Kisah Risno, Tukang Ojek yang Dapat Cuan di Balik Macet Horor Pelabuhan Ketapang
18 Juli 2025 14:42 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Kisah Risno, Tukang Ojek yang Dapat Cuan di Balik Macet Horor Pelabuhan Ketapang
Bagi M. Risno (57), seorang tukang ojek pangkalan, 'horor' kemacetan itu justru membawa rezeki nomplok.kumparanNEWS

Kemacetan parah yang melanda Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, pada sejak Rabu (16/7) jadi momok bagi banyak pengguna jasa penyeberangan.
Namun, bagi M. Risno (57), seorang tukang ojek pangkalan, 'horor' kemacetan itu justru membawa rezeki nomplok.
Di tengah antrean panjang kendaraan yang tak bergerak, para tukang ojek konvensional menjadi pahlawan tak terduga. Mereka sigap menjemput penumpang yang ingin segera lepas dari kepungan macet, tak terkecuali para turis asing.
"Alhamdulilah hari ini banyak. Kebanyakan adalah turis yang mau ke hotel," kata Risno, warga Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, yang mengaku tak henti melayani orderan sejak pagi saat dikonfirmasi awak media, Kamis (17/7).
Biasanya, Risno hanya mengantongi Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu dalam sehari. Tapi saat macet melanda, pendapatannya melonjak drastis.
"Dari jam delapan pagi sampai sore saya sudah dapat Rp 250 ribu," ungkapnya.
Penumpang Risno mayoritas datang dari jasa travel asal Bali yang terjebak antrean di Pelabuhan Ketapang. Mereka meminta diantar ke hotel atau lokasi yang aman dari kemacetan.
βRata-rata kalau dari pelabuhan minta diantar ke hotel atau sekitar SPBU di Bulusan itu, karena di Ketapang macet," terangnya sembari menunggu orderan berikutnya di depan pintu masuk Pelabuhan Ketapang.
Selain dari pelabuhan, orderan juga datang dari sekitar Terminal Sritanjung menuju Pelabuhan Ketapang, atau dari hotel-hotel di sekitar Kelurahan Bulusan.
"Ojeknya dari pelabuhan ke hotel atau dari hotel ke pelabuhan. Kalau dari arah utara dari Terminal Sritanjung ke pelabuhan," kata dia.
Namun, meski orderan membanjir, Risno tetap mematok tarif normal. Hal ini karena pelanggannya banyak dari pihak travel yang sudah menjalin kerja sama dengannya. Tarif ojek dari pelabuhan ke hotel atau sebaliknya berkisar Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu, sama dengan tarif dari Terminal Sritanjung.
Setidaknya ada sekitar 20 tukang ojek konvensional yang beroperasi di sekitar Pelabuhan Ketapang. Pada hari itu, hampir semua dari mereka kebanjiran penumpang.
"Hari ini semua banyak orderan, kebanyakan dari travel ngantar turis-turis," tutup Risno.
Penyebab di Balik Kemacetan Horor
Kemacetan panjang ini merupakan dampak dari berkurangnya jumlah kapal yang dioperasikan di Dermaga LCM Pelabuhan Ketapang. Sebelumnya, sebanyak 15 kapal eks LCT (Landing Craft Tank) yang melayani pelayaran di dermaga tersebut dinonaktifkan sementara.
Langkah ini diambil guna inspeksi pasca-insiden tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya.
Hasilnya, ada kabar baik dari percepatan inspeksi. Enam kapal eks LCT telah memenuhi persyaratan untuk mendapat dispensasi melayani pelayaran angkutan logistik. Keenam kapal itu adalah KMP Karya Maritim, KMP Samudera Perkasa I, KMP Samudera Utama, Kapal Jambu VI, KMP Liputan XII, dan KMP Agung Samudera IV.
Meski sudah boleh beroperasi, kapal-kapal tersebut diberlakukan pembatasan. Kapasitas muatan kapal maksimal 75 persen dan tak boleh membawa penumpang maupun kendaraan kecil.
Pantauan Terkini Pelabuhan Ketapang
Pantauan kumparan, hingga Kamis (17/7) sore, kemacetan horor yang didominasi antrean kendaraan logistik dan travel ini mengular sepanjang 23 kilometer, membentang dari pintu masuk pelabuhan hingga Desa Alasrejo, Kecamatan Wongsorejo.
Pantauan Google Maps, pada Jumat (18/7) siang, menunjukkan bahwa kemacetan ini mulai terurai menjadi sepanjang 10 kilometer, label jalan berwarna merah dimulai dari SPBU Bangsring, Wongsorejo.
