Jam Malam Berlaku di Los Angeles, 197 Orang Ditangkap
11 Juni 2025 14:38 WIB
·
waktu baca 2 menit
Jam Malam Berlaku di Los Angeles, 197 Orang Ditangkap
Otoritas Los Angeles memberlakukan jam malam di pusat kota pada Selasa malam (10/6), imbas gelombang demonstrasi menolak kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump terus meluas.kumparanNEWS

Otoritas Los Angeles memberlakukan jam malam pada Selasa malam (10/6), imbas gelombang demonstrasi menolak kebijakan imigrasi dari Presiden Donald Trump terus meluas.
Tak lama setelah aturan diberlakukan, polisi melakukan penangkapan massal. Pasukan berkuda dan proyektil juga digunakan demi membubarkan massa yang masih bertahan di pusat kota.
Keterangan aparat keamanan sejak jam malam berlaku mereka menangkap 197 orang. Sebagian besar ditangkap karena tidak menolak membubarkan diri.
Beberapa lainnya yang ditangkap diduga terlibat penjarahan, vandalisme, hingga percobaan pembunuhan.
Polisi menyebut kerusuhan di Los Angeles menyebabkan tujuh aparat keamanan terluka. Saat bersamaan dua demonstran dirawat di rumah sakit.
Adapun jam malam di Los Angeles diberlakukan mulai pukul 8 malam hingga 6 pagi.
Wali Kota Karen Bass menyatakan kondisi sudah mencapai titik kritis setelah 23 toko dijarah selama akhir pekan.
“Jam malam ini berlaku untuk kawasan pusat kota dengan radius sekitar satu mil, dan kemungkinan akan diperpanjang,” ujar Bass dalam konferensi pers, mengutip AP.
Kepala Polisi Los Angeles, Jim McDonnell, menambahkan, “Langkah ini perlu diambil demi keselamatan warga dan perlindungan properti, setelah tiga hari berturut-turut kerusuhan terjadi.”
Meski begitu, jam malam tidak berlaku bagi warga yang tinggal di area terdampak, tunawisma, media terakreditasi, dan petugas darurat.
Seiring penerapan jam malam, jaringan transportasi Metro menghentikan layanan bus dan kereta di pusat kota.
Lapor Guardian, banyak warga telantar tanpa akses pulang imbas penerapan jam malam.
Menanggapi kerusuhan, Presiden Donald Trump menyebut para demonstran sebagai “binatang” dan membuka kemungkinan menggunakan Undang-Undang Pemberontakan, yang memungkinkan pengerahan militer untuk menangani situasi dalam negeri.
“Kalau ada pemberontakan, saya akan gunakan undang-undang itu,” katanya dari Ruang Oval.
Sejauh ini, lebih dari 4.000 anggota Garda Nasional dan 700 Marinir yang berada di kota terbesar kedua di AS tersebut.
Gubernur California Gavin Newsom menilai langkah Trump sebagai bentuk “serangan terhadap demokrasi”.
Ia menggugat pengerahan militer ke pengadilan dan meminta penghentian sementara bantuan militer terhadap lembaga imigrasi federal.
“California mungkin yang pertama, tapi tak akan jadi yang terakhir,” kata Newsom. Sidang gugatan Newsom dijadwalkan Kamis (12/6) waktu setempat.
