Kenapa Soedirman hingga Kartini Jadi Pahlawan dengan Nama Jalan Terbanyak di RI?
21 Agustus 2025 8:48 WIB
Β·
waktu baca 8 menit
Kenapa Soedirman hingga Kartini Jadi Pahlawan dengan Nama Jalan Terbanyak di RI?
Sejarawan dari Universitas Indonesia (UI), Bondan Kanumuyoso menyebut penamaan jalan pahlawan dipengaruhi oleh popularitas pahlawan itu sendiri. kumparanNEWS

Jalan tidak hanya berfungsi sebagai penopang kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat, tetapi juga sebagai pengingat atas sejarah bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Tidak mengherankan bila banyak nama jalan diberi nama jalan pahlawan.
Berdasarkan hasil penelusuran kumparan, sebanyak 187 dari 206 pahlawan nasional sudah diabadikan sebagai nama jalan di Indonesia. Dari 187 pahlawan tersebut, terdapat 5 pahlawan yang paling banyak dijadikan nama jalan di Indonesia. Mereka adalah Soedirman, Kartini, Diponegoro, Ahmad Yani, dan Dewi Sartika.
Nama-nama pahlawan tersebut bahkan banyak dipakai juga di daerah lain. Dewi Sartika, misalnya, adalah pahlawan dari Jawa Barat. Namun, nama Dewi Sartika banyak juga digunakan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, bahkan Lampung. Begitu pula Soedirman, meski berasal dari Jawa Tengah, namanya juga bisa ditemui di berbagai provinsi.
Lantas, mengapa itu bisa terjadi?
Pemda Tidak Memahami Toponimi
Menurut Sejarawan dari Universitas Indonesia (UI), Bondan Kanumuyoso, penamaan jalan dengan nama pahlawan dipengaruhi oleh popularitas pahlawan itu sendiri. Tidak mengherankan, kata dia, bila ada pahlawan nasional di sebuah daerah yang bahkan belum menjadi nama jalan di daerahnya sendiri.
"Saya kira karena popularitas saja. Banyak nama pahlawan yang belum dikenal oleh masyarakat. Jadi karena itu kalau bicara pahlawan, mereka ingatnya ya nama-nama itu Diponegoro, Kartini, gitu-gitu ya. Nah, itu sebabnya nama-nama itu saja yang dipakai padahal kan sudah ada hampir 200 itu pahlawan nasional, ada 190-an kalau enggak salah. Nah tetapi yang lainnya enggak terlalu dikenal, makanya jarang dipakai, gitu," jelas Bondan kepada kumparan, Senin (18/8).
Hal ini pun disayangkan oleh Bondan. Menurutnya, pemberian nama jalan mestinya mengikuti aturan yang menggambarkan karakteristik daerah tersebut. Bondan memang tak merinci aturan yang dimaksud. Namun dilihat kumparan, aturan yang Bondan maksud salah satunya merujuk pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pembakuan Nama Rupa Bumi.
"Aturan sebetulnya untuk pemberian nama jalan harusnya ada karakteristik daerah itu, toponimi namanya. Jadi misalnya kalau kotanya itu ada di Jawa Tengah akan lebih baik ya, misalnya nama jalan itu diberi nama pahlawan-pahlawan yang berasal dari Jawa Tengah. Bisa Diponegoro, Ratu Kalinyamat, Kartini misalnya. Lalu, kalau misalnya dari Sumatera Utara ya sebaiknya nama-nama pahlawan nasional dari Sumatera Utara," jelas Bondan.
"Nah tetapi aturan itu pun enggak diketahui kayaknya dan pemda mungkin juga enggak terlalu memerhatikan aturan itu ya. Sehingga karakteristik daerahnya kurang terlihat," sambungnya.
Sebaran Jalan dengan Nama Soedirman hingga Kartini
Ada, 310 jalan yang menggunakan nama Soedirman, 269 jalan yang menggunakan nama Kartini, 240 jalan yang menggunakan nama Diponegoro, 204 jalan yang menggunakan nama Ahmad Yani, dan 150 jalan yang menggunakan nama Dewi Sartika.
Temuan itu diperoleh dari analisis terhadap data OpenStreetMap (OSM) Indonesia yang tersimpan dalam format .osm.pbf. OSM sendiri merupakan proyek pemetaan kolaboratif berbasis open source.
Nah, osm.pbf adalah file OSM yang disimpan dalam format PBF. Isinya terdiri dari Nodes (titik koordinat dengan lat/lon),Ways (jalan, sungai, bangunan, dll.), serta Relations (hubungan antarobjek, misalnya rute bus atau batas administratif).
