
Jejak Penjaga Muria dan Penghijauan Patiayam demi Napas Kehidupan
22 Agustus 2025 18:00 WIB
·
waktu baca 10 menit
Jejak Penjaga Muria dan Penghijauan Patiayam demi Napas Kehidupan
Mereka bukan lahir sebagai pahlawan bangsa, tapi mereka penjaga Muria dan Patiayam. Mereka tak sekadar menanam pohon, tapi harapan, membuktikan bakti pada negeri tumbuh dari hati tulus menjaga bumi.kumparanNEWS
Teguh Budi Wiyono mengingat kembali kondisi hutan di dekat rumahnya di Desa Colo, lereng Gunung Muria, Kudus, yang begitu gundul akibat perambahan pada era reformasi. Pada saat itu, hutan di lereng Muria dijadikan lahan terbuka untuk tanaman pangan.
Berpuluh-puluh tahun, hutan yang gersang dibiarkan begitu saja, akibatnya debit sumber mata air menyusut dan menghilang. Warga sekitar lereng Muria pun kesulitan air bersih. Kondisi ini diperparah dengan kebakaran di lereng salah satu puncak Muria, Argopiloso, pada 2015, yang menyebabkan 15 hektare hutan gundul.
“Itu yang membuat mata air sekarang menyusut sampai 50%. Itu yang menjadi PR kami. Kami harus bisa mengembalikan itu untuk anak cucu kami,” jelas Teguh di sela-sela kegiatan menanam pohon di sepanjang aliran sungai dan mata air lereng Muria.
Sejak saat itu, penghijauan jadi upaya paling penting yang dilakukan Teguh untuk mengembalikan kawasan hutan yang gundul.
Pada 2023, PEKA MURIA dibentuk, sebuah yayasan konservasi alam di lereng Muria dan Teguh menjadi ketuanya. Teguh bersama anggota PEKA MURIA terus fokus melakukan penanaman, khususnya di sekitar sumber mata air. Selama dua tahun terakhir, sudah 1.600 bibit pohon ditanam Teguh bersama anggotanya di Desa Colo dan Rahtawu.
Selain itu, PEKA MURIA yang kini punya 18 anggota relawan ini juga menaruh perhatian pada konservasi habitat Macan Tutul dan Elang Jawa di lereng Muria.
Jerih payah Teguh bersama anggota PEKA MURIA menjaga kelestarian Muria bukan tanpa alasan. Semua demi ‘napas kehidupan’ masyarakat lereng Muria sekarang dan masa mendatang.
“Kami merasa harus melindungi mata air ini. Di saat kami sudah menikmati, maka kami berkewajiban untuk menurunkan kepada anak cucu kami. Kalau anak-anak cucu kami nanti tidak punya air, tidak dapat minum air bersih, itu adalah dosa kami,” ungkap Teguh.
Bukan perkara mudah Teguh mengajak masyarakat sekitar untuk berjuang bersama melestarikan lereng Muria. Mayoritas masyarakat di sini adalah petani kopi.
Menurut dia, harus benar-benar dari hati ke hati, menyampaikan ke masyarakat bahwa hasil perkebunan kopi yang melimpah berkat asrinya lereng Muria, termasuk sumber mata air yang tetap terjaga.
“Jadi kami patroli di tiga kabupaten, kami sentuh hati masyarakat supaya mereka bisa menjaga mata airnya, supaya mereka bisa menjaga hutannya. Di saat hutan bagus, mereka mau melakukan penanaman, melakukan reboisasi, maka saya yakin kebutuhan air akan tercukupi,” jelas Teguh.
Semangat Teguh bersama PEKA MURIA ini didukung penuh Bakti Lingkungan Djarum Foundation untuk penyediaan bibit pohon. Dukungan ini memperlihatkan semangat gotong royong dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Data dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation, total sudah lebih dari 10 ribu pohon yang ditanam di Colo, lereng Muria, sejak 2021 hingga sekarang.
“Untuk satu tahun kami ditarget 1.000 tanaman. Ada dua jenis: ficus dan bambu. Bambu itu untuk penguatan mata airnya, untuk membersihkan mata airnya, ficus untuk pemulihan habitatnya,” kata Teguh.
Saat ini, dampak dari pelestarian di lereng Muria, mungkin belum dirasakan secara penuh oleh Teguh dan anggotanya.
Namun ia yakin, hasil kerja keras mereka akan dirasakan anak cucu dan generasi mendatang. Ia pun berharap upayanya bisa diteruskan para generasi muda Indonesia sebagai wujud berbakti pada negeri.
"Mungkin anak-anak kami juga harus melakukan dan itu menjadi PR kami, menjadi PR masyarakat Muria, menjadi PR anak-anak kami, cucu-cucu kami untuk terus melestarikan Muria, ekosistemnya, mata airnya, dan semua yang ada di Muria,” pungkasnya.
