Kapolri Ungkap Tantangan 10 Tahun ke Depan: Cuaca Ekstrem hingga Perang Siber

30 Desember 2025 12:14 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapolri Ungkap Tantangan 10 Tahun ke Depan: Cuaca Ekstrem hingga Perang Siber
Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo membeberkan sederet tantangan besar yang diperkirakan masih berpotensi langsung dalam 10 tahun atau satu dekade ke depan.
kumparanNEWS
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan sambutan pada Rilis AKhir Tahun Polri 2025 di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (30/12/2025). Foto: Youtube/ Divisi Humas Polri
zoom-in-whitePerbesar
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan sambutan pada Rilis AKhir Tahun Polri 2025 di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (30/12/2025). Foto: Youtube/ Divisi Humas Polri
Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo membeberkan sederet tantangan besar yang diperkirakan masih berpotensi langsung dalam 10 tahun atau satu dekade ke depan. Tantangan itu mencakup dampak cuaca ekstrem, kelangkaan sumber daya alam, hingga ancaman perang siber.
Hal tersebut disampaikan Sigit saat membuka kegiatan rilis akhir tahun Polri 2025 di Gedung Rupatama, Mabes Polri, Jakarta, Selasa (30/12).
Sigit menjelaskan, pemetaan tantangan tersebut merujuk pada hasil global risk report yang memotret berbagai risiko strategis dunia, termasuk yang berpotensi berdampak langsung ke Indonesia.
β€œCuaca ekstrem, kehilangan keanekaragaman hayati, perubahan sistem alam, kelangkaan sumber daya alam, mis informasi dan dis informasi, dampak negatif dari teknologi AI, ketimpangan polarisasi sosial, sepionase, perang siber, dan polusi,” kata Sigit dalam keterangannya.
Sejumlah bocah bermain pascabanjir bandang di Desa Kota Lintang Bawah, Kecamatan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Senin (22/12/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Menurut Sigit, dari berbagai tantangan tersebut, bencana alam akibat cuaca ekstrem menjadi ancaman yang saat ini paling nyata dampaknya dan masih terus dirasakan.
β€œBencana tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa, dan kerusakan infrastruktur. Tetapi juga memberikan tekanan besar terhadap stabilitas ekonomi,” ucapnya.
Ia mencontohkan, pada 28 November 2026, siklon tropis di Filipina menyebabkan 643 orang meninggal dunia, 183 orang dinyatakan hilang, dengan estimasi kerugian mencapai 6 miliar dolar AS.
Selain itu, Sigit juga menyinggung gempa bumi yang terjadi di Jepang pada 8 Desember 2025. Gempa berkekuatan 7,5 magnitudo tersebut mengakibatkan 34 orang luka-luka serta ratusan bangunan mengalami kerusakan.
Sementara di dalam negeri, Sigit menyebut wilayah Sumatera turut terdampak bencana alam berskala besar. Sejak 23 November 2025, bencana terjadi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, dengan dampak korban yang signifikan.
β€œDan pada saat yang sama terdapat 3, sistem siklon di sekitar wilayah Indonesia yang berpotensi memicu hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi. Siklon Bakung di sekitar Lampung, kemudian bibit siklon 93s yang saat ini berada di sekitar Bali, Nusa Tenggara, Jawa Timur , dan bibit Siklon 95S yang saat ini berada di sekitar selatan Papua,” ucapnya.
Trending Now