Kabar Burung soal Pasar Burung di LA: Cerita yang Berembus di Warung dan Trotoar

5 Agustus 2025 11:28 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kabar Burung soal Pasar Burung di LA: Cerita yang Berembus di Warung dan Trotoar
Begini reaksi warga Lenteng Agung terkait rencana relokasi Pedagang Pasar Hewan Barito.
kumparanNEWS
Suasana lahan baru untuk relokasi Pasar Hewan Barito di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (5/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana lahan baru untuk relokasi Pasar Hewan Barito di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (5/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Asap knalpot bercampur bau rokok dari warung kecil di tepi Jalan Lenteng Agung Raya, Jakarta Selatan, menjadi latar obrolan warga pagi itu, Selasa (5/8).
Di bawah jembatan penyeberangan orang (JPO) yang menghubungkan dua sisi jalan, Wayong (46) tampak sedang mencuci motornya.
Tepat di sebelahnya, pagar besi setinggi dada membatasi sebidang lahan luas. Lahan yang belakangan santer disebut bakal menjadi lokasi relokasi Pasar Hewan Barito dari kawasan Kebayoran Baru.

Saksi Perubahan Lahan Lenteng Agung

Wayong, yang sudah lebih dari satu dekade mangkal di area itu, mengaku tak banyak tahu soal rencana pasar hewan tersebut.
“Kalau masalah pasar hewan kita nggak tahu, bukan wewenangnya,” ujar Wayong sambil menyiram motornya dengan air dari ember yang ia ambil pakai gelas plastik.
Suasana lahan baru untuk relokasi Pasar Hewan Barito di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (5/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Namun, ia mengaku pernah mendengar kabar yang beredar.
“Ya kalau dengar-dengar sih itu, ya itu mau dibikin Satpol sama pemadam,” tambahnya.
Menurutnya, pejabat Pemerintah Kota Jakarta Selatan pernah datang ke lokasi. Meski tak ingat pasti waktunya, ia menyebut kunjungan itu terjadi sekitar satu sampai dua pekan lalu.
“Kemari, datang, waktu ada Wali Kota segala. Ya sekitar dua minggu yang lalu. Apa seminggu, saya juga lupa,” tuturnya.
Wayong (46), warga sekitar lahan relokasi Pasar Hewan Barito di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (5/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Wayong berpendapat, perbedaan kondisi ekonomi antara lokasi lama di Barito dan Lenteng Agung bisa memengaruhi daya jual.
“Kalau laku, karena beda ekonominya. Ekonomi di sana sama di sini. Karena di sana kan, permukiman orang yang mampu lah kebanyakan. Dibandingin di sini, di sini menengah ke bawah. Ya ada sebagian yang mampu,” ucap Wayong.
Ia kemudian menceritakan sejarah lahan itu. Sebelumnya, kata Wayong, lahan itu pernah dijadikan sebagai showroom.
“Dari masih belum dibangun juga saya udah di sini. Dari belum jadi tanah Pemda juga saya udah ada. (Tadinya) tanah pribadi. Orang ini pernah jadi showroom,” jelasnya sambil menunjuk sebuah bangunan terbengkalai.

Budi, Kopi Hitam, dan Kabar Burung

Budi (44), warga sekitar lahan relokasi Pasar Hewan Barito di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (5/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Sekitar 50 meter dari situ, Budi (44) sedang duduk di warung dekat tokonya, menunggu waktu untuk membuka usaha perlengkapan olahraga. Saat ditanya soal kabar relokasi, ia langsung tertawa kecil.
“Dengar-dengar kabar burung nih. Ya (dibangun) pasar burung. Itu kan yang dipindahkan yang di Blok M. Nah, itu pasar burung mau dipindah kemari,” ucap Budi.
Selain pasar burung, Budi mendengar kabar bahwa akan ada dua bangunan lainnya yang akan dibangun di sana. Di antaranya yaitu untuk Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Namun, informasi yang ia dapat, kata Budi, masih belum pasti.
“Pasar burung, Damkar, sama Pamong Praja. Infonya sih gitu. Tapi kalau nanti jadinya seperti apa kita kurang tahu. Kan infonya sih begitu, infonya tapi kan namanya kabar burung. Kita nggak tahu persis,” jelas Budi.
Suasana lahan baru untuk relokasi Pasar Hewan Barito di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (5/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Ia bercerita, sebelumnya lahan tersebut banyak dipakai pedagang.
“Kalau setahu saya sih dulu banyak yang pada dagang, orang-orang dagang. Ada dagang, karena posisinya tanah Pemda, jadi mereka digusur ya. Di beritanya itu, katanya mau dibikin pasar burung. Mau dipindah kemari,” ucapnya.
Budi sendiri baru mendengar kabar relokasi pasar burung sekitar satu sampai dua pekan lalu. Menurutnya, awalnya hanya disebut akan dibangun kantor pemadam kebakaran.
“Katanya kan baru-baru pas awal digusur itu cuma buat Damkar doang, katanya. Tapi nggak tahunya ada tiga tempat, Pasar Burung sama Satpol PP. Beritanya gitu,” ucap Budi sambil sesekali menyeruput kopi hitamnya.

