JK hingga Presiden Timor Leste Bakal Hadiri World Peace Forum di Jakarta
6 November 2025 16:24 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
JK hingga Presiden Timor Leste Bakal Hadiri World Peace Forum di Jakarta
Centre for Dialogue and Cooperation Among Civilization bersama Cheng Ho Multi Culture Education Trust akan menggelar World Peace Forum ke-9 di Hotel Grand Sahid.kumparanNEWS

Centre for Dialogue and Cooperation Among Civilization (CDCC) bersama Cheng Ho Multi Culture Education Trust akan menggelar World Peace Forum (WPF) ke-9 di Hotel Grand Sahid, Jakarta Pusat, pada 9-11 November 2025.
Kegiatan ini bakal dihadiri sejumlah tokoh dunia, termasuk Presiden Timor Leste sekaligus penerima Nobel Perdamaian 1996, Jose Ramos Horta. Sedangkan penerima Nobel Perdamaian 2024 asal Jepang, Nihon Hidankyo, akan berpartisipasi secara daring.
Dalam susunan acara yang diterima kumparan, forum tersebut akan dibuka oleh Chairman CDCC Din Syamsuddin. Sesi diskusi panel dijadwalkan menghadirkan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) serta Menteri Urusan Kebudayaan Thailand, Sabeeda Thaised.
Acara akan ditutup oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar dan diakhiri dengan jamuan makan malam di Balai Kota Jakarta yang akan dipimpin Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
βJose Ramos Horta, Presiden Timor Leste dan penerima Nobel Perdamaian, beliau sudah konfirmasi datang,β kata Din saat ditemui di Kantor Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (6/11).
Din menyebut, Jose Ramos Horta akan menerima penghargaan khusus sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya terhadap perdamaian dunia.
βAkan dilakukan penganugerahan sebuah award yang kami sebut The Benevolence Award, semacam kasih sayang terkait dengan perdamaian,β ujarnya.
Meski berharap forum dibuka langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto, Din mengatakan hingga kini belum ada konfirmasi kehadiran dari Kepala Negara.
βKami memahami kesibukan beliau, jadi tidak ada konfirmasi untuk bisa dibuka oleh Presiden,β katanya.
Sementara itu, Executive Director CDCC Ahmad Fuad Fanani menjelaskan, forum ini akan menonjolkan nilai-nilai Islam dan Tiongkok sebagai alternatif solusi bagi perdamaian dunia, di tengah kemunduran nilai-nilai Barat.
βKita melihat kebangkrutan nilai-nilai Barat. Karena itu, kita ingin menawarkan nilai-nilai dari dunia Islam dan Timur, khususnya Tionghoa dan Islam, sebagai alternatif,β ujar Ahmad.
Ia menambahkan, kedua peradaban tersebut memiliki kesamaan filosofis yang sudah terjalin sejak lama, terutama lewat sejarah perdagangan dan penyebaran Islam.
βKalau kita belajar sejarah, ada Wali Songo dan saudagar-saudagar Tionghoa yang menyebarkan Islam di dunia,β jelasnya.
