IAEA Sebut Penahan Radiasi di Chernobyl Rusak karena Serangan Rusia
6 Desember 2025 15:14 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
IAEA Sebut Penahan Radiasi di Chernobyl Rusak karena Serangan Rusia
Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengatakan pelindung untuk menahan material radioaktif di Chernobyl rusak akibat serangan drone Rusia.kumparanNEWS

Sebuah perisai pelindung di pembangkit tenaga listrik Chernobyl di Ukraina yang dibangun untuk menahan material radioaktif dari bencana 1986 lalu, tidak dapat menjalankan fungsi keselamatan utamanya akibat serangan drone. Menurut Ukraina, serangan drone itu dilakukan oleh Rusia.
Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengatakan inspeksi terhadap struktur kurungan baja yang selesai dibuat pada 2019 lalu menunjukkan bahwa dampak serangan drone pada Februari lalu merusak struktur tersebut.
"Inspeksi tersebut mengkonfirmasi bahwa (struktur pelindung) telah kehilangan fungsi keselamatan utamanya, termasuk kemampuan kurungan, tapi juga ditemukan bahwa tidak ada kerusakan permanen pada struktur penahan beban atau sistem pemantaunya," kata Dirjen IAEA Rafael Grossi dalam keterangannya, dikutip dari Reuters, Sabtu (6/12). Grossi juga mengatakan perbaikan telah dilakukan.
"Tapi perbaikan komprehensif tetap penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan memastikan keselamatan nuklir jangka panjang," lanjutnya.
PBB pada 14 Februari lalu melaporkan bahwa otoritas Ukraina mengatakan drone dengan hulu ledak daya tinggi menghantam reaktor, menyebabkan kebakaran dan merusak lapisan pelindung di sekitar reaktor Nomor Empat, yang hancur dalam bencana pada 1986.
Otoritas Ukraina mengatakan drone tersebut milik Rusia. Namun, Rusia membantah menyerang Chernobyl.
Laporan PBB itu juga mengatakan level radiasi tetap normal dan stabil, serta tidak ada laporan kebocoran radiasi.
Ledakan Chernobyl 1986 melepaskan radiasi ke seluruh Eropa. Otoritas Uni Soviet mengerahkan sejumlah besar pasukan dan peralatan untuk menangani insiden tersebut. Reaktor terakhir yang beroperasi ditutup pada 2000 lalu.
Rusia menduduki reaktor dan wilayah sekitarnya selama lebih dari sebulan dalam pekan pertama serangannya ke Ukraina pada Februari 2022.
