Kisah Suwandi: Anak Pedagang Bakso dari Buton Jadi Lulusan Terbaik IPDN 2025

28 Juli 2025 13:16 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kisah Suwandi: Anak Pedagang Bakso dari Buton Jadi Lulusan Terbaik IPDN 2025
Dari rumah sederhananya di Buton, ia mengayuh mimpi yang untuk menjadi praja, dan kelak menjadi abdi negara.
kumparanNEWS
Lulusan terbaik IPDN 2025, Peraih Kartika Astha Brata, Suwandi di Kampus IPDN, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Senin (28/7/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Lulusan terbaik IPDN 2025, Peraih Kartika Astha Brata, Suwandi di Kampus IPDN, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Senin (28/7/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan
"Saya purna praja Suwandi dari Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Tahun masuk IPDN tahun 2021. Alhamdulillah tadi baru saja dilantik oleh Bapak Mendagri sebagai lulusan terbaik IPDN Angkatan 32."
Dengan kalimat sederhana itu, seorang pemuda 21 tahun bercerita membuka kisah. Namanya Suwandi, ia lahir di Pasarwajo, 2 Desember 2003. Tumbuh di sebuah kabupaten yang jauh dari sorotan media, jauh dari gemerlap kota. Tapi, dari rumah sederhananya di Buton, Sulawesi Tenggara, dia mengayuh mimpi yang untuk menjadi praja, dan kelak menjadi abdi negara.
Ia datang dari keluarga sederhana. Sang ayah, Samin (58) adalah penjual bakso yang sudah mulai berdagang sejak Suwandi SMP kelas 2. Sedangkan, ibunya, Wa Mesi (54), adalah ibu rumah tangga yang ikut membantu sang suami berdagang di depan rumah.
"Alhamdulillah sebelumnya tidak menyangka. Karena saya dari daerah yang cukup jauh, bukan dari daerah yang kota. Namun bisa survive, bisa mencapai nilai tertinggi IPDN angkatan 32," kata Suwandi usai dilantik menjadi Pamong Praja Muda di Kampus IPDN, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Senin (28/7).
Perjalanan masuk IPDN dimulainya pada tahun 2021, di masa pandemi. Dari Buton menuju Kendari, ia harus menempuh perjalanan 6 hingga 8 jam dengan kapal laut. Semua itu tak menyurutkan semangatnya.
Di tes SKD, ia mencatat nilai 446 dan menempati peringkat 9 secara nasional. Saat pantuhir, ia menjadi peringkat ketiga dari Sulawesi Tenggara.
"Alhamdulillah, keinginan diri sendiri dan didukung oleh orang tua. Sebagai support yang sangat powerful, sehingga bisa lulus IPDN tahun 2021 itu," lanjut dia.
Lulusan terbaik IPDN 2025, Peraih Kartika Astha Brata, Suwandi di Kampus IPDN, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Senin (28/7/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan
Suwandi menegaskan orang tua memegang peran penting dalam keberhasilannya. Bukan hanya dari segi moral dan materi, tapi juga dari nasihat-nasihat sederhana yang dipegang teguh hingga kini.
"Pokoknya saya bilang jangan lupa berdoa, sembayang 5 waktu sehari semalam jangan lupakan," kisah sang ibu yang hadir mendampinginya saat upacara pelantikan.
Kedua orang tuanya pun tak kuasa menahan haru atas pencapaian sang anak.
"Rendah hati, dan tidak sombong, harapan dari orang tua, semoga berbakti kepada orang tua," ujar ibunya.
Ibunya pun mengungkapkan amalan yang dilakukannya sehingga sang anak dapat menjadi lulusan terbaik.
"Sering berdoa, sering salat tahajud, sering ber-selawat fajriyah," jawab sang ibu.
Suwandi pun berharap, setelah pelantikan ini ia bisa mengabdi di Kementerian Dalam Negeri, sesuai harapan orang tuanya.
"Semoga penempatannya sesuai dengan harapan yang orang tua inginkan. Orang tua inginnya saya berada di kementerian dalam negeri, mengabdi," terangnya.

Ayu Mey Wulandari: Yatim Piatu yang Bertahan Hingga Menjadi Salah Satu dari 10 Lulusan Terbaik

Lulusan IPDN 2025, Ayu Mey Wulandari di Kampus IPDN, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Senin (28/7/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan
Di barisan lulusan terbaik IPDN 2025, satu nama perempuan berdiri dengan gagah, Ayu Mey Wulandari, gadis 24 tahun asal Sukoharjo, Jawa Tengah. Lahir pada 27 Mei 2001, ia menapaki dunia pendidikan tanpa lagi disertai doa langsung dari kedua orang tuanya.
"Kebetulan saya masuk di IPDN sejak sebelum saya masuk saya yatim piatu. Ayah saya meninggal tahun 2021, dan ibu saya meninggal tahun 2017," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia masuk IPDN pada tahun ketiganya mencoba. Tahun 2021 menjadi awal perjuangan panjangnya di lembaga tersebut. Tidak mudah bagi Ayu. Ia harus mengandalkan bantuan adiknya yang rela cuti kuliah setahun untuk membiayai semester akhir Ayu.
Beberapa purna praja, sahabat wisma, dan bahkan orang tua rekan-rekannya ikut bergotong royong menopang semangat Ayu agar tak padam.
"Adik saya sempat cuti kuliah 1 tahun untuk membantu pembiayaan saya kuliah selama di semester 7, 8. Selanjutnya, adik saya ada juga purna saya membantu dimulai tahun 2023 dan juga ada dari beberapa rekan saya, beberapa dari orangtuanya membantu saya selama di sini," kenang Ayu dengan mata berkaca-kaca.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melantik 1.110 orang Pamong Praja Muda Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan XXXII Tahun 2025 di Lapangan Kampus IPDN Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Senin (28/7/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan
Selama pendidikan, Ayu hanya mencoba mengikuti alur dan menaati aturan. Tapi keberanian dan konsistensinya menjadikannya salah satu lulusan terbaik tahun ini.
"Sebelumnya kalau sejauh ini saya di IPDN ya kita ikuti alurnya saja selama hidup di sini dan juga melaksanakan apa yang dilarang dan apa yang diaturkan sesuai dengan peraturan yang ada," ucap dia.
Saat ditanya apa yang ingin ia katakan pada ayah dan ibunya jika mereka bisa hadir di hari kelulusannya, Ayu tak kuasa menahan air mata.
"Terima kasih untuk seluruh pengorbanannya selama 20 tahun mendidik saya, membina saya menjadi seorang yang berguna. Terima kasih bahwa ternyata selama 20 tahun itu membawa bekal bagi saya untuk dapat menjalani hidup yang keras ini dan mampu menyelesaikan tugas saya belajar di lembaga tercinta ini," ujar Ayu.
Lulusan IPDN 2025, Ayu Mey Wulandari di Kampus IPDN, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Senin (28/7/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan
Harapannya setelah lulus sederhana. "Walaupun saya bukan yang terbaik, walaupun saya bukan yang pertama, tapi saya berharap saya bisa menjadi berguna bagi seluruh masyarakat Indonesia,"
Ayu siap ditempatkan di mana saja, sesuai kebutuhan negara. Di usianya yang muda, ia sudah menunjukkan bagaimana kehilangan bisa dijadikan pelita, bukan luka. Dari seorang yatim piatu, Ayu menjelma menjadi cahaya di tengah barisan pamong praja muda, simbol ketabahan yang lahir dari kehilangan.
Trending Now