Israel Pasang 1.000 Penghalang di Tepi Barat, Aktivitas Warga Semakin Terbatas
30 Oktober 2025 15:44 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Israel Pasang 1.000 Penghalang di Tepi Barat, Aktivitas Warga Semakin Terbatas
Israel memasang hampir 1.000 penghalang di kota-kota di Tepi Barat. Tindakan ini semakin membatasi aktivitas warga Palestina di Tepi Barat.kumparanNEWS

Israel telah memasang hampir 1.000 penghalang di kota-kota besar dan kecil di Tepi Barat sejak operasi militer ke Gaza dua tahun lalu. Jumlah penghalang yang semakin banyak secara otomatis semakin membatasi aktivitas warga di sana.
Dikutip dari AP, Kamis (30/10), Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman yang merupakan badan resmi pemerintah Palestina mengatakan Israel telah memasang 916 gerbang, penghalang, dan tembok sejak 7 Oktober 2023.
Penggerebekan militer Israel ke Tepi Barat juga dilaporkan meningkat. Banyak warga Palestina tewas atau ditahan selama penggerebekan dilakukan. Namun, Israel menyebut apa yang dilakukan untuk membasmi militan.
Di antara penghalang baru itu terdapat gerbang logam yang ditempatkan di banyak pintu masuk desa, kota, dan di antara kota-kota. Gerbang itu memblokade akses keluar dan masuk, dan militer Israel kadang berjaga di situ.
Warga Palestina mengatakan jam buka gerbang tidak menentu. Bahkan, beberapa gerbang tutup selama berhari-hari. Sebagian besar warga harus tidur di rumah teman atau kerabat, atau berjalan kaki mengelilingi gerbang.
Di dua pekan pertama September, PBB telah mendokumentasikan pemasangan 18 gerbang di Tepi Barat. Gerbang dan penghalang lainnya seperti gundukan tanah besar atau blok beton membatasi kebebasan gerak warga Palestina dan akses ke layanan kesehatan dan pendidikan. Penghalang itu ditempatkan di tengah jalan, sehingga mobil tidak dapat melewatinya.
Gerbang baru yang di antaranya memblokade jalan yang menghubungkan utara dan selatan Tepi Barat membuat 3 juta warga Palestina harus mengambil jalan memutar yang jauh. Perjalanan yang biasa ditempuh 20 menit kini menjadi lebih dari 1 jam.
Namun, militer Israel mengatakan gerbang itu bukan untuk membatasi warga, tapi untuk mengelola dan memantau warga.
Pejabat militer yang meminta dirahasiakan identitasnya mengatakan, pasukan beroperasi di bawah realitas keamanan yang kompleks di Tepi Barat. Ia mengatakan, militan membaur dengan penduduk.
"Oleh karena itu, terdapat pos pemeriksaan yang dinamis dan upaya berkelanjutan untuk memonitor pergerakan di berbagai wilayah," katanya.
