Kisah Subae'ah Sang Mak Kucing, Ibu Puluhan Anabul di Kota Lama Semarang

14 Januari 2026 11:09 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kisah Subae'ah Sang Mak Kucing, Ibu Puluhan Anabul di Kota Lama Semarang
Mak Kucing bukan orang kaya atau berpunya. Ia hanya juru foto atau pengarah gaya di Kota Semarang. Namun kasih sayangnya pada anabul tak perlu diragukan.
kumparanNEWS
Subae'ah atau Mak Kucing dengan kucing-kucingnya di Kota Lama Semarang. Foto: Intan Alliva/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Subae'ah atau Mak Kucing dengan kucing-kucingnya di Kota Lama Semarang. Foto: Intan Alliva/kumparan
Di sudut Kota Lama Semarang, di antara bangunan heritage bergaya kolonial, seorang perempuan paruh baya sibuk memanggil-manggil sejumlah nama.
"Putih, abu, belang, hitam. Sini makan dulu," panggil Subae'ah (52), Kamis (14/2).
Panggilan itu langsung direspons belasan kucing yang ada di dekatnya. Seperti anak yang dipanggil ibunya, mereka langsung menyerbu mangkuk yang dipenuhi makanan kering berbentuk ikan yang baru saja dituang Subae'ah.
Kucing-kucing itu makan dengan lahap. Mangkuk besar itu kini telah tandas isinya.
Di tengah pemandangan hangat itu, Subae'ah, atau yang lebih kondang disapa Mak Kucing, sibuk mengunyah dua buah ubi rebus. Ia tersenyum memandangi anak bulu (anabul)-anabulnya yang kini berebut minum dari sebuah baskom besar.
"Seharian ini baru makan ubi rebus sama es teh. Uangnya tadi sudah buat beli makanan kering dan basah buat kucing-kucing itu," sebut dia.
Mak Kucing bukan orang kaya atau berpunya. Ia hanya juru foto atau pengarah gaya di Kota Semarang. Hari-harinya bergantung pada kemurahan hati pengunjung Kota Lama.
Ia bahkan tidur di sebuah bangku di sudut Taman Srigunting, dekat dengan toilet umum. Meski begitu, ia memiliki kandang besar untuk menampung kucing-kucing jalanan.
Ada lima ekor kucing di dalam kandang itu. Kucing-kucing kecil yang mungkin masih berumur sekitar satu bulan itu tampak nyenyak tidur siang. Mereka lucu, mungil, bersih, dan gendut.
"Saya penghasilan paling Rp 100 sampai Rp 150 ribu sehari. Itu juga nggak nentu kalau ramai. Sehari butuh pakan kucing sekitar 5 kilogram karena saya kasih makan seluruh kucing di sini. Belum makanan kalengnya karena kucing-kucing yang kecil itu nggak mau makanan kering," ungkap dia.
Kucing-kucing milik Subae'ah atau Mak Kucing berada di dalam kandang di Kota Lama Semarang. Foto: Intan Alliva/kumparan
Kecintaan Subae'ah kepada hewan berbulu lembut itu dimulai sejak tahun 2015. Awalnya, ia hanya menyelamatkan seekor kucing kecil yang terlantar di sekitar Kota Lama.
"Awalnya itu saya nemu kucing kecil, masih anakan saya pelihara. Kasihan. Saya ambil saya rawat sampai punya anak banyak," jelas dia.
Entah bagaimana ceritanya, Subae'ah seolah menjadi magnet bagi anabul-anabul (anak bulu) di Kota Lama. Sejak itu, ia mulai rutin berkeliling kawasan tersebut untuk memberi makan hewan-hewan yang kerap dipinggirkan, melindungi mereka dari kerasnya hidup di jalanan. Dari situlah ia mendapat julukan Mak Kucing atau Ibu Kucing.
Subae'ah tidak punya suami dan anak. Sedangkan keluarga besarnya tinggal di Semarang utara. Dia sehari-hari hidup di sekitaran Kota Lama Semarang.
Dianggap Anak Sendiri
Bagi Subae'ah, kucing bukan sekadar hewan. Ia sudah menganggap hewan berkaki empat itu sebagai anaknya sendiri, belahan jiwanya.
"Bagi saya kucing lebih dari anak. Lebih dari diri saya sendiri. Saya kasihan lihat mereka, sendirian. Saya seperti lihat saya," ucap Subae'ah sambil mengelap air mata dengan ujung kaosnya.
Meski berpenghasilan minim, Subae'ah menolak mengomersialkan kucing-kucing itu. Banyak saran dari orang-orang agar ia menyiarkan aktivitasnya di media sosial. Namun ia menolak, karena merasa masih mampu merawat anabul-anabul itu dengan jerih payahnya sendiri.
"Banyak yang bilang saya suruh live di TikTok, biar ramai, banyak yang ngasih. Tapi saya nggak mau, saya masih bisa ngasih mereka makan sampai sekarang," katanya.
Subae'ah atau Mak Kucing dengan kucing-kucingnya di Kota Lama Semarang. Foto: Intan Alliva/kumparan
Jadi Mak Kucing Sejak 2015
Sejak 2015, sudah puluhan bahkan ratusan kucing silih berganti ia rawat. Mulai dari kucing jalanan, kucing yang sengaja dibuang pemiliknya, hingga kucing-kucing yang hilang.
"Banyak kucing yang dibuang di sini, saya rawat. Orang-orang cuma mau rawat kalau masih lucu, kalau sudah jelek dibuang. Tidak bertanggungjawab dan tidak punya hati," protes Subae'ah.
Subae'ah atau Mak Kucing dengan kucing-kucingnya di Kota Lama Semarang. Foto: Intan Alliva/kumparan
Namun kini Mak Kucing tengah dilanda sedih dan kebingungan. Salah satu kucingnya menjadi korban tabrak lari. Kucing belang tiga itu memang terlihat sehat dari luar, tetapi organ dalamnya mengalami kerusakan. Ia telah membawa kucing tersebut ke dokter hewan, namun dokter menyarankan operasi dengan biaya yang tidak sedikit.
"Ini ada yang kayanya ketabrak. Nggak ada luka tapi sempat nggak mau makan, saya bawa ke dokter terus rontgen itu katanya organ dalamnya turun semua. Jadi suruh operasi, biaya sekitar Rp 6 juta. Saya uang dari mana kalau sebesar itu, kalau masih Rp 1 atau 2 juta saya masih mampu, tapi kalau segitu jujur saya nggak ada duit," ungkap Mak Kucing sambil menunjukkan hasil rontgen kucingnya.
Di sisa umurnya, Mak Kucing hanya berharap ia selalu diberi kesehatan. Ia juga berharap Kota Lama selalu ramai wisatawan, sehingga rezeki terus mengalir untuknya.
"Saya cuma berharap saya sehat terus karena saya sebenarnya sakit-sakitan. Kota lama terus ramai, jadi saya masih punya uang dan tenaga untuk merawat mereka," kata Mak Kucing.
Trending Now