Hadapi Ancaman Rusia, Macron Hidupkan Kembali Wajib Militer Sukarela
27 November 2025 14:55 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Hadapi Ancaman Rusia, Macron Hidupkan Kembali Wajib Militer Sukarela
Presiden Prancis Emmanuel Macron akan menerapkan kembali wajib militer secara sukarela untuk hadapi ancaman Rusia.kumparanNEWS

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan akan mengidupkan kembali wajib militer secara sukarela untuk menghadapi ancaman Rusia dan risiko meletusnya konflik baru di Eropa.
Setelah wamil sukarela dihapus selama hampir 3 dekade, Macron dijadwalkan akan menyampaikan kebijakan baru ini saat mengunjungi brigade infanteri yang ditugaskan di Pegunungan Alpen di Prancis tenggara.
Macron dalam wawancara dengan RTL mengatakan akan mengumumkan transformasi dinas nasional ke dalam bentuk baru. Namun, dia tidak menjelaskan detailnya.
Dikutip dari AFP, Kamis (27/11), sumber yang mengetahui isu ini mengatakan rencananya pemerintah Prancis akan melatih 2 ribu hingga 3 ribu orang pada tahun pertama, dengan target meningkatkan jumlah pendaftar menjadi 50 ribu per tahun.
"(Penerapan kembali wajib militer secara sukarela) akan dimulai secara perlahan," kata sumber itu.
Pejabat kepresidenan Prancis mengatakan, bentuk baru dari layanan nasional ini akan berbasis sukarela.
Sumber lain yang merupakan penasihat Macron mengatakan, wamil secara sukarela akan diluncurkan di tengah keterbatasan anggaran. Sehingga, implementasinya akan dilakukan secara bertahap dan menyatakan program ini realistis dengan mempertimbangkan sumber daya saat ini.
Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Fabien Mandon membuat kontroversi karena memperingatkan Prancis harus siap kehilangan anak-anaknya. Ia mengatakan, Rusia sedang mempersiapkan konfrontasi pada 2030.
Meski sejumlah negara memiliki berbagai bentuk wajib militer, penggunaan dinas militer tidak merata di seluruh Eropa. Namun, Prancis akan bergabung dengan negara-negara Eropa lain seperti Latvia dan Lithuania yang kembali menerapkan wajib militer dalam beberapa tahun terakhir. Sementara negara lain seperti Denmark memperketat syarat wajib militer.
Wajib militer dipandang sebagai cara untuk memperkuat angkatan bersenjata dengan rekrutan, tapi juga menyediakan sejumlah besar cadangan potensial yang dapat dipanggil jika terjadi perang di masa depan.
Angkatan Bersenjata Prancis memiliki sekitar 200 ribu personel militer aktif dan 47 ribu personel cadangan. Angka ini diperkirakan akan meningkat jadi 210 ribu dan 80 ribu masing-masing pada 2030.
