Kata Pedagang di Bali soal Produk Pengganti Thrifting

7 November 2025 20:28 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kata Pedagang di Bali soal Produk Pengganti Thrifting
Salah satu pedagang pakaian thrifting, Rossy (30), warga asal Lombok, NTB, mengaku merasa terancam menjadi pengangguran apabila dilarang berjualan.
kumparanNEWS
Suasana Pasar Badung, Kota Denpasar, Bali, Jumat (7/11/2025). Foto: Denita BR Matondang/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Pasar Badung, Kota Denpasar, Bali, Jumat (7/11/2025). Foto: Denita BR Matondang/kumparan
Sejumlah pedagang thrifting tampak lesu saat berjualan di emperan Pasar Badung, Kota Denpasar, Bali, Jumat (7/11). Mereka khawatir larangan menjual pakaian thrifting benar-benar akan direalisasikan pemerintah.
Salah satu pedagang pakaian thrifting, Rossy (30), warga asal Lombok, NTB, mengaku merasa terancam menjadi pengangguran apabila dilarang berjualan.
โ€œYah, semoga enggak jadi ditutup. Kalau mau ditutup, mau beralih kerjaan apa juga bingung. Di kampung juga enggak ada kerjaan,โ€ kata Rossy.
Rossy mengaku sudah mendengar larangan menjual pakaian thrifting melalui pemberitaan. Namun, ia belum mengetahui soal produk pengganti yang disebut akan disiapkan pemerintah.
Ia khawatir produk pengganti tersebut berupa pakaian baru produksi lokal. Sebab, di dalam pasar sudah banyak toko yang menjual pakaian baru. Padahal, menurutnya, target pasar antara pakaian thrifting dan pakaian baru berbeda.
โ€œKalau jualan baru kan sudah ada di pasar. Untuk apa lagi kita jualan? Orang kan seleranya beda-beda, ada yang suka beli pakaian baru, ada yang bekas. Orang juga bakal merasa lebih baik beli di toko daripada beli pakaian baru di emperan,โ€ sambungnya.
Senada dengan Rossy, pedagang lain yang dipanggil Pak Yasmin (50) berharap pemerintah tidak melarang penjualan pakaian bekas.
โ€œHarapan semua penjual pasti enggak ada larangan. Tapi kita cuma bisa ngikut aja, enggak bisa melawan, sebagai masyarakat, sebagai perantau,โ€ katanya.
Baik Rossy maupun Pak Yasmin mengaku minat masyarakat membeli pakaian bekas saat ini menurun dibandingkan awal tahun 2025. Mereka menduga hal itu disebabkan kondisi ekonomi yang sulit dan dampak banjir yang melanda Bali pada Rabu (10/9) lalu.
โ€œJualan sepi, paling dapat Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu sehari. Enggak tahu nanti makin sepi atau enggak,โ€ ujar Yasmin.
Suasana Pasar Badung, Kota Denpasar, Bali, Jumat (7/11/2025). Foto: Denita BR Matondang/kumparan
Sementara itu, Direktur Perumda Pasar Sewakadarma Kota Denpasar, Ida Bagus Kompyang Wiranata, mengatakan pihaknya sedang melakukan sosialisasi terkait larangan menjual pakaian bekas kepada pedagang di Pasar Badung.
Pria yang akrab disapa Gus Kowi itu mengaku sudah meminta para pedagang agar tidak melakukan pemesanan pakaian bekas sebelum ada informasi resmi dari pemerintah. Hal ini untuk mencegah kerugian besar di kalangan pedagang.
โ€œKami sifatnya mengikuti arahan pemerintah. Kami tidak bisa langsung menutup atau melarang orang berjualan begitu saja. Saat ini kami sudah sosialisasikan agar para pedagang tidak melakukan order stok lagi supaya enggak rugi besar,โ€ katanya.
Gus Kowi mencatat, ada 40 pedagang pakaian bekas di Pasar Badung. Mereka biasanya berjualan dari pukul 16.00 WITA hingga pukul 23.00 WITA.
Suasana Pasar Badung, Kota Denpasar, Bali, Jumat (7/11/2025). Foto: Denita BR Matondang/kumparan
Wakil Menteri UMKM, Helvi Yuni Moraza, sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah tengah mencari berbagai upaya agar warga terdampak larangan penjualan pakaian bekas tidak jatuh dalam kemiskinan.
Salah satu strateginya ialah melakukan pemindahan bidang usaha dengan mengutamakan produk dalam negeri, serta menjalin kemitraan antara pedagang dan perusahaan.
โ€œUntuk itu, Kementerian UMKM melalui deputi saya sudah bertemu dengan beberapa pedagang thrifting. Kita akomodasi, dan caranya bagaimana? Kami bermitrakan beliau-beliau dengan beberapa pengusaha yang sudah stabil,โ€ ujar Helvi.
โ€œMasih ada ceruk di hulu maupun hilir yang bisa dimasuki pedagang-pedagang ini. Kami meminta agar mereka juga memiliki kesadaran sebagai anak bangsa, bagaimana kita bisa sejahtera bersama dan menganut prinsip berkeadilan,โ€ ujarnya di Bali, Kamis (6/11).
Trending Now