Ironi di Gunungkidul: Warga Sakit Harus Ditandu Lewati Jalan Setapak
17 November 2025 15:24 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
Ironi di Gunungkidul: Warga Sakit Harus Ditandu Lewati Jalan Setapak
Sardiyono ditandu dengan sebuah kursi yang ditali ke sebatang bambu.kumparanNEWS

Sardiyono (72 tahun) warga Padukuhan Ngrandu RT 08 RW 01, Kalurahan Katongan, Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, terpaksa ditandu usai pulang dari rumah sakit. Warga bahu-membahu menggotong Sardiyono, melewati jalan setapak menuju rumahnya.
Video Sardiyono ditandu itu terekam kamera dan viral di media sosial. Video diambil pada Sabtu malam (15/11), saat dia baru pulang dari rumah sakit karena sakit stroke. Sardiyono dirawat di rumah sakit sejak Selasa (11/11).
Akses jalan menuju rumah yang sulit membuatnya harus ditandu empat orang secara bergantian. Sardiyono ditandu dengan sebuah kursi yang ditali ke sebatang bambu.
Pada Senin (17/11), kumparan mengunjungi rumah Sardiyono. Akses masuk kampung cukup baik lantaran sudah dicor blok. Namun, yang jadi masalah adalah dari jalan kampung menuju rumah Sardiyono.
Dari jalan kampung ke rumah Sardiyono jaraknya 300 meter. Jalannya setapak, naik-turun.
Pertama, harus melalui turunan curam 45 derajat. Setelah itu melalui pematang sawah yang berkelok. Ukuran pematang sawah hanya sekitar 50 cm.
Ketika hujan, jalan ini becek lantaran jenisnya tanah liat. Jalan akan berlumpur dan licin.
"Ceritanya saya pamit cari pakan (ternak). Ini (Sardiyono) di rumah sama cucunya. Saya pulang lagi sampai rumah Bapak sakit, tidur tidak bisa bangun," kata istri Sardiyono, Panikem (55), menceritakan sakit yang dialami suaminya.
Panikem kemudian meminta bantuan warga. Putranya menelepon dukuh untuk mencarikan ambulans. Pada hari Selasa saat berangkat ke rumah sakit Sardiyono juga ditandu dibantu sejumlah warga menuju jalan kampung sebelum naik ambulans.
"(Ditandu) pakai kursi sama bambu. Orang empat yang bawa. Yang dua aja masuk ke sawah, mblesek-mbelesek (masuk-masuk)," katanya.
Selain itu di jalan yang menanjak untuk menuju jalan kampung juga licin. Apalagi tandu kursi yang dipanggul cukup berat.
"20 menit lebih (perjalanan dari rumah ke jalan kampung) wong jalannya angel (susah)," kata Panikem.
Ketika pulang dari rumah sakit pun demikian. Terlebih saat itu sudah jam 12 malam.
Panikem mengatakan dirinya sudah lama tinggal di sini. Tahunnya dia lupa. Saat ini rumahnya ditinggali Panikem bersama suami, anak, menantu, dan seorang cucu. Panikem sehari-hari bertani.
"Rumah sini lima orang. (Belakang) rayi kulo (adik saya). Di situ (rumah belakang) tiga. (Total) orangnya delapan," jelasnya.
Sejak dulu, jalan depan rumahnya memang seperti ini. "Nggak ada (jalan lain), ya cuma itu. Mau lewat mana lagi. Sebelah sana nggak bisa. Lebih berat," bebernya.
40 Menit Perjalanan ke Rumah Sakit
Arif Lukman (34), anak Sardiyono, mengatakan bapaknya dirawat di Rumah Sakit Panti Rahayu. Total membutuhkan waktu sekitar 40-an menit.
"(Separuh waktu perjalanan) yang di sini (dari rumah menuju jalan kampung," kata Iluk sapaan akrab Arif Lukman.
Iluk mengatakan hal yang paling mengkhawatirkan adalah ketika terjadi peristiwa darurat seperti kemarin. Mau tidak mau, harus menunggu bantuan tetangga.
"Kalau orangnya (tetangga) ke ladang cari orang susah. Harus nunggu," katanya.
Saat bapaknya dibawa ke rumah sakit kondisi masih siang. Tetapi ketika pulang saat itu kondisi malam dengan sedikit gerimis. Orang yang menandu pun harus nyeker atau lepas sandal agar tak terpeleset.