Penghijauan Berkelanjutan di Lereng Gunung Muria
Pelestarian alam di lereng Muria juga dilakukan Wijanarko, seorang pemuda asal Desa Rahtawu yang akrab disapa Narko. Tak seperti Teguh yang langsung terjun ke hutan, penghijauan yang dilakukan Narko mengedepankan agroforestri, upaya penghijauan berkelanjutan yang memadukan antara pohon kayu produktif dengan tanaman pertanian dan perkebunan.
Agroforestri erat kaitannya dengan penghijauan di lahan kritis. Jika menelisik cerita Narko, Desa Rahtawu dulunya kerap terkena bencana longsor akibat lahan gersang dari pembukaan lahan jagung dan tebu.
Tanaman jagung memang tidak bisa mengingkat tanah, terlebih saat hujan, sehingga potensi longsor sangat besar. Sementara saat kemarau, Desa Rahtawu akan sangat kering karena aliran sungai menyusut.
Dengan menanam pohon bersama tanaman pangan, agroforestri membantu menutup lahan gundul/kritis sehingga kembali hijau. Pohon berfungsi menjaga air dan tanah, sementara tanaman pangan memberi hasil cepat bagi petani.
“Kalau mereka (masyarakat) tetap tanam jagung saja, kebencanaan setiap tahun pasti akan ada. Terus kalau musim kemarau itu sungai hampir sampai kering. Karena pohon-pohon kan pada ditebangin karena tanaman jagung itu kan harus mendapatkan sinar matahari yang sangat banyak,” cerita Narko di rumahnya di Desa Rahtawu.
Dengan kondisi yang terus berulang setiap tahunnya, masyarakat Rahtawu mulai berpikir cara untuk mitigasi bencana namun bagaimana caranya agar perkebunan sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat tetap berjalan.
Narko menyebut pada awal 2000-an, banyak masyarakat Rahtawu mulai beralih menanam kopi, khususnya jenis Robusta, sembari melakukan penghijauan dengan pohon kayu produktif, seperti durian, alpukat, pete, hingga cengkeh.
Kini, kopi menjadi komoditas utama di lereng Muria. Sayangnya, tak sedikit anak muda di Rahtawu yang enggan menjadi petani kopi. Narko tak menampik hal ini. Ia yang sejak lama tinggal bersama kakek dan neneknya, juga sempat berkeinginan untuk merantau.
Tekadnya merantau urung karena kekhawatirannya soal tak ada anak muda di desanya yang menggantikan usaha para orang tua sebagai petani kopi sekaligus peduli pada lingkungan lereng Muria. Kini, ia santai dan tak berkecil hati jika harus bertemu dengan kawan-kawannya yang sukses di perantauan.
Narko yang kini sukses menjadi petani kopi, selalu mengajak anak muda untuk sama-sama memajukan desa dengan bertani kopi lewat penghijauan yang berkelanjutan.
“Yang menggerakkan hati saya itu, mungkin saya dilahirkan untuk jadi relawan sih. Karena dari hati itu kayak enggak mikir saya ini untung atau rugi. Kalau saya sudah siap untuk maju ya maju gitu," kata dia.
Penghijauan yang dilakukan Narko bersama masyarakat Rahtawu tak hanya sebatas di kebun kopi dengan menanam pohon kayu produktif, namun juga di hutan-hutan sekitar desa sebagai “pagar alami” untuk melindungi desa.
Semangat Narko ini turut didukung Bakti Lingkungan Djarum Foundation dengan pemberian bibit kopi dan pohon kayu produktif. Data dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation, ada 19.682 bibit pohon yang ditanam di Rahtawu pada 2024, sementara penanaman sudah dilakukan sejak 2020 dengan 61.500 bibit pada saat itu.
Agroforestri dan Penghijauan Kembali Patiayam
Alam di lereng Muria masih lebih baik dan hijau ketimbang sebuah kawasan perbukitan di timur Kudus, yang berbatasan dengan Kabupaten Pati. Kawasan perbukitan bernama Patiayam ini begitu panas dan tandus jika dilihat kembali pada 2019.
Padahal Patiayam pada 1998, masih merupakan hutan belantara, namun kawasan yang masuk Perhutani ini dibabat habis pada 2000-an, untuk lahan tanaman pangan. Selain itu, Patiayam menyimpan jejak sejarah sebagai kawasan purbakala karena banyak ditemukan fosil hewan purba.
Ialah Mashuri, warga asli Desa Gondoharum yang menaruh hati pada penghijauan kembali Patiayam. Desanya masuk dalam kawasan Bukit Patiayam, yang selama puluhan tahun merasakan dampak gundulnya Patiayam.
“Kami rasakan itu kalau bulan 6 sampai bulan 12 itu terasa panas. Dan sumbernya itu nyaris sudah tidak bisa keluar. Padahal kami menyadari, di masyarakat kami itu, menggunakan air minum itu berasal dari pegunungan sini. Dari pegunungan sini. Terus tergerak di hati kami, terus kami melakukan konservasi di tahun 2019,” ungkap Mashuri.
Sampai saat ini, mayoritas masyarakat Gondoharum memang masih mengandalkan hasil produksi jagung sebagai tulang punggung perekonomian. Bahkan menurut Mashuri, produksi jagung di daerahnya jadi yang paling banyak se-Kudus.