File tersebut kami proses menggunakan library pyosmium di Python untuk mengekstraksi data jalan. Setelah itu, nama-nama jalan dinormalisasi dengan regular expression dan unicodedata, lalu dibandingkan dengan daftar 206 pahlawan nasional menggunakan metode string similarity dari difflib.SequenceMatcher.ratio().
Dalam tahap analisis, kami juga menerapkan nama alias untuk kelima nama pahlawan nasional tersebut, yakni terdapat variasi semisal "Soedirman" dan "Sudirman". Penerapan alias ini dilakukan secara menyeluruh agar proses pencocokan nama jalan menjadi lebih akurat. Selain melalui otomatisasi, kami juga menyisir secara manual.
Berikut ini uraian tentang Jalan Soedirman hingga Dewi Sartika:
1. Soedirman
Jenderal Soedirman merupakan Panglima Besar TNI yang lahir pada 24 Januari 1916 di Purbalingga, Jawa Tengah. Sejak muda, ia aktif dalam kegiatan kepanduan Muhammadiyah sebelum terjun ke militer. Saat kependudukan Jepang, ia bergabung dengan PETA dan menjadi komandan batalion di Banyumas.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Soedirman memimpin perlawanan pasukan Inggris dan Belanda pada Perang Palagan Ambarawa. Ia juga memimpin perang gerilya selama Agresi Militer Belanda II pada 1948.
Soedirman ditetapkan menjadi pahlawan nasional pada 10 November 1964 berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 314 Tahun 1964. Soedirman lalu diabadikan sebagai nama jalan yang tersebar di 34 provinsi berjumlah 310 jalan.
Jumlah jalan yang menggunakan nama "Soedirman" terbanyak di provinsi Jawa Timur berjumlah 76 jalan, diikuti dengan Jawa Tengah berjumlah 40 jalan, Jawa Barat berjumlah 21 jalan, Riau berjumlah 20 jalan, dan Sulawesi Selatan berjumlah 17 jalan.
Di Medan, Jalan Sudirman berada di kawasan pusat kota dengan panjang jalan sekitar 1,3 kilometer. Meski di kawasan pusat kota, jalan ini tetap dilengkapi dengan pepohonan yang rimbun. Jalan Sudirman ini berbatasan langsung dengan Jalan S Parman dan Jalan Imam Bonjol.
Jika berjalan dari Jalan S Parman, maka akan bertemu dengan Rumah Dinas Gubernur Sumatera Utara di sisi kanan jalan. Sementara di sisi kiri, ada Taman Beringin. Dari Jalan S Parman ke Rumdis Gubernur, jalan ini dibuat satu arah. Namun, selepas Rumah Dinas Gubernur, Jalan Sudirman diberlakukan dua arah.
Bila kita melanjutkan perjalanan, di sisi kiri jalan, maka kita akan menemui Kantor DPD Gerindra Sumut, Kantor DPD Demokrat Sumut, kafe, Hana Bank Sudirman, hingga Le Polonia Hotel.
Sementara, jika memilih putar balik, maka di sisi kiri jalan lagi, kita akan menemui Taman Ahmad Yani Medan. Taman ini biasa digunakan warga sekitar untuk bermain hingga berolahraga.
Kemudian, adapula Kantor DPD Golkar Sumut dengan warga khas kuning mencolok. Jika berjalan lebih ke depan lagi, maka kita akan bertemu dengan Rumah Dinas Wali Kota Medan. Selain itu, di sekitar lokasi ini juga ada klinik hingga rumah milik warga sekitar.
Plt Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK), Kota Medan, Gibson Panjaitan, menyampaikan perawatan khusus yang dilakukan di Jalan Sudirman adalah penanaman kabel listrik untuk menjaga estetika kota.
βPerawatan khusus penataan jalur pedestrian TA 2024 beserta lanskap dan street furniture serta penurunan kabel utilitas (tanam),β kata Gibson kepada kumparan, Selasa (19/8).
Gibson bilang, penamaan jalan tersebut sudah ditetapkan berdasarkan SK Wali kota Nomor 620/1836.k/IX/2014 tentang Penetapan Status Ruas Jalan sebagai Jalan Kota di Kota Medan.
2. Kartini
Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita Indonesia, terutama dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan.
Kartini menentang budaya yang membatasi wanita, khususnya dalam hal pendidikan dan kebebesan berpendapat. Ia menulis surat kepada teman-temannya di Belanda menyuarakan pentingnya pendidikan dan kebebasan bagi perempuan agar bisa setara dengan laki-laki.
