
Kepala BNPT Ungkap Modus Digital Grooming untuk Rekrut Anak ke Jaringan Teroris
24 November 2025 19:10 WIB
ยท
waktu baca 9 menit
Kepala BNPT Ungkap Modus Digital Grooming untuk Rekrut Anak ke Jaringan Teroris
Kelompok teror mencoba merekrut anak masuk ke jaringan terorisme melalui game online dan medsos. BNPT menyebut mereka memakai modus grooming digital, memainkan psikis anak. #kumparanNEWS #lipsuskumparanNEWS
Di dunia nyata Toni (nama samaran) hanya seorang mahasiswa biasa yang gemar bermain game bertema sejarah; ada yang berbasis sandbox; hingga perang-perangan. Namun saat berselancar ke akun Facebook-nya, ia menyelami sisi gelap internet.
Di sebuah grup terbuka yang anggotanya mencapai 20 ribuan akun, ia kerap membagikan konten meme bertema โJihadis-Ngisisโโsebuah istilah plesetan untuk konten-konten yang menampilkan atribut teror hingga kombatan perang di Timur Tengah namun dibalut dengan nuansa humor.
Salah satu meme-nya ialah adu peran artis Korea Ji Sung dan Han Ji-min dalam serial Familiar Wife (2018) yang duduk bersebelahan di sebuah bus. Ji-min memberikan satu lubang headsetnya untuk didengarkan kepada Ji Sung, akan tetapi bukan lagu romantis yang diputarโadegan itu justru diplesetkan menjadi memperdengarkan lagu nasyid berlirik:
Ke mana perginya para lelakiโฆ
Yang akan memenuhi seruan Ilahi...
Di mana jiwa para pemuda beraniโฆ
Menjual diri untuk syurga yang abadi...
Di tengah-tengah lagu itu, terdengar pekikan Allahu Akbar serta deru tembakan dari senapan yang dilakukan secara burst. Di grup itu, meme serupa muncul seperti video orang-orang berbaju kombatan, mengangkat bendera hitam bertuliskan Arab โLailahaillallahโ tengah melakukan latihan militer lalu diberi background musik acara TV โSi Bolangโ.
Bagi Toni, apa yang dilakukannya murni nge-meme ironi atau dark jokes. Ia mengenal format meme semacam ini sejak duduk di bangku SMA dari kawannya yang kerap nge-meme format serupa. Menurutnya meme tersebut bukanlah bentuk dukungan terhadap ideologi kekerasan.
"Meme ironi sendiri adalah ketika suatu hal terjadi itu bertolak belakang dari apa yang diharapkan," ujar Toni menjelaskan bahwa niat membuat meme itu ialah untuk guyonan semata tanpa mendukung ideologi di baliknya.
Ia menegaskan bahwa, meme jihadis adalah "penolakan gerakan tersebut dalam bentuk satir" dan bahkan kerap digunakan untuk mengolok-olok ideologi ekstrem itu sendiri.
Toni meyakini dirinya kebal dan tidak merasa terpengaruh atau menormalisasi kekerasan berkaitan dengan pembuatan meme-meme itu. Namun batas antara satir dan realitas tampaknya tak berlaku bagi Joni (nama samaran) yang di grup yang sama mengaku bahwa temannya adalah simpatisan.
Joni menjelaskan video mentah kombatan untuk bahan meme-nya didapat dari temannya itu. Sumbernya adalah web Daesh (ISIS) yang menurutnya kini sudah tak lagi dapat diakses.
Pengakuan ini mengonfirmasi bahwa materi propaganda teroris berseliweran bebas, bercampur baur dengan candaan, dan dinikmati oleh mereka yang sekadar iseng maupun yang mungkin terpapar lebih jauhโmembunyikan alarm bahaya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Apa yang dianggap sebagai lelucon semata, meme-meme itu, oleh Kepala BNPT Komjen Pol (Purn.) Eddy Hartono diidentifikasi sebagai memetic radicalization atau memetic violence yang merasuk di sendi-sendi ruang digital kita.
Fenomena anak muda terjangkit teror di ruang digital mengemuka setelah Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap lima tersangka terkait upaya rekrutmen anak masuk ke jaringan terorisme. Mereka ditangkap di sejumlah wilayah, antara lain di Sulawesi, Sumatra, hingga Jawa Tengah.
Kelimanya diduga anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang mencoba merekrut anak melalui ruang digital, salah satunya melalui gim. Total ada 110 anak yang disebut menjadi korban. Para tersangka diduga memanipulasi psikologi anak alias digital grooming untuk menyeret masuk lingkaran dan konten kekerasan dan terorisme.
Penangkapan lima tersangka tersebut buah tiga tahun pemantauan ruang digital yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Densus 88 dan lembaga terkait. Pada pemantaun sama, ditemukan sebuah modus baru indoktrinasi melalui pendekatan emosional.
