Kisah Warga Hidup Puluhan Tahun di TPU Kober, Jatinegara: Tak Ada Rasa Ngeri
23 November 2025 14:55 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kisah Warga Hidup Puluhan Tahun di TPU Kober, Jatinegara: Tak Ada Rasa Ngeri
Bagi sebagian orang, tinggal berdampingan dengan kuburan mungkin menakutkan. Namun bagi warga yang sudah bermukim di sana selama puluhan tahun, TPU Kober justru adalah rumah. kumparanNEWS

Di antara nisan-nisan yang berdiri rapat di TPU Kober, Jatinegara, Jakarta Timur, terlihat anak-anak berlari di jalan setapak, ibu-ibu menjemur pakaian, dan suara hewan bersahutan.
Kehidupan warga di antara nisan itu berjalan seperti di kampung pada umumnya.
Bagi sebagian orang, tinggal berdampingan dengan kuburan mungkin menakutkan. Namun bagi warga yang sudah bermukim di sana selama puluhan tahun, TPU Kober justru adalah 'rumah' yang memberi rasa aman.
Husna (47) adalah salah satu warga yang tumbuh besar di kawasan ini. Ia datang ke Kober pada 1980 setelah keluarganya digusur dari Perumpung akibat pembangunan jalan layang.
“Lahir di Prumpung, pindah ke sini RT 1 RW 9 karena nyaman aja,” ujarnya pada kumparan, Minggu (23/11).
"Sejak itu, keluarganya tak pernah punya rencana pindah. “Udah nyaman di sini,” lanjutnya.
Dalam satu rumah, Husna tinggal bersama orang tua, saudara, dan keluarga adiknya. “Total 12 orang, 3 keluarga,” katanya.
Mereka hidup berdampingan dengan nyaman, meski kadang dipandang miring oleh orang luar. “Orang lihat sisi gelapnya, ‘Wah ini orang enggak bener’. Banyaklah. Sisi baiknya kan kita sendiri yang jalanin,” ungkapnya.
Bagi Husna, tinggal di dekat area makam bukan sesuatu yang aneh. “Nyaman aja. Enggak ada rasa ngeri. Biasa aja. Dibandingkan tinggal di kompleks mah mending di sini,” ucapnya seraya tertawa kecil.
Rumah dengan Pajak, Air Musala, dan Listrik Mandiri
Warga TPU Kober hidup layaknya permukiman biasa. Mereka membayar Pajak Bumi Bangunan (PBB), memasang listrik, dan menyalurkan air dari musala.
“Ini awalnya tanah perairan. Bukan berarti tanah enggak punya surat. PBB ada,” kata Husna.
Air menjadi persoalan yang berubah dari waktu ke waktu. Dulu, warga mengambil air tanah sendiri, tetapi sempat terjadi kekeringan setelah banjir besar di tahun 90an.
“Mesin-mesin di sini kerendem. Airnya dicabut,” kenangnya.
Kini, sebagian keluarga mengambil air dari musala dengan iuran Rp 30 ribu per bulan. Biaya listrik juga mereka tanggung sendiri. “Kalau lagi murah Rp 500, mahal Rp 800,” kata Husna.
Di saat yang sama, ada Nung (39), warga lain yang sudah tinggal di kawasan ini sejak lahir. Dia tak pernah terpikir untuk keluar dari lingkungan ini.
“Di sini kan memang rumah sendiri. Jadi mau pindah ke mana. Nyaman banget, enak lingkungannya ramai,” tuturnya.
Ia tinggal berlima dalam satu rumah. Anak-anaknya bersekolah tak jauh dari kawasan tersebut.
Ia juga bercerita, anaknya kerap bermain dengan para tetangga. “Akses aman. Namanya udah lama jadi udah kenal semua,” katanya.
Komunitas yang Solid
Meski tinggal berdampingan dengan makam, kehidupan sosial di kampung ini berjalan seperti permukiman lain. Ada arisan—meski Nung mengaku tak pernah ikut—dan ronda malam. Banyak warga bekerja sebagai OB, kata Husna, namun beberapa juga pegawai kantoran.
Bantuan sosial dari pemerintah datang tidak merata. Husna pernah mendapat bansos saat pandemi COVID-19, tetapi setelah itu hilang. “Enggak usah diharapkan kalau saya pribadi. Kalau masih kita mampu kita jalanin,” ujarnya.
Sementara Nung, hanya menerima KJP untuk dua anaknya. “Dari kecil di sini saya enggak dapet apa-apaan. Cuma KJP anak,” katanya.
Kabar penggusuran sempat tersiar akibat pendataan yang dilakukan kelurahan beberapa waktu lalu, tetapi Husna yakin prosesnya tak bisa sembarangan. “Kita tinggal di sini ada surat juga. Enggak mungkin pemerintah menggusur semena-mena,” kata Husna.
Menurut Husna, kawasan tempatnya tinggal terdiri dari 168 Kartu Keluarga (KK) dengan rata-rata 2-3 anak per keluarga. Kawasan tersebut terletak di RT 1 RW 9, Kelurahan Rawa Bunga, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.