Seperti di Desa Rahtawu, lereng Muria, penghijauan kembali di Patiayam dilakukan dengan tetap mendukung perkebunan masyarakat secara agroforestri –pohon produktif ditanam di sekitar kebun jagung.
Sesuai kondisi di Patiayam yang panas, pohon produktif yang digunakan untuk penanaman adalah pohon mangga, dengan mangga gadung menjadi varietas produktif yang dibudidayakan dalam program penghijauan.
Mulai 2019, Mashuri bersama anggota Kelompok Tani (Poktan) Wonorejo aktif melakukan penanaman kembali di Patiayam, namun dengan bibit pohon seadanya sebagai ‘pagar alami’ desa penahan longsor. Meski demikian, ia tak menampik banyak masyarakat Gondoharum yang skeptis dengan upaya ini.
“Tahun pertama mengajak sekitar 20 orang, 50 orang. Tapi untuk sampai sekarang ini memang keseluruhannya sudah mau menanam tanaman keras (pohon kayu produktif). Dulu ketakutan karena pada waktu itu ditanami tanaman jagung, kalau tanaman jagung ditanami tanaman keras, otomatis kan hasil jagung berkurang. Tetapi untuk sekarang kesadaran itu sudah ada,” jelas Mashuri.
Mashuri tak patah arah, ia terus menggelorakan semangat penghijauan kepada masyarakat sekitar Patiayam. Pendekatan yang ia lakukan secara persuasif: mengajak dengan menjelaskan dampak lingkungan hingga perekonomian yang bisa dirasakan masyarakat. Kini, apa yang disampaikan Mashuri sudah dirasakan masyarakat.
“Saya bersosialisasi dengan anggota kami ke masyarakat kami itu tentang kondisi bagaimana kalau kita menanam pohon itu semakin besar pohonnya, semakin lebat buahnya dan semakin bertambah penghasilnya. Berbicara masalah tabungan sehingga di petani kami itu tertarik satu, dua. Terus berbicara tentang lingkungan, tentang mata air yang sudah berkurang,” ungkap dia.
“Yang kedua adalah tentang peningkatan nilai ekonomi masyarakat. Dan alhamdulillah sekarang sudah bisa dirasakan. Air sudah hampir stabil, hampir stabil, tapi belum stabil, hampir stabil. Secara ekonomi, kami sudah merasakan antara tumpang sari tanaman mangga dengan jagung,” imbuhnya.
Semangat Mashuri turut didukung Bakti Lingkungan Djarum Foundation dengan pemberian beraneka bibit pohon seperti mangga, pete, alpukat, jeruk, dan durian, pada 2020. Namun pohon yang berhasil hidup adalah mangga.
"Terus kami, sampaikan ke petani paling tidak menanam untuk tanaman buahnya, mangga itu minimal 60%, yang 40% itu boleh tanaman yang lain,” kata Mashuri.
Sudah 28 ribu pohon mangga yang ditanam Mashuri dan masyarakat Gondoharum selama lima tahun belakangan. Masyarakat sudah bisa merasakan hasil panen mangga pada 2024. Mereka juga tetap bisa menghasilkan jagung dengan mengedepankan aspek penghijauan.
Jerih payah Mashuri dan kelompoknya dalam menghijaukan kembali Patiayam memang dirasa cukup berat –mengubah suatu kawasan gundul dan gersang menjadi rimbun kembali. Namun sekarang, mulai terlihat perbedaannya secara perlahan: luasan lahan gersang mulai mengecil, pohon-pohon mangga berdiri tegak menciptakan tutupan lahan yang kian menghijau.
Agroforestri pun berjalan cukup baik dan menciptakan penghijauan berkelanjutan di Patiayam. Mengingat Patiayam memiliki potensi agrowisata yang cukup besar sebagai kawasan bersejarah dengan penemuan fosil gajah purba (Stegodon) hingga kerbau raksasa (Bubalus palaeokarabau).
Penemuan ini menegaskan kawasan Patiayam pernah menjadi habitat fauna besar pada zaman Pleistosen. Bahkan, Patiayam disebut-sebut sebagai ‘lapangan fosil’ terbesar di Jawa setelah Sangiran. Jika melihat pada sejarahnya, bukan tidak mungkin Patiayam bisa kembali hijau seperti zaman dulu.
Mashuri, Narko, dan Teguh bukan lahir sebagai pahlawan bangsa. Namun dari tangan sederhana mereka, lahir gelora kepedulian lingkungan yang menyulut banyak jiwa.
Semangat itu kini menjelma menjadi gerakan bersama—masyarakat, penggiat lingkungan, komunitas, pemerintah, hingga pihak swasta—berkolaborasi dalam satu tujuan, yakni menjaga bumi.
Mereka tak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam harapan, membuktikan gotong royong adalah akar yang menguatkan upaya menjaga alam. Inilah bukti bakti pada negeri dapat tumbuh dari hati tulus banyak pihak dalam merawat bumi.