Lirih Melda Diceraikan Suami yang Lulus PPPK: Saya Maafkan tapi Tidak Kembali

25 Oktober 2025 16:14 WIB
·
waktu baca 4 menit
Lirih Melda Diceraikan Suami yang Lulus PPPK: Saya Maafkan tapi Tidak Kembali
Air mata Melda Safitri (33 tahun) berderai tatkala menceritakan ulang kisahnya diceraikan suaminya, Jakfar Sidik. Saat ditemui kumparan di Banda Aceh, Jumat (24/10), Melda berusaha tersenyum.
kumparanNEWS
Melda Safitri usai berbincang dengan kumparan. Di akhir pertemuan, ia menulis curahan isi hatinya dalam selembar kertas. Dok: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Melda Safitri usai berbincang dengan kumparan. Di akhir pertemuan, ia menulis curahan isi hatinya dalam selembar kertas. Dok: kumparan
Air mata Melda Safitri (33 tahun) berderai tatkala menceritakan ulang kisahnya diceraikan suaminya, Jakfar Sidik. Saat ditemui kumparan di Banda Aceh, Jumat (24/10), Melda berusaha tersenyum.
“Saya harus kuat demi anak saya,” katanya pelan.
Beberapa pekan lalu, Fitri—begitu ia akrab disapa—mendadak viral dengan adegan menangis sambil menggendong dua anaknya, berpamitan dari Aceh Singkil sebelum pulang ke kampung halamannya di Aceh Selatan.
Fitri pun menulis curahan hati di akun Facebook-nya: “Dulu kamu ambil saya di sana, sekarang kamu lantarkan saya di sini dengan anak-anak. Setelah lulus PPPK, kamu ceraikan saya.”
Unggahan itu memantik simpati publik. Warganet menyoroti persoalan moral dan tanggung jawab seorang aparatur negara.
Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil bahkan turun tangan memanggil sang suami, seorang pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), untuk dimintai klarifikasi.
Fitri tak pernah menyangka curahan hatinya mendadak viral sejauh itu. “Saya cuma ingin meluapkan perasaan, bukan cari sensasi,” ujarnya lirih.
Namun dari sana, banyak tangan datang menolong. Salah satunya dari selebgram Sheila Syaukia, yang mengundangnya untuk datang ke Banda Aceh.
“Beliau peluk saya, bilang terus bangkit demi anak-anak. Diajak makan, bahkan didandani. Saya sempat nangis waktu itu,” tuturnya tersenyum.
Dari pertemuan itu, Fitri mendapat bantuan Rp 50 juta dan sebuah ponsel.
“Kak Sheila bilang, gunakan untuk usaha dan tetap semangat. Saya mau mulai dari nol. Alhamdulillah, semoga Allah membalas segala kebaikannya,” ucapnya.
Usai tiba di Banda Aceh, hari ini ia juga dijadwalkan berangkat ke Jakarta untuk menghadiri undangan podcast Denny Sumargo.
“Saya yang belikan baju KORPRI-nya.”