Untuk mengetahui bagaimana grooming digital tersebut dimainkan kelompok teror mendoktrin anak-anak, dan bagaimana orang tua menjaga buah hatinya dari paparan paham kekerasan, kumparan mewawancarai Kepala BNPT Komjen Pol (Purn.) Eddy Hartono:
Game online disebut jadi medium baru penyebaran paham radikalisme. Bagaimana proses perekrutannya? Grooming digitalnya seperti apa?
Game online ini kan bermain simulasi. Baik itu tentang ada unsur kekerasan maupun perang-perangan. Dan yang kedua, di game online ini kan ada fitur chat, voice, ataupun private chat; di situlah sesama pemain ini bisa saling berkomunikasi.
Di situlah, ketika sambil bermain, sambil berkomunikasi, masuklah pelaku untuk bersama-sama main di situ. Terus bisa ngobrol, bisa saling tukar pikiran, segala macem sambil main.
Di situlah dilakukan namanya proses digital grooming. Artinya apa? Di situ sama pelaku dibangunlah rasa kedekatan, rasa kepercayaan, bahkan sampai membentuk ketergantungan kepada sesama pemain ini. Itu prosesnya pelan-pelan. Enggak langsung cepat. Jadi dengan beberapa kali main, sering ketemu di dalam chat-nya game online tersebut.
Setelah sudah terjalin, punya kedekatan sesama pemain, sama satu hobi, satu kesukaan, di situlah baru mereka dipancing keluar. Diisolasilah, kata kasarnya: โdiisolasi keluar untuk bergabung di platform media sosial, entah Telegram atau WhatsApp.
Setelah masuk satu grup, barulah โ kalau istilah psikologis โ namanya normalisasi perilaku. Dari game kan udah sama berbincang tentang sesama-sama kesukaan, kesenangan, kemudian di situlah timbul komunikasi. Bahkan juga dipakai sebagai sarana curhat. Dan pelaku ini merasa dia seumuran dengan yang menjadi target ini, anak-anak ini. Sehingga dengan bahasa gaulnya anak-anak inilah, mereka saling tukar pikiran. Entah mungkin bisa bercerita tentang keluarganya, kehidupan di sekolahnya. Bahkan juga mungkin dia curhat tentang, "wah ini teman-teman saya ini sering bully saya, sering apa, sering apa," bisa jadi seperti itu.
Setelah itu, apa lagi?
Setelah satu frekuensi, barulah dimasukkan doktrin-doktrin [kekerasan].
Karena ini Jamaah Ansharut Daulah, dia menggunakan narasi-narasi ISIS karena dia pattern-nya ke ISIS itu. Di situlah mulai dimasukkan nilai-nilai terorisme.
Nilai terorisme yang dimaksud BNPT adalah salah diantaranya narasi mengenai โdemokrasi itu haramโ, โpemerintah itu thaghutโ, โhalal darah dibunuhโ hingga membandingkan secara head to head antara agama dengan Pancasila.
Mengapa psikologis anak yang dimainkan?
Namanya anak-anak, hal-hal yang baru [pasti -red] menarik perhatian mereka. Jadi mereka tuh stimulus aspek psikologisnya: mencakup emosinya, perilakunya, kemudian kognitifnya atau pola pikirnya.
Ketika sudah tertarik, kemudian diindoktrinasi, dia paham begini-begini, baru dieksploitasi.
Apa yang dimaksud eksploitasi anak dalam fenomena ini?
Kalau sudah sampai ke eksploitasi, ini bahaya. Karena apa? Nanti dia [korban anak] akan melakukan tindak pidana terorisme. Bahkan kemarin Densus juga mengungkapkan bahwa dari 110 ini malah ada yang pengen berencana akan menyerang institusi tertentu. Itu udah niat seperti itu, kan luar biasa ini doktrin-doktrin mereka.
Mengapa mudah dan cepat terpapar paham radikal?
[usia anak] ini rentang antara 10 tahun sampai 17 tahun, ini yang 110 [yang teridentifikasi].
Kenapa anak-anak ini dipilih? Karena jaringan terorisme ini sudah mengetahui bahwa anak-anak ini kan rentan. Dia mudah diajak. Dan namanya anak-anak, sedang mencari jati diri. Lagi seneng-senengnya melihat hal-hal yang baru. Itulah dipancing. Distimulasilah aspek psikologisnya tadi itu: emosinya, perilakunya, pola pikirnya.
Itulah yang mempercepat proses radikalisasi terhadap anak.
Apa nama grup pesan yang digunakan kelompok teror ini untuk mendekati anak?
Grupnya berganti-ganti. Mereka enggak tetap. Jadi menggunakan kata-kata yang soft. Nanti Densus 88 [yang akan mendetailkan] karena masih dalam proses pendalaman.
Yang saya tahu, grupnya mereka pasti ganti-ganti namanya untuk mengelabui. Dipilih diksi yang enggak menimbulkan kecurigaan atau enggak menimbulkan hal-hal yang mencolok.
