Kisah Kuli Harian di Jalan Isa Rawa Belong, Semangat meski Kerjaan Sulit
4 Desember 2025 12:43 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Kisah Kuli Harian di Jalan Isa Rawa Belong, Semangat meski Kerjaan Sulit
Ini kisah para kuli harian yang menggantungkan harapannya pada proyek galian. Meski tak menentu, mereka tak patah arang. kumparanNEWS

Sejak matahari terbit, Warna (70), sudah duduk di sisi Jalan Isa, Rawa Belong, Jakarta Barat, dan menatap ke arah lalu lalang kendaraan yang melintas.
Di depannya, sebuah pacul berdiri kokoh yang jadi identitasnya sebagai kuli harian โ pekerja lepas yang menawarkan jasa tenaga fisik untuk pekerjaan konstruksi/infrastruktur kecil dan serabutan.
Namun, kendaraan-kendaraan itu hanya melintas di depannya. Tak ada yang menepi. Tak ada yang memakai jasanya.
Warna lalu meneguk air di botol plastik yang hanya tersisa sedikit dan merogoh kantong celananya untuk mencari uang yang masih tersisa, tapi tak ada selembar uang pun yang bisa didapatnya dari sana. Sementara itu, keringat mulai mengucur dari dahinya ketika matahari perlahan naik.
"Lima hari gak (dapat) seperak pun," keluh Warna saat ditemui kumparan pada Kamis (4/12).
Sekitar 15 tahun lalu, Warna merantau dari kampungnya di Cirebon ke Jakarta demi mendapat peluang hidup yang lebih baik. Keputusannya terbilang nekat. Sebab, dia tak bisa membaca ataupun menulis dan hanya pernah mencicipi duduk di bangku kelas 1 SD.
"Gak bisa membaca sama sekali," ucap dia.
Meski demikian, semangatnya tak pernah patah. Kini, ada cucu-cucu yang sedang bersekolah di Cirebon menanti kiriman uang jajan darinya. Setidaknya, meski dirinya tak pernah tamat SD, anak dan cucunya pernah menikmati bangku SMP dan SMA.
"Saya paling ngirim (uang) buat cucu saya, buat jajan," kata dia.
Dalam sehari, uang yang diperolehnya tak menentu, berkisar Rp 50 hingga Rp 150 ribu. Apabila tak ada yang memakai jasanya sebagai kuli, Warna sering berkeliling di wilayah Jakarta Barat untuk mencari sampah.
Dia pantang meminta-minta walaupun terkadang dia mesti berutang jika tak punya uang sama sekali.
Warna nongkrong di Jalan Isa bersama beberapa temannya, sesama kuli harian asal Cirebon. Biasanya, awal tahun yang baru, menjadi berkah bagi para kuli karena maraknya orderan yang masuk. Meski demikian, selama 15 tahun menjadi kuli, dia belum pernah sekalipun mendapat proyek dari pemerintah.
"Tahun baru mudah-mudahan (ada berkah)," harapnya.
Berharap Pekerjaan Layak di Kampung
Hal senada dikatakan kuli lainnya, Aji (54). Dia, yang sudah 6 tahun nongkrong di Jalan Isa, juga mengaku tak menentu pendapatannya. Bahkan, dia pernah selama dua pekan tak mendapat pekerjaan sama sekali sehingga mesti berutang sana-sini.
Sebagai kuli, Aji dibayar Rp 250 hingga Rp 300 ribu untuk pengerjaan proyek selama satu hari. Dia memilih untuk nongkrong di Jalan Isa menanti konsumen karena ruas jalannya yang ramai dan warganya yang ramah.
"Di sini gampang ada yang nyuruh," kata Aji.
Biasanya, Aji mengatakan, orderan ramai pada awal tahun baru. Sementara, apabila orderan sedang sepi, dia sering memilih untuk pulang ke Cirebon dan bekerja jadi buruh tani di sana meski diupah sangat kecil.
Perjuangan Warna, Aji, dan rekan-rekannya di pinggir jalan Ibu Kota mencerminkan tantangan besar pemerataan ekonomi. Mereka berani menukar risiko penghasilan yang tidak menentu demi menyambung hidup.
Harapan mereka jelas: kesempatan kerja yang layak di daerah, sehingga pacul-pacul itu bisa digunakan di kampung halaman mereka sendiri, bukan lagi berdiri kokoh di trotoar Jakarta.
