Komisi I Sentil Kepala BNPB soal ‘Banjir Sumatera Cuma Ramai di Medsos’: Amatir

8 Desember 2025 14:54 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Komisi I Sentil Kepala BNPB soal ‘Banjir Sumatera Cuma Ramai di Medsos’: Amatir
Wakil Ketua Komisi I, Sukamta, menyentil Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto soal pernyataannya yang menyebut banjir di Sumut, Sumbar, dan Aceh hanya ramai dan mencekam di Medsos.
kumparanNEWS
Wakil Ketua Komisi I Sukamta di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (26/6/2025). Foto: Haya Syahira/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Ketua Komisi I Sukamta di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (26/6/2025). Foto: Haya Syahira/kumparan
Wakil Ketua Komisi I, Sukamta, menyentil Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto soal pernyataannya yang menyebut banjir di Sumut, Sumbar, dan Aceh hanya ramai dan mencekam di Medsos.
Momen ini terjadi pada rapat kerja Komisi I bersama Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid di DPR, Senin (8/12). Menurutnya, pernyataan publik Suharyanto itu kekanak-kanakan dan terdengar seperti amatir.
“Peristiwa bencana Sumatera ini juga seperti menjadi amunisi baru untuk menambah daftar persepsi ketidakpercayaan publik terhadap negara. Negara dicitrakan seolah-olah sempat tidak hadir di awal-awal bencana. Jadi ada semacam mungkin juga statement dari pejabat publik yang terlalu amatiran menurut saya,” ucap Sukamta.
“Jadi menganggap ‘oh ternyata bencananya tidak seperti di medsos ya, itu cuma rame di medsos, oh ternyata besar ya’. Lho, dia orang yang paling bertanggung jawab dalam penanganan bencana tapi statement-nya kekanak-kanakan, amatiran,” tambahnya.
Sukamta menilai, pernyataan Suharyanto menjadi bukti nyata rendahnya literasi digital bagi pejabat negara. Sukamta mengatakan pada Meutya bahwa ini merupakan PR Komdigi.
“Nah itu membuat persoalan menjadi tambah buruk. Ini menandakan bahwa literasi digital kita belum selesai bahkan pada pejabat maupun ASN. Nah saya kira ini juga bagian yang menjadi PR kita Bu Menteri,” ucap Sukamta.
“Kalau ini dibiarkan terus bergulir saya khawatir ini akan membuat situasi itu menjadi berbahaya,” tambahnya.
Menanggapi sentilan Sukamta ke Suharyanto itu, Meutya menyebut sepakat harus ada disiplin narasi yang dikeluarkan dari pejabat publik. Menurutnya, seluruh pernyataan yang dikeluarkan pejabat publik harus senada dengan semangat Presiden Prabowo Subianto.
“Kami juga sepakat perlu adanya disiplin narasi, bapak, sehingga setiap pejabat pemerintah mengucapkan hal yang in line dengan semangat Bapak Presiden, sehingga tidak boleh ada pejabat yang berbeda tone bahkan berbeda kebatinan dengan Bapak Presiden dalam penyampaian-penyampaian terutama dalam penyampaian-penyampaian publik,” ucap Meutya.
Trending Now