Kekesalan Titiek Soeharto soal Penebangan Pohon
5 Desember 2025 9:24 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
Kekesalan Titiek Soeharto soal Penebangan Pohon
Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, geram dengan perusahaan yang diduga terlibat pembalakan liar di Sumatera. kumparanNEWS

Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto menegaskan dirinya tak mau lagi melihat ada pohon-pohon kayu ditebang tanpa tanggung jawab.
Hal itu disampaikannya usai mengetahui ada oknum perusahaan yang mengangkut kayu besar tak lama usai bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera.
โSaya minta Bapak Menteri untuk cari tahu siapa perusahaan itu. Dan tolong jangan ada pohon-pohon besar lagi yang ditebangin. Hentikan semua ini,โ kata Titiek kepada Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni di Rapat Komisi IV DPR bersama Kemenhut pada Kamis (4/12).
Titiek menegaskan, kayu-kayu ukuran besar agar tidak ditebang apalagi untuk alasan-alasan yang tidak ada manfaatnya. Ia meminta aturan diperketat.
โSaya tidak mau, kami tidak mau ada alasan moratorium-moratorium, itu besok-besok saya dibilangin. Tapi intinya enggak usah ada lagi itu pohon-pohon besar yang dipotong-potong,โ ungkap dia.
Titiek Soeharto Jengkel Ada Truk Angkut Kayu 2 Hari Setelah Bencana Sumatera
Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, geram dengan perusahaan yang diduga terlibat pembalakan liar di Sumatera. Bahkan, mereka tetap beroperasi 2 hari setelah bencana terjadi.
Dalam rapat dengan Menhut Raja Juli Antoni, Titiek memutar sejumlah video. Di video itu, terlihat truk-truk pembawa kayu dengan diameter besar melintas dengan santai.
Titiek yang menerima video itu kesal melihat fenomena tersebut.
โLebih menjengkelkan lagi, itu truk itu lewat di jalan raya dua hari setelah peristiwa banjir ini. Dan dengan kemajuan teknologi, truk itu lewat depan hidung kita. Sungguh menyakitkan Pak Menteri,โ ujar Titiek, di ruang rapat Komisi IV DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (4/12).
Titiek: Pengusaha Cari Makan Lain, Tanam Padi-Jagung Kek, Jangan Tebang Pohon
Titiek menilai, salah satu faktor yang memicu bencana tersebut adalah karena kerusakan lingkungan. Ia menyoroti penebangan pohon secara ilegal oleh oknum.
โKita lihat sendiri pohon-pohon yang begitu besar, yang perlu puluhan tahun, ratusan tahun untuk sebesar itu, dipotongin oleh orang-orang yang tidak punya perasaan gitu ya untuk motong itu,โ ujar Titiek kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta pada Kamis (4/12).
Politisi Gerindra itu meminta para pengusaha yang selama ini bergerak di sektor kehutanan agar berhenti menebang pohon. Ia meminta mereka agar beralih ke menanam tanaman yang tidak merusak lingkungan.
Sudahlah, itu pengusaha-pengusaha itu cari makan tempat lain. Tanam padi kek, tanam jagung, apa yang lain-lainnya bisa dikerjakan. Jangan tebang-tebang lagi pohon kita," katanya.
Titiek Minta Menhut Proses Hukum Pembabat Hutan: Mau Bintang, Gak Usah Takut!
Titiek Soeharto meminta Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, menindak tegas oknum-oknum yang membabat hutan tanpa bertanggung jawab.
Hal itu disampaikan Titiek saat memimpin rapat kerja Komisi IV bersama Kemenhut pada Kamis (4/12).
Sudah cukuplah penderitaan, jangan lagi ke depan mau siapa kek itu di belakangnya, mau bintang, bintang segala macam, kita ini mewakili rakyat Indonesia," kata Titiek.
Titiek meminta Raja Juli mempererat aturan khususnya terkait pembukaan lahan.
โKemudian itu ada pelonggaran-pelonggaran hutan yang sampai memenuhi pantai, memenuhi sungai, itu kan gundul, gundulnya bukan gundul sedikit. Akibat apa? Ya akibat land clearing, membuka lahan baru untuk perkebunan, pertambangan,โ tegasnya.
Titiek Sentil Menhut Raja Juli: Kita Tidak Bisa Terus Menerus Menyalahkan Hujan
Titiek mengatakan, bencana banjir dan longsor yang terjadi bukan hanya karena faktor cuaca, tapi, menurutnya ada juga faktor kerusakan alam yang membuat bencana kian parah.
โBencana hidrometeorologi di ujung barat Indonesia ini bukan lagi sekadar anomali cuaca. Ini adalah alarm keras bagi kita semua. Hujan deras akibat badai siklon tropis sebenarnya memang faktor alam, namun ketidakmampuan tanah menahan air akibat hutan yang gundul adalah ulah manusia,โ ujar Titiek, Kamis (4/12).
--Ketua Komisi IV DPR Titiek Soeharto
Titiek menegaskan, Aceh, Sumut, dan Sumbar dihubungkan dalam satu ekologi, yakni Pegunungan Bukit Barisan. Karena itu, saat ketiga wilayah ini diterjang bencana, ada yang salah dengan kondisi alam di sana.
"Ketika banjir terjadi serentak dan berulang, artinya ada yang salah dengan menara air kita di hulu," ujar politikus Gerindra ini.
