Kekejian Israel yang Tewaskan Para Jurnalis di Gaza
12 Agustus 2025 8:37 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kekejian Israel yang Tewaskan Para Jurnalis di Gaza
Jurnalis terkemuka Al Jazeera bernama Anas Al-Sharif (28 tahun) tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam tenda jurnalis di dekat RS al-Shifa di Kota Gaza.kumparanNEWS

Jurnalis terkemuka Al Jazeera bernama Anas Al-Sharif (28 tahun) tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam tenda jurnalis di dekat RS al-Shifa di Kota Gaza, Minggu (10/8) malam waktu setempat. Selain Anas yang merupakan jurnalis terkemuka , empat rekannya juga tewas.
Berikut rangkuman peristiwanya:
Rudal Israel Hantam Tenda Kru Al Jazeera
Serangan itu menghantam tenda jurnalis di dekat RS al-Shifa di Kota Gaza, Minggu (10/8) malam.
Al Jazeera melaporkan, serangan Israel itu sengaja menargetkan tenda jurnalis. Tujuh orang tewas, termasuk 5 orang dari Al Jazeera.
Kelima orang dari Al Jazeera tersebut adalah jurnalis Anas Al Sharif, jurnalis Mohammed Qreiqeh, dan operator kamera Ibrahim Zaher, Mohammad Noufal, dan Moamen Aliwa.
Serangan pada Anas dkk terjadi tak lama setelah jaringan media Al Jazeera mengecam militer Israel atas apa yang mereka sebut "kampanye provokasi" terhadap wartawan mereka di Jalur Gaza, termasuk yang paling terkenal, Anas Al Sharif.
Wasiat Jurnalis Al Jazeera Anas yang Dibom Israel: Aku Titipkan Palestina Padamu
Jurnalis adalah salah satu kelompok yang ditarget Israel selama agresi militernya di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023.
Jauh hari, Anas sudah tahu dirinya menjadi sasaran Israel karena berita-beritanya yang menggambarkan kekejian Israel, yang menggema di dunia. Karena itu dia mempersiapkan wasiat tertulis yang akan diunggah di media sosial oleh orang dekatnya jika mati syahid akibat dibunuh Israel.
Pada Senin (11/8) pagi WIB, wasiat itu sudah dimuat di akun medsosnya. "Inilah yang diminta Anas tercinta untuk dipublikasikan saat syahidnya," tulis pengunggah.
Wasiat Anas ditulis pada 6 April 2025, berikut bunyi lengkapnya:
Ini wasiat dan pesan terakhirku. Jika kata-kata ini sampai kepadamu, ketahuilah bahwa Israel telah berhasil membunuhku dan membungkam suaraku. Pertama-tama, semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah tercurah untukmu.
Allah Maha Tahu bahwa aku telah memberikan setiap usaha dan seluruh tenagaku untuk menjadi penopang dan suara bagi bangsaku, sejak aku membuka mata di lorong-lorong dan jalan-jalan kamp pengungsi Jabalia. Harapanku adalah Allah memanjangkan umurku agar aku bisa kembali bersama keluarga dan orang-orang yang kucintai ke kota asal kami, Asqalan (Al-Majdal) yang kini diduduki. Namun kehendak Allah datang lebih dahulu, dan ketetapan-Nya adalah pasti.
Aku telah menjalani kehidupan penuh penderitaan dalam semua rinciannya, merasakan pahitnya kehilangan berkali-kali, namun tak sekali pun aku ragu untuk menyampaikan kebenaran apa adanya, tanpa distorsi atau pemalsuan—agar Allah menjadi saksi atas mereka yang memilih diam, yang menerima pembunuhan kami, yang mencekik napas kami, dan yang hatinya tak terguncang oleh sisa-sisa tubuh anak-anak dan perempuan kami yang berserakan, tanpa berbuat apa pun untuk menghentikan pembantaian yang telah dihadapi bangsa kami selama lebih dari satu setengah tahun.
Aku titipkan Palestina kepadamu—permata mahkota dunia Muslim, detak jantung setiap orang merdeka di dunia ini. Aku titipkan rakyatnya, anak-anaknya yang terzalimi dan tak berdosa, yang tak pernah sempat bermimpi atau hidup dalam rasa aman dan damai. Tubuh mereka yang suci hancur di bawah ribuan ton bom dan rudal Israel, tercabik-cabik dan berserakan di dinding-dinding.
Aku mendesakmu untuk tidak membiarkan rantai membungkam suaramu,tidak membiarkan batas-batas menahan langkahmu. Jadilah jembatan menuju pembebasan tanah dan rakyatnya, hingga matahari kemuliaan dan kebebasan terbit di atas tanah air kita yang dirampas.
Aku titipkan keluargaku kepadamu. Aku titipkan putri tercintaku, Sham, cahaya mataku, yang tak sempat kubesarkan seperti yang kuimpikan.
Aku titipkan putraku yang kucintai, Salah, yang kuharapkan bisa kudampingi dan kudukung hingga ia cukup kuat untuk memikul bebanku dan melanjutkan misi ini.
Aku titipkan ibuku yang kucintai, yang doa-doanya membawaku sampai ke titik ini, yang munajatnya menjadi bentengku dan cahayanya membimbing jalanku. Aku berdoa agar Allah memberinya kekuatan dan membalasnya atas jasaku dengan sebaik-baik balasan.