Antara Strategis dan Risiko Bau

Suasana lahan baru untuk relokasi Pasar Hewan Barito di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (5/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana lahan baru untuk relokasi Pasar Hewan Barito di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (5/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Budi melihat lokasi ini cukup strategis karena berada di pinggir jalan dan dekat stasiun.
“Kalau lokasi sih lumayan. Tapi tergantung dari ini juga sih. Tergantung dari pelayanan mereka-mereka (pedagang) juga,” katanya.
Ia menilai pasar burung memiliki segmentasi pasar yang khusus. Tak semua masyarakat memiliki ketertarikan untuk memelihara burung.
“Masalah laku itu wallahualam, ya. Tergantung dari masyarakat sini juga sih. Karena kalau pasar burung itu kan orangnya tertentu. Nggak semua orang suka gitu. Tapi kalau saya rasa, fifty fifty kali, 50 persen kali,” ungkap Budi.
Dari sisi akses, Budi menilai lahan ini cukup luas untuk parkir jika memang nantinya akan dibangun pasar hewan.
“Kayaknya sih cukup ya. Karena kan setahu saya ini hampir ke bawah kira-kira bangsa seribu hektar ada. Kayaknya lebih deh. Kalau buat dia bikin akses parkiran kayaknya cukup,” ucapnya.
Suasana lahan baru untuk relokasi Pasar Hewan Barito di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (5/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Namun ia juga menyinggung potensi dampak negatif. Salah satunya kotoran hewan yang mungkin akan menimbulkan bau.
“Ya paling dampaknya kotoran. Paling bau kali ya. Itu doang paling dampaknya kalau warga. Tapi kalau misalkan mereka bisa jaga sih, ya mudah-mudahan sih nggak ada,” tambahnya.
Budi menambahkan, keberadaan pasar burung di Lenteng Agung bisa memberi keuntungan bagi warga sekitar yang memelihara hewan. Salah satunya soal jarak untuk membeli pakan.
“Sedangkan sini juga banyak yang piara-piara burung, hewan gitu. Ya paling manfaat mereka, dekatnya itu paling (beli) makanan burung kali ya. Kan jadinya nggak jauh,” ujarnya.
Para pedagang masih menjajakan hewan peliharaan di kios Pasar Barito, Jakarta Selatan, Minggu (3/8/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Sebelumnya, menurut Budi, jika warga ingin membeli pakan atau perlengkapan burung, mereka harus pergi ke lokasi yang jaraknya lebih jauh.
“Ada (toko perlengkapan hewan), cuma kan lumayan jauh. Mungkin ada di situ kan lebih enak kali ya,” tambahnya.
Soal pemantauan dari pemerintah, Budi mengaku hampir setiap sore ada petugas dari Pemkot Jakarta Selatan yang datang ke lokasi lahan.
“Hampir tiap sore sih anak buahnya, kalau buat atasannya nggak ya. Anak buahnya tiap sore datang. Kadang-kadang kan Satpol PP juga mangkal di situ. Sore lah, kayak bangsa 15 menit, 20 menit,” kata dia.
Suasana lahan baru untuk relokasi Pasar Hewan Barito di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (5/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Meski begitu, Budi mengaku belum mendengar adanya penolakan atau pro kontra dari warga.
“Kalau saat ini saya belum dengar ya. Mungkin warga sini masih mau nerima. Tapi nggak tahu daerah belakangnya gimana. Kita aja ada pro kontranya, kita setuju belum tentu yang lain setuju,” tandasnya.
Bagi Wayong dan Budi, kabar soal relokasi Pasar Hewan Barito ke Lenteng Agung masih sebatas cerita yang lewat dari mulut ke mulut. Belum ada kepastian hitam di atas putih, namun tanda-tanda pergerakan sudah mulai terlihat.
Entah akan membawa peluang baru atau menambah masalah, mereka memilih menunggu. Sambil mengisi hari dengan mencuci motor atau menyeruput kopi hitam, dua warga ini menjadi saksi diam perubahan wajah Lenteng Agung, yang pelan-pelan bersiap menerima 'penghuni' baru dari Kebayoran Baru.
Trending Now