Jumat Berkah Masjid Margo Yuwono Yogya: Pakai Voucer Jadi Tertib Tak Rebutan

3 Oktober 2025 13:54 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jumat Berkah Masjid Margo Yuwono Yogya: Pakai Voucer Jadi Tertib Tak Rebutan
“Kalau tidak pakai kartu, pasti rebutan. Untuk menghindari itu, alhamdulillah sekarang lebih tertib. Yang tidak mendapat ya maklum, kenapa tidak datang duluan,” kata Suhartaka.
kumparanNEWS
Masjid Margo Yuwono di Yogya, Jumat (3/10/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Masjid Margo Yuwono di Yogya, Jumat (3/10/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Di Yogyakarta, banyak masjid mengadakan program Jumat Berkah, yaitu memberikan makanan dan minuman gratis kepada jemaah usai Salat Jumat.
Namun, tampaknya baru Masjid Margo Yuwono di Jalan Langenastran Lor, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta, yang menggunakan sistem voucer dalam pembagian Jumat Berkah.
Voucer diberikan kepada jemaah yang datang paling awal. Tujuannya agar antrean saat mengambil makanan tertib dan jemaah bisa tetap khusyuk beribadah. Selain itu, masjid ini juga menyediakan teh hingga kopi gratis bagi jemaah.
Voucer Masjid Margo Yuwono Yogya, Jumat (3/10/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Pantauan kumparan, ada dua jenis voucer hari ini, yaitu untuk menu bakpia dan nasi. Jemaah yang datang langsung diarahkan untuk mengambil voucer, yang kemudian ditukarkan dengan makanan setelah Salat Jumat selesai.
Pada Jumat ini, menu nasi disajikan dengan sayur kacang tempe dan telur rebus.
“Dulu ada seorang donatur ingin memberikan makan Jumat Berkah jumlahnya 200-an lebih. Alhamdulillah kita terima,” kata Sekretaris Takmir Masjid Margo Yuwono, Suhartaka, Jumat (3/10).
Awalnya, belum ada sistem voucer. Saat itu, jemaah yang datang belakangan justru masih mendapat nasi, sementara yang datang lebih dulu tidak kebagian.
“Terus kita evaluasi, pakai kartu. Itu yang merintis istri saya. Pakai kartu siapa yang hadir duluan, dengan jumlah yang tersedia, itu yang dapat,” ujarnya.

Tak Dapat Voucer, Masih Ada Snack

Makanan yang dibagikan di Masjid Margo Yuwono Yogya, Jumat (3/10/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Selain nasi dan bakpia, ada warga yang juga mendonasikan makanan ringan untuk Jumat Berkah. Seperti hari ini, ada yang mendonasikan gorengan.
Gorengan itu bisa diambil jemaah yang kehabisan voucer.
“Yang belakang (tidak kebagian voucer) mungkin dapat snack,” bebernya.
Dengan sistem ini, tak ada lagi jemaah yang berebut makanan setelah salat.
“Kalau tidak pakai kartu, pasti rebutan. Untuk menghindari itu, alhamdulillah sekarang lebih tertib. Yang tidak mendapat ya maklum, kenapa tidak datang duluan,” kata Suhartaka.
Salat juga diharapkan bisa lebih khusyuk karena jemaah tidak lagi kepikiran soal rebutan makanan.
“Iya betul. Jumat Berkah itu supaya hari Jumat barokah, tertib, dan lebih semarak,” jelasnya.
Suasana Jumat Berkah Masjid Margo Yuwono di Yogya, Jumat (3/10/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Penggunaan voucer ini sudah diterapkan sekitar tujuh tahun lalu. Menu makanan pun berganti setiap Jumat.
“Sekarang perkembangannya, yang dulu satu donatur pindah ke masjid lain. Di sini sejak pandemi kita umumkan siapa yang mau jadi donatur,” ujar Suhartaka.
Jika donatur hanya menyediakan 200 porsi, maka takmir melengkapi menjadi sekitar 300 porsi.
Hari ini disediakan 50 porsi bakpia dan 220 porsi nasi. Jumlah voucer yang dibagikan pun sesuai dengan porsi itu.
“Habis. Jumlah jemaah bisa sampai 400-an,” katanya.
Bowo, salah satu jemaah, menilai langkah ini inovatif.
“Inovatif, jadi tertib. Harapannya salat makin khusyuk juga,” kata Bowo yang baru pertama kali salat di masjid tersebut.

Masjid Bersejarah

Suasana Jumat Berkah Masjid Margo Yuwono di Yogya, Jumat (3/10/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Bangunan Masjid Margo Yuwono merupakan cagar budaya. Masjid ini dibangun pada 1942.
“Sebelum jadi masjid, ini langgar (surau),” kata Suhartaka.
Tanah masjid merupakan wakaf dari seorang saudagar batik bernama Haji Bilal. Saat itu, karyawannya semakin banyak seiring berkembangnya organisasi Muhammadiyah. Maka, langgar kemudian dibangun menjadi masjid.
“Karyawan batik Haji Bilal semakin banyak, dan organisasi Muhammadiyah juga berkembang saat itu. Haji Bilal dengan KH Ahmad Dahlan memang dekat,” pungkasnya.
Trending Now