Suami Marah Tak Ada Nasi padahal Uang Belanja Belum Ada

Melda Safitri usai berbincang dengan kumparan. Di akhir pertemuan, ia menulis curahan isi hatinya dalam selembar kertas. Dok: kumparan
Fitri masih ingat betul tanggal 15 Agustus 2025, hari ketika rumah tangga yang ia bangun sejak 2020 runtuh seketika.
“Kami cuma bertengkar soal hal sepele,” katanya.
Sore itu, suaminya pulang kerja dengan wajah murung. “Dia marah karena enggak ada ikan dan nasi. Uang belanja juga belum dikasih. Saya cuma diam, enggak mau ribut,” ceritanya.
Namun situasi memburuk. Suaminya berkemas dan mengucapkan tiga talak sekaligus.
“Dia bilang, ‘Kamu saya ceraikan satu, dua, tiga.’ Saya hanya diam,” kenang Fitri.
Dua hari kemudian, tepat 17 Agustus, sang suami menerima surat keputusan pengangkatan sebagai PPPK.
Sebelum suaminya diangkat menjadi PPPK, Fitri ikut membantu ekonomi keluarga. Saat suaminya masih honorer dan bekerja sampingan sebagai nelayan, ia berjualan sayur, cabai, hingga kosmetik demi mencukupi kebutuhan rumah tangga dan membiayai dua anaknya yang masih kecil.
“Saya tahu, mungkin dia sudah enggak selera dengan saya. Tapi saya tetap berusaha. Saya makan seadanya, utang numpuk karena kebutuhan rumah tangga. Tapi saya tetap dukung dia,” ujarnya.
Ia bahkan menabung sedikit demi sedikit untuk membelikan baju KORPRI bagi suaminya yang akan dilantik.
“Saya nabung Rp 5 ribu, Rp 10 ribu. Waktu bajunya jadi, saya kasih ke dia. Tapi ternyata setelah itu, dia malah ceraikan saya. Hancur rasanya,” katanya sambil menahan air mata.
Jakfar Sidik (kiri, baju putih) saat diperiksa BKPSDM Aceh Singkil, Kamis (23/10/2025). Foto: Dok. BKPSDM Aceh Singkil
Setelah dua minggu ditinggalkan, Fitri mencoba mencari keadilan, termasuk ke Dinas Pemberdayaan Perempuan di Singkil, tapi hasilnya nihil.
Kemudian ia datang ke instansi tempat suaminya bekerja, Satpol PP dan WH Aceh Singkil, namun tak mendapat kepastian. Tiga kali ia datang, jawabannya sama, “Ini urusan keluarga.”
Mediasi juga sempat dilakukan tiga kali di tingkat desa. Pada 14 September, hasil musyawarah dan surat pernyataan perceraian memutuskan suaminya wajib menafkahi anak-anak sesuai aturan dan melunasi utang keluarga.
“Mamak saya cuma bilang, kalau kamu ambil anak saya di sana, antar pulang baik-baik,” ucapnya tegas.
Ia sempat terdiam lama saat ditanya perasaannya ketika mendengar kabar mantan suaminya dipanggil pihak Pemkab Aceh Singkil.
“Sebenarnya saya serahkan semuanya kepada yang berwenang. Kalau nanti dia benar-benar dipecat, saya sedih juga. Karena saya ikut berjuang dari awal untuk menafkahi anak-anak. Di sisi lain, saya juga sedih karena ditinggalkan begitu saja,” ujarnya.
Curahan isi hati Melda Safitri dalam selembar kertas. Dok: kumparan
Fitri kini tinggal bersama orang tuanya di Desa Pulo Ie I, Kecamatan Kluet Utara, Aceh Selatan. Ia mulai menata hidup dan berencana membuka usaha kecil di bidang skincare atau fesyen.
“Yang membuat saya bertahan cuma anak. Saya enggak mau dia merasa kehilangan segalanya,” ujarnya.
Fitri mengatakan, dari kisah yang viral itu, ia tak berniat mencari perhatian. Ia hanya ingin berbagi agar perempuan lain tak terjebak dalam luka yang sama.
“Kalau sudah di titik seperti saya, bangkitlah. Semangat demi anak-anak. Ikhlaskan yang sudah terjadi, dan koreksi diri masing-masing.
Untuk perempuan yang belum menikah, hati-hati memilih pasangan. Lihat karakter, tanggung jawab, dan kepeduliannya. Tidak ada yang sempurna, tapi pilihlah yang benar-benar tulus,” ujarnya.
Sebelum kami berpamitan, Fitri bergegas membereskan tasnya. Dia akan berangkat ke Jakarta memenuhi undangan Denny Sumargo.
“Saya enggak tahu mau bilang apa. Mungkin ini cara Allah kasih saya kesempatan bangkit,” tuturnya.
Trending Now