Aku juga titipkan pasangan hidupku, istriku tercinta, Umm Salah (Bayan), yang telah dipisahkan dariku selama berhari-hari dan berbulan-bulan karena perang. Namun ia tetap setia pada ikatan kami, teguh seperti batang pohon zaitun yang tak pernah patah—sabar, percaya kepada Allah, dan memikul tanggung jawab di saat aku tiada dengan seluruh kekuatan dan keimanannya.
Aku mendesakmu untuk berada di sisi mereka, menjadi penopang mereka setelah Allah Yang Maha Tinggi. Jika aku mati, aku mati dalam keteguhan pada prinsipku. Aku bersaksi di hadapan Allah bahwa aku ridha pada takdir-Nya, yakin akan bertemu dengan-Nya, dan percaya bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah yang terbaik dan kekal.
Ya Allah, terimalah aku di antara para syuhada, ampunilah dosa-dosaku yang lalu dan yang akan datang, dan jadikan darahku sebagai cahaya yang menerangi jalan kebebasan bagi bangsaku dan keluargaku.
Maafkan aku jika aku pernah lalai, dan doakan aku dengan rahmat, karena aku telah menjaga janji dan tak pernah berpaling atau mengkhianatinya.
Jangan lupakan Gaza… Dan sertakan aku dalam doa tulusmu agar Allah mengampuni dan menerima amal-amalku.
Al Jazeera Bantah Tuduhan Netanyahu Jurnalis Anas Al-Sharif Anggota Hamas
Israel melancarkan serangan terarah di Gaza City yang menewaskan lima jurnalis Al Jazeera. Militer Israel mengeklaim para korban, khususnya jurnalis Anas Al-Sharif, adalah anggota Hamas--klaim yang langsung dibantah tegas oleh Al Jazeera.
Mengutip Reuters, Senin (11/8), militer Israel mengaku bertanggung jawab atas serangan itu dan menuduh Al-Sharif sebagai anggota Hamas untuk membenarkan aksinya.
"Anas Al Sharif menjabat sebagai kepala sel teroris di organisasi teroris Hamas dan bertanggung jawab atas serangan roket terhadap warga sipil Israel dan pasukan IDF," kata militer Israel dalam sebuah pernyataan.
Dalam unggahan di media sosial X milik media nasional Israel @ArutzSheva_En, nama Al-Sharif ditampilkan sebagai anggota Hamas lengkap dengan nomor keanggotaan militer kelompok tersebut. Unggahan itu juga memuat narasi klaim IDF.
"Beberapa waktu lalu, di Gaza City, IDF menyerang teroris Anas Al-Sharif, yang menyamar sebagai jurnalis jaringan Al Jazeera. Al-Sharif menjabat sebagai kepala sel teroris Hamas dan bertanggung jawab atas serangan roket terhadap warga sipil Israel dan pasukan IDF," bunyi unggahan tersebut.
Al Jazeera pun membantah keras tuduhan itu, menyebutnya sebagai upaya putus asa untuk membungkam suara kebenaran di Gaza.
"[Serangan Israel itu adalah] upaya putus asa untuk membungkam suara-suara di tengah rencana pendudukan Gaza," tulis Al Jazeera dalam keterangannya.
Daftar 5 Jurnalis Al-Jazeera Tewas Akibat Serangan Rudal Israel di Gaza City
Israel meluncurkan rudal ke arah Gaza City pada Minggu (10/8) malam waktu setempat. Salah satu serangan menyasar sebuah tenda di luar gerbang utama Rumah Sakit al-Shifa berisi jurnalis.
Lima jurnalis media asal Qatar Al Jazeera tewas dalam serangan tersebut.
Mengutip Al Jazeera, Senin (11/8) kelima jurnalis itu adalah Anas Al-Sharif dan Mohammed Qreiqeh. Kemudian operator kamera Ibrahim Zaher, Mohammad Noufal, dan Moamen Aliwa.
Lantas siapa mereka? berikut penjelasan singkatnya.
Anas Al-Sharif
Anas Al-Sharif adalah seorang koresponden Al Jazeera berbahasa Arab berusia 28 tahun. Ia lahir di kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza pada 1996.
Sebelum menjadi jurnalis ia adalah berkuliah di Universitas Al-Aqsa dan mendapatkan gelar sarjana komunikasi massa, dengan spesialisasi radio dan televisi.
Ia memulai kariernya sebagai sukarelawan di Jaringan Media Al-Shamal sebelum bergabung dengan Al Jazeera untuk wilayah Gaza utara.
Mohammed Qreiqeh
Sama seperti Al-Sharif, Qreiqeh juga jurnalis Al Jazeera yang melakukan reportase di Gaza.
Tak banyak informasi yang tersedia terkait sosoknya, namun menurut ungguhan akun media sosial Instagram miliknya, Qraiqea telah mengenakan rompi bertuliskan 'press' dan helm biru sejak tahun 2017.
Dalam unggahan lainnya, ia juga menyebut tengah melakukan reportase untuk Al-Aqsa TV.
Ibrahim Zaher, Mohammad Noufal, dan Moamen Aliwa
Berdasarkan sumber-sumber publik yang tersedia, informasi untuk ketiganya hanya diketahui bekerja sebagai operator kamera.
