Mahasiswa Untag Geruduk Polda Jateng, Minta Kematian Dosen Diusut Tuntas
19 November 2025 20:20 WIB
·
waktu baca 3 menit
Mahasiswa Untag Geruduk Polda Jateng, Minta Kematian Dosen Diusut Tuntas
Mereka mendatangi Polda Jawa Tengah pada Rabu (19/11) sambil membawa poster besar bertuliskan “Justice for Levi”. kumparanNEWS

Mahasiswa dan alumni Universitas 17 Agustus 1945 Semarang (Untag) meminta Polda Jawa Tengah mengusut tuntas kematian dosen mereka, Dwinanda Linchia Levi (35 tahun). Mereka juga meminta polisi bertindak transparan.
Mereka mendatangi Polda Jawa Tengah pada Rabu (19/11) sambil membawa poster besar bertuliskan “Justice for Levi”.
Kedatangan mereka diterima Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto, Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jateng Kombes Pol Dwi Subagio, dan Kabid Propam Polda Jateng Kombes Pol Saiful Anwar.
Perwakilan mahasiswa, Antonius Fransiscus Polu, mengatakan ada sejumlah kejanggalan dalam kematian Levi, apalagi saksi kuncinya merupakan anggota polisi bernama AKBP Basuki.
“Ada kejanggalan kematiannya. Yang pertama, kita mendengar bahwasanya Bu Levi ini ada riwayat penyakit, tapi di TKP korban ini posisi bugil, terus hubungan Bu Levi ini dengan saksi kunci, kita belum mengetahui,” ujar Antonius di Polda Jateng, Rabu (19/11).
Ia membenarkan dosennya mengidap penyakit darah tinggi dan sebelumnya sempat kambuh. Namun, ia mempertanyakan mengapa korban meninggal dalam posisi telanjang.
“Tapi ada aktivitas ekstra yang menyebabkan jantungnya pecah. Yang menjadi kejanggalan ya itu lagi, posisinya tergeletak di lantai, bugil. (Apa aktivitas berlebihnya?) Nggak dijelasin, makanya kita nggak tahu,” katanya.
Selain itu, mengapa kasus ini baru dilaporkan siang hari, sementara AKBP Basuki mengetahui korban meninggal pada pagi hari.
“Jeda waktunya cukup lama. Jadi itu kejanggalan juga. Kemudian KK, itu satu alamat juga. Kita nggak tahu sampai saat ini hubungannya itu apa,” imbuhnya.
Ia mengungkapkan korban merupakan sosok dosen yang ramah dan tak pernah marah atau mengeluh. Karena itu, kematiannya yang mendadak menimbulkan tanda tanya besar.
“Tuntutan kita usut tuntas seterang-terangnya dan seadil-adilnya. Kalau ditanya tindak lanjutnya, pastinya pergerakan ini akan kita rawat sambil menunggu hasil penyidikan. Apabila hal ini tidak diindahkan, mau nggak mau akan ada aksi-aksi selanjutnya,” tegas Antonius.
Penjelasan Polda Jateng
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto menegaskan kasus tersebut masih terus didalami. Namun, ia menyebutkan masih dibutuhkan waktu untuk mengungkapnya.
“Kita masih proses pendalaman. Pendalaman butuh waktu. Kita melakukan proses penyelidikan dan penyidikan sesuai aturan. Kita pastikan bahwa kita bekerja sesuai aturan dan prosedur, tapi membutuhkan waktu, tidak ujug-ujug,” kata Artanto.
Ia menyebutkan, ada banyak pihak yang harus diperiksa agar kasus ini menjadi terang. Ia pun meminta waktu agar penyidik bisa bekerja maksimal.
“Kita mintakan petunjuk ke ahlinya. Seperti hp, kita cek ke forensik, kepolisian juga menunggu hasil autopsi, kita menunggu keterangan ahli pidana dan sosiologi. Ini butuh waktu, berproses. Teman-teman mahasiswa tolong pantau kami, beri masukan. Saat kami melakukan gelar perkara, saat itu akan terang benderang. Apa yang sudah dilakukan Reserse dan Propam, apakah ada tindak pidana, ini akan kita pertanggungjawabkan semua ke publik,” jelasnya.
