Ketika Kumandang Azan di Kanada Dianggap Bikin Stres dan Langgar HAM

8 Mei 2020 14:44 WIB
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketika Kumandang Azan di Kanada Dianggap Bikin Stres dan Langgar HAM
Selama pandemi corona, Kanada mengizinkan kumandang azan melalui pengeras suara di masjid. #kumparanNEWS
kumparanNEWS
Umair Khan, Imam masjid terbesar di British Columbia, Masjid Baitur Rahman di Delta, British Columbia, Kanada. Foto: REUTERS / Jesse Winter
zoom-in-whitePerbesar
Umair Khan, Imam masjid terbesar di British Columbia, Masjid Baitur Rahman di Delta, British Columbia, Kanada. Foto: REUTERS / Jesse Winter
Umat Muslim yang berdomisili di sejumlah kota di Provinsi Ontario, Kanada, menyambut gembira seiring keluarnya izin melantunkan azan melalui pengeras suara di masjid.
Dengan mempertimbangkan toleransi beragama dan kebudayaan, Majelis Kota Mississauga di Ontario mengesahkan peraturan sementara pada 29 April terkait dengan penundaan kontrol suara di publik.
Peraturan yang dibuat sebagai imbas dari pandemi corona itu mengizinkan masjid untuk mengumandangkan azan Magrib maksimal selama lima menit, namun dengan tetap melarang salat berjamaah di masjid.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah kota seperti Toronto, Hamilton, Windsor, Brampton, Ottawa, dan Edmonton juga mengikuti regulasi itu. Akan tetapi, keputusan itu mendapat penentangan dari warga lokal.
Diberitakan Arab News, Jumat (8/5), sejumlah warga Kanada menilai kumandang azan tersebut melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) serta membawa agama ke ranah publik di negara sekuler itu.
Beberapa pendapat bahkan menganggap bahwa suara azan bisa menimbulkan stres dan memicu trauma bagi tentara Kanada yang pernah bertugas di Timur Tengah.
Mereka mengecam keputusan itu dan menganggapnya sebagai kebijakan inkonstitusional dan mendukung radikalisme. Beberapa gugatan hukum juga telah dilayangkan.
Rangkaian protes warga lokal tersebut amat disayangkan oleh Muslim asal Arab Saudi, Hassan Ahmed, yang kini menetap di Mississauga. Hassan yang sebelumnya tinggal di Riyadh ini mengatakan kumandang azan seharusnya tak mengganggu warga Kanada.
β€œLonceng gereja yang terdengar setiap hari Minggu tidak mengganggu hak saya sebagai Muslim. Panggilan azan, yang bersifat sementara karena kondisi ekstrem ini (pandemi), sudah seharusnya tidak mengganggu hak siapa pun,” kata Hassan.
Kanada sejauh ini dikenal sebagai negara yang ramah terhadap pengungsi dan kaum minoritas. Khusus di Provinsi Ontario bahkan tercatat lebih dari seperempat penduduknya berasal dari kaum minoritas.
ilustrasi Kanada Foto: Shutter Stock
Hassan pun yakin adanya protes terhadap kumandang azan tersebut hanya dilakukan oleh segelintir orang di masyarakat Kanada yang plural.
β€œKami tinggal di negara yang aman dan umat Muslim sangat bersatu dan membaur. Jadi, ketika Anda punya pengalaman aneh yang berkaitan dengan Islamophobia, itu tidak akan mempengaruhi kami. Setidaknya itulah harapan kami,” tandasnya.
Sebelumnya, kota besar di Amerika Serikat, Minneapolis, telah mengizinkan azan berkumandang melalui pengeras suara setiap panggilan salat lima waktu di masjid selama Ramadhan.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
***
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
Trending Now