Kartini ditetapkan menjadi pahlawan nasional pada 2 Mei 1964 berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 108 Tahun 1964. Penetapan ini bersamaan dengan hari lahir Kartini, yakni 21 April yang dijadikan hari Kartini. Kartini diabadikan sebagai nama jalan yang tersebar di 31 provinsi berjumlah 269 jalan.
Jumlah jalan yang menggunakan nama "Kartini" terbanyak di provinsi Jawa Timur berjumlah 63 jalan, diikuti dengan DKI Jakarta berjumlah 32 jalan, Jawa Tengah berjumlah 28 jalan, Kalimantan Timur berjumlah 16 jalan, dan Jawa Barat berjumlah 15 jalan.
3. Diponegoro
Pangeran Diponegoro dikenal sebagai pemimpin Perang Jawa atau Diponegoro melawan Belanda. Ia juga dikenal sebagai sosok yang cerdas, religius, dan ahli hukum Islam.
Pangeran Diponegoro menggunakan strategi perang gerilya yang efektif di medan perang pegunungan dan hutan jawa. Meski memenangkan pertempuran, ia ditangkap Belanda pada 1830 dan diasingkan ke Makassar, tempat ia wafat pada 1855.
Diponegoro ditetapkan menjadi pahlawan nasional pada 6 November 1973 berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 08/TK/1973. Diponegoro diabadikan sebagai nama jalan yang tersebar di 34 provinsi berjumlah 240 jalan.
Jumlah jalan yang menggunakan nama "Diponegoro" terbanyak di provinsi Jawa Timur berjumlah 68 jalan, diikuti dengan Jawa Tengah berjumlah 54 jalan, Riau berjumlah 10 jalan, serta Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Barat berjumlah 9 jalan.
4. Ahmad Yani
Jenderal Ahmad Yani adalah tokoh militer Indonesia dan dikenal sebagai pahlawan revolusi. Ia lahir pada 19 Juni 1922 di Purworejo, Jawa Tengah. Ahmad Yani memulai karier militer dengan bergabung dalam PETA pada masa kependudukan Jepang.
Ahmad Yani dikenal dengan keahliannya dalam operasi militer "Pagar Betis" yang dapat meredam agresi militer Belanda. Pada 1965, ia menjadi korban G30S/PKI yang melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap beberapa jenderal TNI.
Ahmad Yani ditetapkan menjadi pahlawan nasional pada 5 Oktober 1965 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 111/KOTI/1965. Ahmad Yani diabadikan sebagai nama jalan yang tersebar di 37 provinsi berjumlah 207 jalan.
Jumlah jalan yang menggunakan nama "Ahmad Yani" terbanyak di provinsi Jawa Timur berjumlah 34 jalan, diikuti dengan Jawa Barat berjumlah 22 jalan, Jawa Tengah berjumlah 19 jalan, serta Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur berjumlah 13 jalan.
5. Dewi Sartika
Raden Dewi Sartika lahir pada 4 Desember 1884 di Bandung, Jawa Barat. Ia dikenal sebagai pelopor pendidikan bagi kaum wanita pada masa penjajahan Belanda.
Pada 1904, ia mendirikan sekolah pertama untuk perempuan dengan nama "Sakola Istri" yang menjadi cikal bakal pendidikan perempuan di Jawa Barat. Melalui Sakola Istri ia mengajarkan menulis, membaca, berhitung, dan keterampilan praktis bagi perempuan.
Dewi Sartika ditetapkan menjadi pahlawan nasional pada 1 Desember 1966 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 252 Tahun 1966. Dewi Sartika diabadikan sebagai nama jalan yang tersebar di 19 provinsi berjumlah 150 jalan.
Jumlah jalan yang menggunakan nama "Dewi Sartika" terbanyak di provinsi Jawa Tengah berjumlah 55 jalan, diikuti dengan Jawa Timur berjumlah 42 jalan, Jawa Barat berjumlah 23 jalan, Bali berjumlah 4 jalan, dan Lampung berjumlah 3 jalan.
Di Depok, nama Dewi Sartika diabadikan sebagai sebuah jalan yang posisinya sangat strategis. Jalan Dewi Sartika menghubungkan Sawangan dengan Margonda. Selain itu, siapa saja yang mau ke Stasiun Depok Baru juga akan melewati jalur ini.
*Muhammad Falah, reporter magang kumparan, turut berkontibusi dalam artikel ini
