Intelijen Prancis Tuduh China Sebar Hoaks terkait Performa Jet Rafale
9 Juli 2025 15:15 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Intelijen dan militer Prancis mengungkapkan China lewat kedutaan di luar negeri menyebar hoaks terhadap kinerja jet Rafale buatan Prancis, setelah dipakai dalam konflik India dan Pakistan pada Mei lalu.
Dikutip dari Associated Press, Rabu (9/7), temuan badan intelijen Prancis mengatakan atase pertahanan di kedutaan besar China memimpin tuduhan tersebut dengan tujuan merusak penjualan Rafale, membujuk negara-negara yang telah memesan jet Rafale -- utamanya Indonesia -- untuk tidak membeli lebih banyak jet dan mendorong pembeli potensial lainnya untuk memilih jet produksi China.
Pejabat militer telah menggali informasi lebih detail mengenai jet tempur dan rudal tempur udara buatan China yang dipakai Pakistan saat saling serang dengan India pada Mei lalu.
Saat itu, Pakistan mengeklaim angkatan udaranya menembak jatuh 5 jet tempur India selama pertempuran -- termasuk 3 jet Rafale. Pejabat Prancis mengatakan banyak negara yang mempertanyakan performa jet tempur Rafale yang telah dibeli dari pabrik Prancis, Dassault Aviation.
India mengakui kehilangan jet tempur, tapi tidak merinci berapa jumlahnya. Namun, Kepala Angkatan Udara Prancis, Jenderal Jerome Bellanger, mengatakan dia melihat bukti yang menunjukkan 3 jet India yang ditembak jatuh -- sebuah jet Rafale, jet Sukhoi buatan Rusia, dan Mirage 2000 yang merupakan jet tempur generasi awal yang dibuat Prancis.
Ini menjadi 'kekalahan' pertama jet Rafale yang telah dijual Prancis kepada 8 negara.
"Tentu saja semua orang, negara-negara yang membeli Rafale, mempertanyakan hal itu," kata Bellanger.
Prancis mengungkapkan kampanye mempertanyakan kemampuan Rafale termasuk postingan viral di media sosial, gambar manipulasi yang menunjukkan puing-puing Rafale, konten buatan AI, dan gambaran gim video simulasi pertempuaran.
Lebih dari seribu akun baru media sosial dibuat ketika pertempuran antara India dan Pakistan terjadi, dan menyebarkan narasi terkait keunggulan teknologi China. Meski demikian, Prancis belum bisa secara langsung menghubungkan apakah disinformasi itu secara langsung dengan pemerintah China
Lebih lanjut, badan intelijen Prancis mengatakan atase pertahanan kedutaan China menggaungkan narasi yang serupa dalam pertemuan yang mereka lakukan dengan pejabat keamanan dan pertahanan dari negara-negara lain. Mereka berargumen performa Rafale yang dimiliki Angkatan Udara India buruk, kemudian mempromosikan alutsista buatan China.
Badan intelijen Prancis juga mengatakan atase pertahan memfokuskan lobi mereka kepada negara-negara yang telah memesan Rafale dan calon pelanggan lainnya -- negara-negara yang mempertimbangkan melakukan pembelian. Dikatakan pejabat Prancis mengetahui hal itu dari negara-negara yang didekati oleh China.
Saat dikonfirmasi, Kementerian Pertahanan Nasional China menyebut laporan intelijen Prancis sebagai fitnah yang terdasar.
"Klaim tersebut merupakan rumor dan fitnah yang tak berdasar. China secara konsisten mempertahankan pendekatan yang bijaksana dan bertanggung jawab terhadap ekspor militer, memainkan peran konstruktif di kawasan, perdamaian global dan stabilitas," kata Kementerian Pertahanan Nasional China.
Dassault Aviation telah menjual 533 Rafale, termasuk 323 yang diekspor ke Mesir, India, Qatar, Yunani, Kroasia, Uni Emirat Arab, Serbia, dan Indonesia. Indonesia telah memesan 42 jet dan sedang mempertimbangkan untuk membeli lebih banyak lagi.
