereka sendiri.
“Aku senang kalau semua bisa main bareng.”
Di sekolah, bermain adalah bahasa universal anak-anak. Tapi tidak semua anak merasa diterima. Lewat tulisan polos ini, seorang siswa mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati bukan datang dari siapa yang paling populer, tapi dari siapa yang mau berbagi ruang bermain bersama.
“Jangan bikin teman menangis, itu gak keren.”
Kebersamaan mereka memancarkan solidaritas. Tidak ada pelaku, tidak ada korban, hanya teman yang saling menjaga. Bahasa mereka mungkin sederhana, tapi pesannya universal, kebaikan itu keren.
Dua refleksi tulisan siswa di atas mengingatkan kita semua bahwa pencegahan kekerasan tidak selalu dimulai dari seminar atau surat edaran, tapi dari percakapan kecil di ruang kelas. Dari keberanian seorang anak untuk berkata, “Aku mau semua bisa main bareng," contohnya.
Kasus-kasus perundungan yang kita dengar di berita hari ini mungkin terjadi karena terlalu banyak yang memilih diam. Terlalu banyak yang merasa “itu cuma bercanda,” hingga akhirnya tawa berubah jadi luka.
Foto-foto ini adalah upaya kecil untuk menyalakan kembali empati, bukan hanya di antara anak-anak, tapi juga kita, orang dewasa, yang seharusnya memberi contoh bagaimana memperlakukan sesama.
Suatu hari nanti, ketika anak-anak ini tumbuh dewasa, semoga mereka masih ingat papan kecil yang pernah mereka tulis. Semoga mereka tetap memilih kebaikan, meski dunia tidak selalu lembut. Dan semoga kita, para orang tua, guru, dan siapa pun yang pernah menertawakan kelemahan orang lain, belajar untuk menunduk dan mendengar suara mereka yang kecil tapi jujur.
Mungkin, pendidikan sejati dimulai bukan dari buku teks, tapi dari keberanian untuk berkata lembut di tengah dunia yang sering bersuara keras.