"Banyak yang nggak pakai sandal pas ini. Nyeker," tuturnya.
Dahulu neneknya juga harus ditandu saat sakit. "Saat meninggal kan juga kaya gitu. Digotong," katanya.
Sardiyono Harus Kontrol ke RS Lagi
Sardiyono dijadwalkan akan kontrol lagi ke rumah sakit pada 26 November mendatang.
"Rencana saya cari tandu biar gotongnya lebih ringan. Kalau pakai risban (kursi) sudah berat. Kosong pun sudah berat," katanya.
Pernah Terjatuh dari Motor
Iluk mengatakan ketika kondisi tak hujan, motor bisa melalui jalan itu. Namun dia punya pengalaman terjatuh dari motor.
"Saya dulu pernah jalanan turun itu pernah masuk ke situ. Ke jurang. Sebenarnya sudah tiap hari lewat situ. Apes ya udah masuk aja," kata Iluk.
Pernah dahulu saat masih pulang pergi kerja di Kota Yogyakarta dia terperosok sawah saat melewati jalan setapak.
"Pernah masuk ke sawah malam-malam pulang kerja. Kalau hujan air yang diselokan bisa meluap itu. Kan jalannya tidak terlihat. Masuk ke sawah. Motor saya tinggal satu malam karena ngambil susah," bebernya.
Iluk mengatakan dia lahir di rumah sini. Sejak kecil jalanan yang dilalui seperti itu.
"Dulu lebih parah sebelum dikasih selokan. Sekarang agak mendingan karena air tidak terlalu menggerus jalan," bebernya.
Ancaman Ular
Selain licin dan sempitnya jalan. Ancaman lainnya adalah ular weling. "Dulu itu banyak ularnya sawah itu. Ular weling," kata Iluk.
Dua musim hujan sebelum ini, Iluk pernah menemukan delapan kali ular weling.
"Masuk ke dapur dua kali," jelasnya.
Iluk berharap ke depan ada perbaikan di jalan menuju rumahnya.
"Harapan saya ada kemajuan meski nggak totalitas. Nggak sepenuhnya diperlebar seperti jalan lain. Mobil nggak bisa masuk nggak papa tapi yang jelas meski hanya sejengkal kalau diperkeras kan enak buat jalan. Dicor gitu lah," katanya.
Dengan jalan yang dicor paling tidak sudah tidak licin dan berlumpur lagi.
Perbaikan jalan ini juga tak hanya dinikmati keluarga Iluk saja tetapi masyarakat lain karena jalan ini juga digunakan masyarakat untuk ke sawah atau ladang.
"Tidak hanya ke saya tapi warga lain. Kalau direlokasi ini paling dampak positif ke saya sendiri tapi kalau pengerasan jalan bisa (bermanfaat) ke banyak orang," jelasnya.
Kata Pemerintah
Panewu Nglipar, Sugito, telah meninjau lokasi rumah Sardiyono hari ini.
"Ini sebenarnya dari rumah ke jalan (jalan kampung) ke ambulans bukan ke rumah sakit. Ke depan kami berharap memang Pak Dukuh, nanti jalan akses dilebarkan," kata Sugito.
Namun, Sugito mengatakan ada beberapa pemilik sawah yang di luar kota. Sehingga terjadi kendala untuk pelebaran.
"Kita coba mediasi dengan Pak Dukuh dan Pak Lurah nanti akses jalan ini baik ke penduduk maupun ke pertanian ke depan untuk dinormalkan mungkin dilebarkan," jelasnya.
Sementara itu, Lurah Katongan, Jumawan, memiliki ide untuk merelokasi dua KK di sana.
"Kami memiliki pemikiran koordinasi dengan Pak RT, Pak Dukuh, kemudian Pak Panewu kami sebenarnya dua KK ini seyogyanya untuk direlokasi saja," kata Jumawan.
Jumawan bilang Sardiyono ada tanah di tempat lain yang sebenarnya bisa untuk relokasi. Menurutnya jika yang dibangun hanya jalan yang sudah ada tapi tanpa pelebaran maka kurang maksimal karena masih sempit sekali.
"Kesulitannya memang akses saja. Termasuk tempat tinggalnya ekstrem," pungkasnya.
