Kata Warga Soal Jembatan Donat Dukuh Atas: Bakal Tak Kehujanan-Siap Jalan Kaki
19 Oktober 2025 14:50 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
Kata Warga Soal Jembatan Donat Dukuh Atas: Bakal Tak Kehujanan-Siap Jalan Kaki
Warga menyambut baik rencana Gubernur Jakarta Pramono Anung yang berencana membangun jembatan melingkar seperti donat atau cincin di kawasan Dukuh Atas.kumparanNEWS

Warga menyambut baik rencana Gubernur Jakarta Pramono Anung yang berencana membangun jembatan melingkar seperti donat atau cincin di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Jembatan ini ditargetkan rampung pada tahun 2027.
Jembatan melingkar tersebut akan mempermudah pejalan kaki berpindah moda dari MRT ke KRL, dari LRT ke TransJakarta, atau sebaliknya.
Seorang pengguna MRT dan TransJakarta, Vina (34), mengatakan pembangunan itu akan sangat membantu pengguna transportasi publik.
โAku cukup tahu mengenai rencana tersebut. Yang aku tahu itu untuk menginovasi konsep TOD. Nah, jadi singkatnya mungkin akan dibentuk mirip-mirip kayak CSW, ya si cincin itu,โ kata Vina saat ditemui kumparan di Stasiun LRT Dukuh Atas, Setiabudi, Jakarta, Minggu (19/10).
Menurutnya, kehadiran jembatan itu akan membuat pengguna transportasi publik lebih nyaman. Masyarakat tak perlu lagi melewati banyak rintangan saat akan pindah moda transportasi.
โJadi harusnya itu lebih bikin aman, bikin nyaman juga, dan intinya juga ya setidaknya enggak kelihatannya tuh jauh banget gitu atau kayak survival. Ya enggak sih? Kayak yang mendaki gunung, lewati lembah,โ ujarnya sambil tertawa.
Meski mengaku sudah terbiasa menggunakan transportasi umum, Vina mengatakan rute berpindah moda di kawasan itu masih terbilang melelahkan, terutama saat hujan.
โBecek iya, banyak ojek payung iya, jadi enggak nyaman. Kayak dikejar-kejar gitu kan. Tapi akhirnya, ya aku belajar bawa payung sendiri sih,โ katanya.
Pendapat senada disampaikan Amelda (20), seorang pekerja di sektor F&B yang biasa menggunakan KRL dari Stasiun Sudirman dan MRT Dukuh Atas untuk bepergian. Ia mengaku, pertama kali datang ke kawasan Dukuh Atas sempat kebingungan mencari akses keluar dari Stasiun Sudirman.
โIya, lumayan jauh ya. Pas pertama kali itu aku pernah bingung. Nyari pintu keluar dari Sudirman malah nyasar ke LRT sana, jauh banget. Akhirnya naik Gojek,โ ucap Amelda saat ditemui di Stasiun MRT Dukuh Atas.
โTapi kalau udah tahu, jadi enggak masalah sih. Tapi tetap aja lumayan capek ya jalan kaki,โ lanjutnya.
Menurut Amelda, jika jembatan melingkar benar-benar dibangun, itu akan sangat membantu pengguna seperti dirinya.
โMembantu banget sih pastinya. Karena kan enggak usah keluar-keluar tuh. Enggak usah kalau misal hujan kita harus neduh dulu atau kebasahan sedikit kalau mau nerobos,โ ujar Amelda.
โJadi kalau nyambung kan bisa langsung enak ke MRT gitu. Itu bakal nyambung ya nanti. Membantu banget sih. Walaupun simpel, tapi ngebantu gitu,โ tambahnya.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah menyiapkan proyek jembatan melingkar atau yang disebut jembatan donat, karena terinspirasi dari Donut Bridge di Yokohama, Jepang.
Struktur melingkar jembatan itu bakal menghubungkan empat kuadran utama โ BNI, Landmark, UOB, dan Transport Hub โ yang selama ini terpisah oleh jalan raya dan sungai.
Pembangunan proyek tersebut ditargetkan rampung pada 2027. Proyek ini diklaim tidak akan menggunakan dana APBD. Selain untuk pejalan kaki, sebagian area jembatan juga akan difungsikan untuk kegiatan komersial seperti kafe dan kios UMKM.
Desain dan Inspirasi dari Jepang
Rencana pembangunan jembatan berbentuk cincin itu muncul setelah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau kawasan Dukuh Atas dan menilai integrasinya belum optimal.
Selama ini, konektivitas antarmoda di kawasan itu baru sebagian terwujud, salah satunya lewat Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) yang menghubungkan LRT Jabodebek dengan KRL.
Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) Tuhiyat menjelaskan bahwa desain jembatan melingkar terinspirasi dari struktur serupa di Yokohama, Jepang.
Jembatan ini akan dibangun dengan lebar sekitar 12 meter, tujuh meter untuk jalur pejalan kaki dan pesepeda, sementara lima meter sisanya akan dimanfaatkan untuk kegiatan komersial.
โSehingga nanti kalau ada di Stasiun Sudirman itu langsung terkoneksi ke sini, langsung terkoneksi ke jembatan. Jadi tidak perlu ke bawah. Jadi akan dimanjakan lah kira-kira orang untuk bisa berjalan,โ jelas Tuhiyat.
MRT Jakarta memperkirakan 70 ribu orang per hari akan melintasi jembatan tersebut. Pembangunan juga akan dibiayai dengan skema kerja sama swasta (creative financing), tanpa menggunakan dana pemerintah daerah.