Jadi mereka suka ganti-ganti; misalkan dua hari, tiga hari mereka ganti. Jadi, untuk tadi itu, mengelabui supaya tidak terpantau lah, gitu.
Kami menemukan satu grup di Facebook, yang isinya jokes atau meme lucu yang menyinggung kekerasan dan menjadikan ISIS sebagai candaan. Apakah ini termasuk dalam terkena paparan?
Iya. Itu juga salah satunya.
Makanya kalau kita kenal namanya memetic radicalization, itu memetic atau violence. Jadi sekarang sedang tren dengan simbol-simbol gitu, ya kan. Itu makanya kita kenal namanya memetic radicalization. Memetic kan tuh mudah diingat. Mudah untuk kedekatan, kepercayaan, dan ketergantungan. Sehingga ini digunakan untuk melakukan tahapan radikalisasi.
(Toni menyebut meme jihadis-ngisis berasal dari luar negeri. Seiring waktu banyak orang Indonesia membuat versi meme semacamnya tapi jumlahnya kini sudah sulit ditemui karena materinya bersifat sensitif dan sumber aslinya sudah sulit ditemukanโkebanyakan meme yang beredar kini hasil repost atau daur ulang.
Soal memetic violence, Toni berpendapat bahwa penyebaran ide berbahaya bisa terjadi lewat mana saja, tidak hanya meme. Masalahnya ada pada model penerimaan oleh audiens.
Bagi sebagian orang memang meme hanya dianggap guyonan biasa, tetapi beda dengan orang yang terlalu menyeriusinya sehingga mewakili pemahamannya. Itu terjadi, menurut Toni, karena orang terlalu sering berselancar di internet alias chronically online sehingga terpengaruh berbagai pemahaman yang ada di internet)
Kalau nama gimnya apa? Apakah boleh disebut?
Nanti saja.
Nanti setelah... kami juga lagi menyusun PP Nomor 17 Tahun 2025 bersama Komdigi, ini sedang dilakukan penyempurnaan untuk ketentuan di lapangannya [perbaikan masing-masing aplikasi]. Karena nanti Menteri Komdigi masih memberikan ruang waktu untuk masing-masing platform untuk menyempurnakan keamanan. Terutama untuk penggunaan kepada anak-anak. Ini mungkin nanti secara global Januari 2026 baru bisa semua berlaku.
Apakah termasuk gim yang arenanya dibuat sendiri oleh penggunannya?
Mereka membikin sendiri simulasi sendiri, kan bisa di-create sendiri sama mereka, kadang-kadang merubah narasinya. Bahkan ada yang mengubah device-nya itu seolah-olah perang-perangan melawan TNI-Polri. Ada simulasi yang dibuat seperti itu.
Meskipun jadi medium baru penyebaran paham kekerasan, tapi game dan dunia anak sekarang tak bisa dipisahkan. Selain wadah kreativitas, game juga berdampak pada ekonomi sosial. Bagaimana BNPT melihat ini?
Jangan disalahkan game online-nya. Justru kita harus edukasi. Ini adalah PR kita, negara. Makanya kenapa anak-anak di bawah umur itu, dalam sistem peradilan anak, itu proses diversi. Penyelesaian di luar peradilan. Demi kepentingan baik anak. Pemulihan dan keadilan restoratif.
Jadi negara tidak hanya menghukum, tapi juga memulihkan.
Bagaimana komitmen pemerintah dengan penyedia platform untuk membuat ruang aman anak di ruang digital?
Kementerian Komdigi sudah mengeluarkan PP 17 Tahun 2025 tentang Penggunaan Penyelenggara Akses Elektronik yang Berisiko Tinggi, termasuk kepada anak-anak ini. PP 17 ini adalah merupakan amanat daripada Undang-Undang ITE Nomor 1 Tahun 2024. Inilah supaya, kami juga berkoordinasi dengan platform-platform global kayak Google, TikTok ya, Telegram, ada WA dan lain-lainnya, termasuk game online.
Kemarin juga terakhir, Ibu Menteri Komdigi sudah menyampaikan bahwa ada rencana dari game online Roblox akan melakukan upaya pengamanan terhadap anak-anak yang akan mengakses. Contohnya dengan memberikan aplikasi verifikasi. Jadi verifikasi dua; verifikasi secara wajah, kemudian yang kedua verifikasi secara dokumen atau ID.
Nah ini yang sedang dikembangkan. Sehingga ketika nanti anak-anak itu mau buat akun untuk main gim secara otomatis kamera akan memverifikasi wajahnya. Ketika dia di bawah umur, itu langsung ditolak. Kedua, harus menunjukkan ID-nya. Ini salah satu upaya-upaya untuk dilakukan upaya mitigasi. Dan mungkin ini akan diberlakukan mungkin awal-awal tahun 2026.